Selasa, 05 Mei 2015

laporan semester anfister



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, selalu saja ada kemungkinan rusak kesinambungan dinding pembuluh darah. Kecelakaan seperti luka tertusuk benda runcing, tersayat pisau dan sebagainya, dengan jelas memperlihatkan keluarnya darah sehingga selalu ada reaksi untuk menghentikannya. Bila tidak diatasi, ada kemungkinan akan menyebabkan kehilangan darah dan terjadinya infeksi. Tetapi untuk luka yang kecil yang terkadang bahkan tidak kita sadari, jarang sekali dilakukan upaya untuk menegndalikan luka itu. Misalnya pada kasus luka kecil di saluran cerna akibat memakan sesuatu yang keras dan runcing, misalnya tertelan duri ikan. Bisa saja hal ini akan menimbulkan infeksi bila tidak ada kesadaran dari individu itu sendiri untuk mengatasinya. Untunglah di dalam tubuh setiap manusia memiliki suatu mekanisme penanganan pendarahan atau hemostasis dan pembekuan darah atau koagulasi.
 Darah dalam istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato yang berrasal dari yunani haima yag berarti darah.  Dimana darah meupakan suatu caira yang terdapat pada semua jenis makhluk hidup ( kecuali tumbuhan ) tingkat tinggi dimana darah tersebut berfungsi untuk mengirimkan zat – zat dan oksigen dibutuhkan oleh jaringan tubuh, untuk mengangkut bahan – bahan kimia hasil metabolism dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Dalam darah terkandung hemoglobin  berfungsi untuk pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertyulang belakang atau invertebrata berukuran kecil, oksigen langsung meresap dalam plasma darah karan protein pembawa oksigen terlarut secara habis. Hemoglobin merrupakan protein pengakut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan bertulang belakang atau vertebrata. Hemoglobin yang bewarna biru mengandung tembaga dan digunakan oleh hewan crustaceae.
Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani haima artinya darah. Pemeriksaan hematologi digunakan untuk mengetahui sel-sel darah dan bagia n-bagiannya termasuk fungsi fisiologisnya, antara lain sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan sebagainya. Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan rutin, digunakan untuk pemeriksaan screening awal maupun pemeriksaan lanjutan.
Lebih dari 75 jenis pemeriksaan hematologi yang terbagi dalam Hematologi Rutin, Faal Hemostasis dan Hematologi Khusus telah mampu kami kerjakan dengan menggunakan instrumen berteknologi mutakhir flowcytometry dan Laser photo detector yang mampu menghitung dan mengidentifikasi sel-sel darah secara otomatis, berkecepatan tinggi, dan hasil analisis yang sangat akurat. Pada umumnya sampel darah diperoleh dari darah kapiler dan darah. Darah merupakan jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan matrik (plasma darah) yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik. Darah terdiri atas dua komponen utama, yaitu plasma dan sel-sel darah. Plasma darah merupakan bagian yang cair, terdiri atas serum dan fibrinogen. Sel-sel darah merupakan bagian darah yang padat, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit).
            Darah mempunyai fungsi sebagai alat pengangkut yaitu membawa sari-sari makanan keseluruh tubuh, mengangkut zat-zat sisa metabolisme. Darah juga berfungsi sebagai alat pertahanan tubuh, yaitu sel-sel darah putih yang berfungsi membunuh kuman penyakit, dan keping-kepimg darah dapat menutup luka. Selain itu darah juga berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh.         
Pembekuan darah disebut juga koagulasi darah. Faktor yang diperlukan dalam penggumpalan darah adalah garam kalsium sel yang luka yang membebaskan trompokinase,trombin dari protombin dan fibrin yang terbentuk dari fibrinogen. Mekanisme pembekuan darah adalah sebagai berikut setelah trombosit meninggalkan pembuluh darah dan pecah, maka trombosit akanmengeluarkantromboplastin. Bersama-sama dengan ion Ca tromboplastin mengaktifkan protrombin menjadi trombin(Evelyn, 2000).
Trombin adalah enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin inilah yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal (Poedjiadi, 2002).Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 2003).Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan kalium sitrat atau natrium sitrat yang menghilangkan garam kalsium (Schmidt, 2007).
Pembuluh darah yang terpotong atau rusak, maka akan terjadi penyempitan bagian yang terluka. Hal ini terjadi karena kontraksi miogenik otot polos sebagai suatu plasma lokal dan karena refleks simpatik yang merangsang serabut adrogenik yang menginversi otot polos dinding pembuluh lokal. Kontraksi ini membuat darah yang keluar dari pembuluh darah akan berkurang (Frandson, 2003).
Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit sampai beberapa jam.Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit.Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi (Schmid, 2007).Kisaran waktu pendarahan yang normal untuk manusia adalah 15 hingga 120 detik (Guyton, 2005).Trombosit melekat pada endotel pada tepi-tepi pembuluh yang rusak.Hal ini terjadi sampai elemen-elemen pembuluh darah yang putus menyempit. Penjedalan darah sangat penting dalam mekanisme penghentian darah (Guyton,2005).
Pemeriksaan hematologi merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan sebagai penunjang atau penegak diagnosis yang berkaitan dengan terapi dan prognosis (Sarkar&Devi, 2006).
Laju Endap Darah adalah kecepatan mengendapnya eritrosit dari suatu sampel darah yang diperiksa dalam suatu alat tertentu yang dinyatakan dalam mm/jam. LED sering juga diistilahkan dalam bahasa asing BBS (Blood Bezenking Snelheid), BSR (Blood Sedimentation Rate), ESR (Erytrocyte Sedimentation Rate) dan dalam bahasa indonesianya adalah KPD (Kecepatan Pengendapan Darah).(Sacher, 2004).
Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahappembentukan rouleaux, tahap pengendapan dan tahap pemadatan. Dilaboratorium cara untuk memeriksa Laju Endap Darah (LED) yang seringdipakai adalah cara Wintrobe dan cara Weetergren. Pada cara Wintrobe nilairujukan untuk wanita 0 — 20 mm/jam dan untuk pria 0 — 10 mm/jam, sedangpada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita 0 — 15 mm/jam dan untukpria 0 — 10 mm/jam. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju EndapDarah (LED) adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlaheritrosit/ul darah yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besardari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan LajuEndap Darah (LED) cepat.
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).
Pemeriksaan hematologi merupakan sekelompok pemeriksaan laboratorium yang terdiri atas beberapa macam pemeriksaan.Pemeriksaan darah rutin meliputi hemoglobin, jumlah lekosit, hitung jenis lekosit, Laju Endap Darah (LED).Pemeriksaan darah khusus meliputi gambaran darah tepi, jumlah eritrosit, hematokrit, indeks eritrosit, jumlah retikulosit dan jumlah trombosit (Budiwiyono, dkk, 2005).
Hematokrit adalah persentase volume seluruh eritrosit yang ada didalam darah yang diambil dalam volume tertentu atau volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan cara memutarnya didalam tabung khusus dalam waktu dan kecepatan tertentu yang nilainya dinyatakan dalam persen (%).Penetapan nilai hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan hematologi untuk mengetahui volume eritrosit dalam 100 ml darah, yang dinyatakan dalam persen (%) (Wirawan.R,2002)
Pigmen merah pembawa oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mnegandung suatu gugusan  heme yang dikonjungsi kesuatu peptida. Heme adalah suatu turunan porifirin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino.Fungsi hemoglobin dalam eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida.
Hemoglobin darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan oksigen udara yang terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut dilepaskan ke sel-sel jaringan tubuh.Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100 ml darah atau dalam gram persen.
Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair.Darah terdiri dari sel-sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air, ialah plasma.Sel-sel dan fragmen-fragmen sel merupakan unsur darah yang disebut unsur “jadi”.Sel-sel ini cukup besar sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa.Ada 3 tipe unsur “jadi” ialah sel-sel darah merah atau eritrosit, sel-sel darah putih atau leokosit dan keping-keping darah atau trombosit (Kimball, 2002).
Tes laboratorium yang paling umum adalah hitung darah lengkap (HDL) atau complete blood count (CBC). Tes ini, yang juga sering disebut sebagai ‘hematologi’, memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan trombosit (platelet). Hasil tes menyebutkan jumlah masing-masing dalam darah (misalnya jumlah sel per milimeter kubik) atau persentasenya.Semua sel darah dibuat di sumsum tulang.Beberapa obat atau penyakit dapat merusak sumsum tulang sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah dan putih.
Sel darah merah, yang juga disebut sebagai eritrosit, bertugas mengangkut oksigen dari paru ke semua sel di seluruh tubuh.Fungsi ini dapat diukur melalui tiga macam tes. Hitung Sel Darah Merah (red blood cell count/RBC) yang menghitung jumlah total sel darah merah.Hemoglobin (Hb) yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen dari paru ke bagian tubuh lain. Hematokrit (Ht atau HCT) mengukur persentase sel darah merah dalam seluruh volume darah.Pigmen merah pembawa oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin.
Sel darah putih (disebut juga leukosit) membantu melawan infeksi dalam tubuh kita.Hitung Sel Darah Putih (white blood cell count/WBC) adalah jumlah total leukosit.Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) umumnya berarti tubuh kita sedang melawan infeksi.Leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang.Leukosit rendah, yang disebutleukopenia atau sitopenia, berarti tubuh kita kurang mampu melawan infeksi.
Jantung (bahasa latin, cor) adalah sebuah rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani cardia untuk jantung.Ukuran jantung manusia kurang lebih sebesar kepalan tangan seorang laki-laki dewasa.Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan endothelium.Jantung terletak di dalam rongga thoracic, dibalik tulang dada atau sternum. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit kearah kiri(Harmoko.2010)
Dalam proses perkembangannya, makhluk hidup sangat tergantung pada berfungsinya system kardiovaskuler secara optimal, dan kelainan yang terjadi pada system ini akan menyebabkan konsekkwensi klinik serius. Jantung sangat berperang penting bagi kehiudan manusia karena jantung memiliki fungsi vital yaitu untuk memompakan darah ke seluruh tubuh atau jaringan tubuh.Darah yang dipompa menghantarkan nutrisi dan o2 ke jaringan untuk kelangsungan hidupnya, sehingga jaringan dapat hidup dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.
Denyut nadi dan tekanan darah merupakan hal yang amat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya di bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah merupakan faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan daya dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri sewaktu darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastol adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri sewaktu darah mengalir keluar pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang dinding pembuluh darah.
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini tidak lazim digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap saat.
  Denyut nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik. Dengan mengamati serta mempelajari hasil pengaruh perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian gambaran mengenai sistem kardiovaskuler seseorang.
Denyut nadi dan tekanan darah merupakan hal yang sangat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan khususnya di bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah merupakan faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan daya dorong terhadap darah dan tidak bisa terlalu tinggi yang dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri saat darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastole adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri saat darah mengalir keluar pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang dinding pembuluh darah (Despopoulos, Agamemnon.2003)
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini tidak lazim digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap saat.
Detak jantung atau juga dikenal dengan denyut nadi adalah tanda penting dalam bidang medis yang bermanfaat untuk mengevaluasi dengan cepat kesehatan. Setiap orang bisa mengukur denyut jantungnya sendiri tanpa perlu menggunakan stetoskop. Untuk mengukur denyut jantung di rumah bisa dengan cara memeriksa denyut nadi. Tempatkan jari telunjuk dan jari tengah pada pergelangan tangan atau tiga jari pada sisi leher. Saat merasakan denyut nadi, lihatlah jam untuk mneghitung jumlah denyut selama 15 detik. Hasil yang didapatkan di kalikan empat, maka didapatkan jumlah denyut jantung Anda permenit.
Denyut nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik.
Dengan mengamati dan mempelajari hasil pengaruh perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian gambaran tentang sistem kardiovaskuler seseorang.

1.2 Tujuan dan Manfaat
            Tujuan dari praktikum preparat natif darah adalah untuk unntuk mengamati, memperhatikan bentuk sel darah (eritrosit dan leukosit) mamalia dan unggas, mengamati ada tidaknya sel yang mengalami pengkerutan (krenasi), dan bentuk rouleaux, dan mengamati ada tidaknya mikroorganisme didalam tubuh.
            Sedangkan manfaat dari praktikum preparat natif darah adalah kita dapat melihat langsung bentuk sel darah merah (eritrosit dan leukosit) dari hewan mamalia dan unggas melalui mikroskop, dan dapat memahami serta melihat bentuk sel yang mengalami pengkerutan (krenasi) dan bentuk sel yang rouleaux
Tujuan dari praktikum waktu perdarahan adalah untuk mengetahui waktu perdarahan dengan metode duke. Sedangkan tujuan dari waktu beku darah adalah untuk menentukan waktu beku darah (waktu koagulasi darah) ternak atau manusia.
Manfaat dari praktikum waktu perdarahan dan waktu beku darah yaitu kita bisa mengetahui waktu perdarahan yang normal, dan sebab mengapa waktu perdarahan yang tidak normal dapat terjadi. Dan juga, kita bisa mengetahui proses terjadinya waktu beku darah.

Tujuan dari praktikum laju endap darah ini adalah untuk menentukan laju endap darah dengan menggunakan tabung wastergreen, sedangkan tujuan dari praktikum hemolisis adalah untuk mengamati hemolisis darah dan keriput pada membrane peritrosit (krenasi) akibat perubahan laruta medium darah dan untuk menentukan batas konsentrasi NaCL dari medium dimana eritrosit mulai lisis (minimum resistence) dan hemolisis total (maximum resistence).
Manfaat dari praktikum laju endap darah dan hemolisis adalah mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara pengambilan sampel yang representatif dan benar dan bagaimana cara menghitung kadar air dan berat bahan kering.

Tujuan dari praktikum hematokrit adalah untuk menentukan nilai hematokrit (% volume eritrosit didalam darah) dengan metode mikrohematokrit. Tujuan dari hemoglobin adalah untuk menentukan kadar hemoglobin didalam darah menurut metode sahli.
Manfaat dari praktikum hematokrit dan hemoglobin adalah mahasiswa dapat mengetahui nilai hematokrit dan kadar hemoglobin pada hewan dan nilai normal hematokrit dan kadar normal hemoglobin.

Tujuan dari praktikum menghitung jumlah sel darah adalah untuk mengetahui jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih sapid an ayam per mm3 darah.
Manfaat dari praktikum menghitung jumlah sel darah adalah untukmengetahui bagaimana cara menghitung jumlah sel darahmerah dan putih pada sapi , ayam dan kambing.
Tujuan dari praktikum pemeriksaan tekanan darah yaitu mempelajari cara pengukuran tekanan darah secara tidak langsung. Tujuan pada praktikum bunyi jantung yaitu untuk mendengarkan bunyi jantung, dan tujuan pada praktikum test kemampuan fisik adalah untuk menentukan kemampuan fisik (kesehatan) seseorang dengan menilai kesanggupan jantung dan paru-parunya melalui frekuensi denyut nadi setelah melakkan suatu latihan/kegiatan.
            Manfaat dari praktikum pemeriksaan tekanan darah adalah kita mengetahui bagai mana cara pengukuran tekanan darah secara tidak langsung. Tujuan pada praktikum bunyi jantung yaitu untuk mendengarkan bunyi jantung, dan tujuan pada praktikum test kemampuan fisik adalah untuk menentukan kemampuan fisik (kesehatan) seseorang dengan menilai kesanggupan jantung dan paru-parunya melalui frekuensi denyut nadi setelah melakkan suatu latihan/kegiatan.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. (Al-Sadi dan Hussein 2010)
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah. Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. (Hoffbrand, A.V & Petti, J.E 2007)
Darah memiliki dua komponen penyusun yaitu plasma dan sel darah. Plasma darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60% dari volume darah, sedangkan sel darah adalah komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (Leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang mengalir ke seluruh tubuh melalui vena dan arteri yang memasok oksigen, dan bahan makanan ke seluruh jaringan tubuh serta mengambil karbondioksida dan sisa metabolisme dari jaringan (Anonim, 2009).
Waktu pendarahan adalah interval waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah.Penghentian pembuluh darah ini disebabkan terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak.(Dsyoghi, 2010)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik.(Dsyoghi, 2010)
Perdarahan yang hebat dapat terjadi karena kegagalan dalam mekanisme pembekuan darah normal. Bekuan mulai terbentuk dalam 15 sampai 20 detik bila trauma pembuluh sangat hebat, dan dalam 1 sampai 2 menit bila traumanya kecil. (Puzzy, 2009)
Perdarahan yang spontan juga dapat terjadi karena kegagalan untuk membentuk sumbatan eritrosit.Perdarahan kemudian dapat terjadi karena pergerakan otot biasa atau trauma minimal.(Indah, 2008)
Perdarahan dapat dihentikan dengan cara pembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk disekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikannya. (Puzzy, 2009)
Tabung kapiler dengan anti koagulan dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan seperti darah kapiler, sedangkan tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai bila menggunakan darah dengan anti koagulan seperti darah vena (Khairul,2007)
Menurut Campbell (2003), proses penggumpalan darah dimulai ketika endothelium pembuluh MisaK akibat adanya luka dan jaringan ikat pada dinding terpapar ke darah. Trombosit menempel ke wa'. Kolagen dalam jaringan ikat tersebut dan mengeluarkan fibrinogen yang membuat trombosit riaur-a berdekatan dan menjadi lengket, Trombosit selanjutnya membentuk sumbat yang memberikan reriindungan darurat sehingga tidak terjadi kehilangan darah.Penutupan ini diperkuat oleh gumpalan.
Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit (Wibowo, 2009)
Cormack. (2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
Faktor terpenting pemeriksaan LED adalah tabung harus betulbetul tegak lurus, perubahan dan menyebabkan kesalahan sebesar 30%. Selain itu selama pemeriksaan rak tabung tidak boleh bergetar atau bergerak. Panjang diameter bagian dalam tabung LED juga mempengaruhi hasil pemeriksaan.(Bajpai,2009).
Pembacaan metode westergren dilihat dengan panjangnya kolomplasma di atas tiang eritrosit dengan memperhatikan beberapa hal yaituwarna plasma di atas eritrosit, kejernihan plasma misalnya menjadi keruholeh karena hiperlipemia, lapisan leukosit pada kolom eritrosit akanmeningkat oleh leukositosa dan leukimia, tajamnya batas antara darah danplasma yang menjadi tidak tajam oleh anisositosa (Wagener, 2002).Penting sekali untuk menaruh pipet atau tabung LED dalam sikap tegaklurus, selisih kecil dari garis vertikal sudah dapat berpengaruh banyakterhadap hasil LED. (Hendrayani,2007)
Cormack. (2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
Sarkar & Devi (2006) menyatakan bahwa hemolisis secara langsung tidak dibutuhkan penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak langsung kehadiran lesitin pada sel darah merah atau penambahan dari luar sangat diperlukan.Secara umum, mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap. Tahap pertama lesitin dalam sel darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah menjadi lisolesitin oleh lesithinase A.  Lisolesitin merupakan bentuk lesitin yang  memiliki aktivitas hemolitik. Selanjutnya, lisolesitin menyebabkan sel darah merah lisis dengan menyerap material lemak dinding sel  sehingga merusak keutuhan struktur sel darah.
 Hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan disekelilingnya, keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah.Membran sel darah termasuk membran yang permeabel selektif. Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan substansi seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik, hemoglobin dan protein plasma (Watson, 2007).
            Ada dua macam hemolisis yaitu hemolisis osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada disekeliling sel darah merah. Tekanan osmosa sel darah merah adalah sama dengan osmosa larutan NaCl 0, 9 %, bila sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 8 % belum terlihat adanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 4 % hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisis dan sebagian lagi sel darah merahnya masih utuh. Perbedaan ini desebabkan karena umur sel darah merah yang sudah tua, membran sel mudah pecah, sedangkan se darah merah yang muda, membran selnya masih kuat. Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0, 3 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa sempurna. Yang kedua, hemolisis kimiawi membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking, dan garam empedu. (Wulangi, 2009)
Sel darah merah yang berada di luar cairannya dapat mempertahankan bentuknya apabila dimasukkan dalam cairan yang isotonis dengan sitoplasmanya. Apabila sel darah merah berada di dalam cairan yang hipertonis maka sel darah merah akan mengalami pengerutan (krenasi), apabila sel darah merah berada dalam cairan yang bersifat hipotonis maka sel akan pecah dan hemoglobin akan ke luar (hemolisis) (Srikini,2000).
Frandson (2000) menyatakan bahwa keping-keping darah atau trombosit bentuknya tidak teratur, tidak memiliki inti sel atau nucleus dan sifatnya mudah pecah.
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan hematokrit sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus untuk mikro hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai 1,5 mm. Ada pula tabung yang sudah dilapisi heparin, tabung tersebut dapat dipakai untuk darah kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin yang dipergunakan untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena (Gandasoebrata, 2007).
Metode pemeriksaan secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifugedalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah dalam keadaan mapat.Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit (Gandasoebrata, 2007).
Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau pecahan desimal (Simmons A, 2001). Penetapan nilai hematokrit cara manual dapat dilakukan dengan metode makrohematokrit atau metode mikrohetokrit. Pada cara makrohematokrit digunakan tabung Wintrobe yang mempunyai diameter dalam 2,5 – 3 mm,panjang 110 mm dengan skala interval 1 mm sepanjang 100 mm dan volumenya ialah 1 ml. pada cara mikrohematokrit digunakan tabung kapiler yang panjangnya 75 mm dan diameter dalam 1 mm, tabung ini ada dua jenis, ada yang dilapisi antikoagulan Na2EDTA atau heparin dibagian dalamnya dan ada yang tanpa koagulan. Tabung kapiler dengan anti koagulan dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan seperti darah kapiler, sedangkan tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai bila menggunakan darah dengan anti koagulan seperti darah vena (Wirawan,dkk 2002). Metode mikrohematokrit mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana.Metode mikrohematokrit proporsi plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat pembaca skala hematokrit.
Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan dilaboratorium berguna untuk membantu diagnosa berbagai penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), anemia, polisitemia. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Pada cara makro digunakan tabung wintrobe, sedangkan pada cara mikro digunakan pipet kapiler (Wirawan, dkk, 2002).
Eritrosit merupakan sarana transportasi gas oksigen dan karbondioksida.Hal ini disebabkan karena eritrosit memiliki pigmen hemoglobin.Hemoglobin mampu mengikat O2dan CO2 (Praseno et al, 2003). 
Hemoglobin merupakan zat padat dalam eritrosit yang menyebabkan warna merah.Dibandingkan dengan sel-sel lain dalam jaringan, eritrosit kurang mengandung air. Tekanan osmosis dalam sel sama dengan tekanan osmosis pada plasma. Bila terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan di luar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besar sel. Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk ke dalam sel dan sel akn bertambah besar kemudian pecah dan hemoglobin akan keluar dari sel. Proses ini disebut hemolisis. Proses ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti adanya pelarut lemak misalnya eter dan kloroform (Poejiadi, 2004).
            Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen (O2) maupun karbondioksida (CO2).Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke sel-sel jaringan yang terdapat didalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi, yang membutuhkan besi dalam bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi tersebut menuju sumsum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna membentuk eritrosit (Frandson, 2002).
Kadar hemoglobin pada umumnya diukur dalam gram per 100 ml darah. Karena adanya hemoglobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama(Smith, 2008).
Pada dasarnya sel-sel darah dapat dibagi atas tiga unsur erytrosit, leukosit dan trombosit.Diantara tipe tersebut, sel-sel darah merah merupakan yang paling banyak jumlahnya (Raharjo, 2008).
Fungsi utama dari sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit, adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga mempunyai fungsi lain. Contohnya, ia mengandung banyak sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara karbon dioksida dan air, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah bereaksi dengan banyak sekali karbon dioksida, dan dengan demikian mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonakt (HCO3-) (Lehninger. 2004)
Prinsip pemeriksaan ini adalah darah diencerkan dalam pipet eritrosit kemudian dimasukkan dalam kamar hitung.Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan faktor konversi jumlah eritrosit per ul darah.Sebagai larutan pengencer digunakan larutan Hayem (Gandasoebrata, 2009).
Eritrosit dapat dihitung di laboratorium dengan menggunakan alat, yaitu hemositometer dan  menggunakan larutan hayem. Larutan hayem digunakan untuk menghitung jumlah sel darah merah, karena larutan ini dapat melisiskan seluruh sel yang ada di darah, kecuali sel darah merah sehingga sel darah merah dapat dihitung (Aida, 2005).
Komposisi sel darah putih dengan nilai normalnya yaitu Leukosit pada manusia memiliki nilai normalnya 5000 – 10.000/μL, dimana leukosit terdiri dari granular meliputi netrofil 60 – 70%, eosinofil 2 – 4%, basofil 0.5 – 1%; dan Agranular meliputi limposit 20 – 25% dan monosit 3 – 8% (Azhar, 2009).
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain-lain . Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000—30.000/μl.Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 — 38.000 /μl.Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 — 11.000/μl.Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 — 10.0004/μ1.’Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/μl4 (Miale, 2002).
            Larutan yang digunakan dalam menghitung jumlah sel darah putih yaitu larutan turk. Larutan turk adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel darah putih sehingga mempermudah dalam perhitungannya, dimana larutan turk ini terdiri dari glacial acetid acid 2 ml, gentian violet 1%, aquades 1 ml dan aquadestilata 100 ml (Azhar, 2009).
Sel-sel darah merah berbentuk cakram dengan diameter 75 nm, ketebalan di tepi 2 nm dan ketebalan di tengah 1 nm.Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang.Sel-sel pembentuk sel darah merah ini disebut eritroblast, tetapi pada embrio (bayi), sel-sel darah merah dibentuk di dalam hati dan limpa (Ahmadi, 2010).
Sistem kardiovaskuler terdiri dari jantung dan dua sistem veaskuler, sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonalis. Jantung selanjutnya memompa darah ke kedua sistem vastikuler - sirkulasi tekanan pulmonalis lambat dimana disini terjadi pertukaran gas, dan kemudian sirkulasi sistemik, dimana darah dialirkan ke setiap organ, sesuai suplai dari permintaan metabolisme.Tekanan darah dan aliran darah berperan penting untuk mengontrol melalui nervus otonom sistem. Dan juga berpengaruh pada pembedahan dan anatesi obat.pengetahuan yang baik tentang fisiologi kardiovaskuler merupakan kebutuhan untuk anastesi praktis yang baik (benar) (Guyton and Hall,2006).
Bunyi jantung secara tradisional digambarkan sebagai lup-dup dan dapat didengar melalui stetoskop. “Lup” mengacu pada saat katup A-V menutup dan “dup” mengacu pada saat katup semilunar menutupHitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Tekanan darah adalah tekanan yang diberikan oleh darah setiap satuan luas pada pembuluh darah. Tekanan darah  terdiri atas tekanan sistol dan diastol. Tekanan dipengaruhi oleh curah jantung dengan resistensi perifer.Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh tiap – tiap ventrikel per menit.Dua faktor penentu curah jantung adalah kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup.Semakin teregang jantung, semakin meningkat panjang serat otot awal sebelum kontraksi. Peningkatan panjang menghasilkan gaya yang lebih kuat pada kontraksi jantung berikutnya dan dengan demikian dihasilkan volume sekuncup yang lebih besar. Hubungan intrinsik antara volume diastolik akhir dan volume sekuncup ini dikenal sebagai hukum Frank – Starling  pada jantung ( Febrinanda, 2008 ).
Tekanan darah adalah gaya yang darah berikan terhadap dinding pembuluh darah. Selama sistol, gaya pada dinding pembuluh darah yang terbesar; sewaktu diastole, jatuh ke titik terendah. Pengukuran tekanan darah adalah rasio dari kedua tekanan (Pearce, Evelyn.2008).
Tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang pertama adalah curah jantung.Tekanan terhadap dinding arteri lebih besar sehingga volume aliran darah meningkat. Faktor kedua yang mempengaruhi tekanan darah resistensi perifer, atau resistensi terhadap aliran darah dalam arteri kecil dari tubuh (arteriol). Resistensi perifer dipengaruhi oleh visikositas (ketebalan) dari sel-sel darah dan jumlah plasma darah. Visikositas darah yang sangat tinggi menghasilkan tekanan darah tinggi.Selain itu, tekanan darah dipengaruhi oleh struktur dinding arteri. Jika dinding telah rusak, jika tersumbat oleh endapan limbah, atau jika telah kehilangan elastisitas, tekanan darah akan lebih tinggi. Tekanan darah tinggi, disebut hipertensi, yaitu akibat curah jantung terlalu tinggi atau resistensi perifer terlalu tinggi(Taylor, Sheller E.2003).
Tekanan darah dalam arteri brakialis pada orang muda dewasa pada posisi duduk istirahat duduk atau berbaring menedekati 120/70 mm Hg. Cukup kelihatan lebih rendah pada malam hari dan pada perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Karena tekanan arteri adalah hasil curah jantung dan tekanan perifer, dipengaruhi oleh kondisi yang mempengaruhi salah satu atau kedua faktor tersebut.Emosi misalnya meningkatkan curah jantung, dan mungkin sulit menentukan tekanan darah istirahat sebenarnya pada orang yang gelisah atau tegang. Secara umum, peningkatan curah jantung meningkatkan tekanan sistolik, sedangkan peningkatan tahanan perifer meningkatkan tekanan diastolic (Dedy.2009)
Berbagai penelitian membuktikan bahwa daya tahan kardiorespirasi adalah salah satu indikator obyektif dalam mengukur aktivitas fisik seseorang dan merupakan komponen terpenting dalam meningkatkan kebugaran jasmani seseorang. Olahraga menyebabkan perubahan besar dalam sistem sirkulasi dan pernapasan, dimana keduanya berlangsung bersamaan sebagai bagian dari respon homeostatik. Respon tubuh terhadap olahraga yang melibatkan kontraksi otot dapat berupa peningkatan kecepatan denyut jantung (Necel, 2009).
. Bunyi ketiga atau keempat disebabkan vibrasi yang terjadi pada dinding jantung saat darah mengalir dengan cepat ke dalam ventrikel, dan dapat didengar jika bunyi jantung diperkuat melalui mikrofon. Murmur adalah kelainan bunyi jantung atau bunyi jantung tidak wajar yang berkaitan dengan turbulensi aliran darah. Bunyi ini muncul karena defek pada katup seperti penyempitan (stenosis) yang menghambat aliran darah ke depan, atau katup yang tidak sesuai yang memungkinkan aliran balik darah (Sloane, 2004).
Laskowski (2010) menambahkan ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi jumlah denyut jantung seseorang, yaitu aktivitas fisik atau tingkat kebugaran seseorang, suhu udara disekitar, posisi tubuh (berbaring atau berdiri), tingkat emosi, ukuran tubuh serta obat yang sedang dikonsumsi. Denyut jantung seseorang juga dipengaruhi oleh usia dan aktivitasnya. Olahraga atau aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah denyut jantung, namun jika jumlahnya terlalu berlebihan atau di luar batas sehat dapat menimbulkan bahaya.
Ventrikel kembali menjadi rongga tertutup dalam periode relaksasi isovolumetrik karena katup masuk dan katup keluar menutup. Jika tekanan dalam ventrikel menurun tajam 100 mmHg sampai mendekati nol, jauh di bawah tekanan atrium, katup A-V membuka dan siklus jantung dimulai kembali. (Ethel Sloane,2004)
Pada Harvard Step Test menggunakan parameter waktu lama kerja dan frekuensidenyut nadi, Denyut nadi dapat diketahui dengan menghitung denyut arteri radialis, suaradetak jantung, atau dengan bantuan eleftrokardiogram. Dengan memakai kedua factor tersebut dapat dihitung indeks kesanggupan badan, yang dibedakan antara kesanggupan kurang sampai kesanggupan amat baik ( Sherwood, L. 2001).
Osmoregulasi adalah kemampuan organisme untuk mempertahankan keseimbangan kadar dalam tubuh, didalam zat yang kadar garamnya berbeda. (Kashiko.2000:389)
Secara sederhana hewan dapat diumpamakan sabagai suatu larutan yang terdapat di dalam suatu kantung membran atau kantung permukaan tubuh.
Penyebab penting dari peningkatan tekanan sistolik adalah penurunan distensibilitas arteri; pada tingkat yang sama dengan curah jantng, tekanan sistolik lebih tinggi pada orang tua dibandingkan orang muda karena peningkatan volume dari sistem arteri selama sistolik lebih sedikit untuk mengakomodasi jumlah darah yang sama(Ganong, William F.2002).
Faktor-faktor yang mempertahankan Tekanan Darah :a) Kekuatan memompa jantung.b) Banyaknya darah yg beredar.c) Viskositas darah.d) Elastisitas dinding pembuluh darah.e) Tahanan tepi.Faktor yang mempengaruhi denyut nadi :a) Posisi : lebih cepat jika berdiri dibanding tiduran.b) Umur : anak lebih cepat dari pada dewasa.c) Jenis kelamin : pria lebih cepat dari pada wanita.d) Exercise : exercise akan meningkatkan.e) Emosi : emosi kuat akan meningkatkan pulse(Syaifuddin.2009)
            Keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri, arteriola, kapiler, venula dan vena.Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi.Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah di antara denyut jantung.Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu(Moca.2010).
Jantung adalah organ vital terpenting yang berfungi memompa darah ke seluruh tubuh yang membentuk sistem sirkulasi darah dalam tubuh bersama pembuluh daraharteri dan pembuluhdarah vena.Selain organ-organ yang telah disebutkan di atas masih ada lagi organ vital yangmembentuk sistem di dalam tubuh yang memiliki fungsi penting untuk kelangsungan hidup manusia. Dalam praktikum anatomi fisiologi manusia, mahasiswa dikenalkan mengenai organ-organ dalam melalui alat peraga (Shier, David.2004)
Dalam keadaan normal terdengar dua bunyi jantung melalui sebuah stetoskop selama setiap siklus jantung, suara pertama berbunyi "lub" yang bernada rendah dan sedikit memanjang dan disebabkan oleh getaran yang ditimbulkan oleh penutupan mendadak katup mitralis dan trikuspidalis pada awal sistolik ventrikel.Suara kedua adalah "dup". Yang lebih singkat dan bernada tinggi yang disebabkan oleh getaran pada penutupan katup aorta dan pulmonaris tepat setelah akhir sistolik ventrikel.Pada orang dewasa muda, terdengar bunyi ketiga yang lembut dan bernada rendah pada sekitar sepertiga jalan menuju diastolik. Suara ini bersamaan dengan periode pengisian cepat ventrikel dan mungkin disebabkan oleh getaran yang ditimbulkan oleh aliran darah masuk.Kadang-kadang terdengar bunyi keempat sesaat sebelum bunyi pertama saat tekanan atrium tinggi atau ventrikel kaku dalam keadaan seperti hipertrofi ventrikel. Bunyi ini disebabkan oleh pengisian ventrikel dan jarang terdengar pada orang dewasa normal (Hermanto, Edy.2010).
Tes Harvard merupakan tes ketahanan terhadap kardiovaskuler.Tes ini menghitung kemampuan untuk berolahraga secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa lelah. Subjek (orang yang meelakukan tes) melangkah naik dan turun pada papan setinggi 45 cm. jumlah langkah yaitu 30 langkah permenit dalam 5 menit atau sampai subjek kelelahan. Kelelahan adalah ketikaa saat subjek tidak mampu lagi mempertahankan langkahnya dalam 15 detik. Subjek didudukkan dan merupakan akhir dari tes, dan denyut jantungnya kemudian dihitung dalam 1 sampai 1,5, 2 sampai 2,5, dan 3 sampai 3,5 menit (Nurmila, 2008).












BAB III
MATERI DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat Pratikum  Anatomi dan Fisiologi Ternak mengenai Preparanatif darah, waktu perdarahan, Waktu beku darah, Laju endap darah, Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit, hematokrit, Hemoglobin, Menghitung Jumlah Sel Darah, Diferensial leukosit, dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 Maret – 25 April 2015, pukul 07.30 WIB Sd s/d selesai. Bertempat di Laboratorium Anatomi dan Fisiologi Ternak  Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

3.2 Materi
Preparat Natif Darah
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum preparat natif darah adalah alcohol 70%, larutan garam faali (NaCl fisiologis/NaCl 0.9%), darah sapi, kambing dan ayam yang sudah dibari antikoagulan, jarum penusuk pembuluh darah, kapas, kertas tisuue, kaca benda (object glass, kaca penutup (cover glass), dan mikroskop.

Waktu Perdarahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum waktu perdarahan dan waktu beku darah yaitu lanset steril, kapas atau tissue, alcohol 70%, alat pencatat waktu (stopwatch), jarum pentul, gelas arloji berlapis parafin, pipa kapiler tanpa heparin, ujung jari praktikan, darah sapi, kambing dan ayam.
Waktu Beku Darah
Alat dan bahan yang digunakan pada waktu beku darah adalah alcohol 70 %, lanset steril, Jarum Pentul, gelas arloji berlapis parafin, pipa kapiler tanpa heparin , kapas, alat pencatat waktu ( stopwatch).
Laju Endap Darah
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum laju endap darah dan hemolisis yaitu darah sapi, kambing dan ayam yang sudah diberi anti koagulan, tabung wastergreen dengan raknya, larutan NaCL dengan konsentrasi 0,9%, 0,65%, 0,45%, 0,25%, dan 3,0%, darah sapi, kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, tabung reaksi (5buah), object glass, pipet pasteur dan mikroskop.

Hemolisis dan Ketahanan Osmotik
            Adapun alat dan bahan yang di gunakan pada hemolisis adalah larutan nacl dengan konsentrasi 0,9%, 0,65%, 0,45%, 0,25%, dan 3,0%, larutan 1% urea dalam aquades, larutan 1% saponin dalam NaCl 0,9%, Darah Sapid an Ayamyang sudah diberi anti koagulan. Tabung raksi 10 buah, objek glass, cover glass, pipet pastur dan mikroskop.
Adapun pada ketahanan osmotic adalah  Larutan Nacl 1% dan Aquadestilata, 20 tabung reaksi besrta raknya ,pipet, glass object, kaca penutup dan mikroskop.

Hematokrit
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum hematokrit pipet kapiler, darah ayam , sapi, dan kambing, lilin penyumbat dan sentrifus.

Hemoglobin
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum hemoglobin adalah darah sapi , ayam kambing ,yang telah diberi anti koagualan, Hcl 0,1 N, dan Aquades, Kertas saring, Pipet pastur, pengukur waktu. Hemometer SAhli terdiri dari tabung sahli, pipet sahli, standar warna pengaduk.

Menghitung Jumlah sel Darah
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum meghitung jumlah sel darah yaitu darah sapi, kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, larutan pengencer (larutan Hayem untuk eritrosit, larutan Turk untuk leukosit mamalia dan larutan BCB (Briliant Cresyl Blue) untuk unggas), Hemocytometer, pipet pengencer untuk eritrosit berskala 0-0.5-1-101, pipet pengencer untuk leukosit berskala 0-0.5-1-11, tissue/kertas saring, mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x.


Diferensial Leukosit ( Leukogram)
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum diferensial leukosit (leukogram) yaitu, darah sapi, kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, methanol absolute, larutan Giemsa, aquadest, minyak emersi, object glass, bak celup untuk fiksasi dan bak celup untuk pewarnaan, differensial counter, dan mikroskop.

3.3 Metoda
Preparat Natif Darah
            Metoda yang dilakukan pada preparat natif darah yaitu, pertama-tama bersihkan alat-alat yang akan digunakan, kemudian bersihkan ujung jari praktikan atau lokasi pengambilan darah pada ternak dengan alcohol 70%.  Teteskan 1-2 tetes larutan fisiologis (NaCl 0.9%) pada object glass, setelah itu ambil darah sapi kemudian teteskan darah pada object glass yang sudah diberi antikoagulan. Campur dengan hati-hati dan tutup dengan cover glass. Amatilah dengan mrenggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x, kemudian lakukan hal yang sama  dengan menggunakan darah kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan. Gambarkan lah hasil pengamatan saudara yang dilihat pada mikroskop.
Waktu Perdarahan
            Metoda yang dilakukan pada waktu perdarahan yaitu, pertama-tama bersihkan ujung jari praktikan dengan alcohol 70% kemudian bersihkan dengan kapas atau tissue bersih, lalu tusuk ujung jari praktikan menggunakan lanset steril hingga mengeluarkan darah. Catat waktu dari saat darah mulai keluar sampai perdarahan berhenti dan usaplah darah tersebut dengan kapas/tissue. Kemudian biarkan darah keluar lagi,.Lakukan kegiatan tersebut sampai 30 detik sampai darah tidak keluar atau terhenti, dan catat waktu perdarahan (waktu satu) sampai perdarahan berhenti (waktu dua).
Waktu Beku Darah
            Metoda yang dilakukan pada waktu beku darah yaitu pertama bersihkan ujung jari praktikan atau alokasi pengambilan darah pada ternak, kemudian tusuk dengan lanset steril pada ujung jari dan catat waktu pada saat darah keluar.Letakkan 1-2 tetes darah ke gelas arloji yang berlapis parafin.Dengan menggunakan jarum pentul, tusuklah kedalam darah dan angkat. Lakukan hal tersebut setiap 0,5 menit sampai terlihat benang putih (fibrin) dan catat waktunya. Waktu mulai darah keluar dari pembuluh darah sampai terbentuk benang putih disebut waktu beku darah.


Laju Endap Darah
Metoda yang dilakukan pada laju endap darah (LED) yaitu sampel darah dihisap dengan tabung wastergreen sampai angka 0.Kemudian tegakkan pada rak.Tiap 30 menit catat penurunan dari sel-sel darahnya, lalu buatlah grafik LED dari 0-90 menit.
Hemolisis
            Metoda yang dilakukan pada hemolisis yaitu pertama beri nomor /kode pada setiap tabung (1-5). Isi setiap tabung tersebut masing-masing 5ml, tambahkan 3 tetes darah kedalam setiap tabung dan biarkan selama 30 menit. Periksa/amati warna dan kekeruhan larutan didalam tabung. Warna merah cerah menunjukkan adanya hemolisis. Untuk memastikan adanya hemolisis dilakukan secara mikroskopis. Catat hasil pengamatan pada tabel. Tanda (+) bila terlihat jelas adanya hemolisis, tanda (-) bila belum terlihatnya hemolisis. Tulis tanda (=) apabila jumlah relatif sama banyak dengan control, tanda (>) apabila relatif lebih banyak dan tanda (<) apabila relatif lebih dikit.
Hematokrit
Metoda yang dilakukan pada hematokrit yaitu hisap darah dengan hawkslay sampai jarak 1 cm dari ujung bagian atas. Sumbat ujung pipa kapiler dengan menggunakan chrysta seal, lilin atau sabun. Tempatkan pipa kapiler kedalam sentrifuse mikro hematokrit dengan ujung pipa kapiler yang terbuka menghadap ketengah.Sentrifuse selama 5 menit dengan kecepatan 12.000rpm.keluarkan pipa kapiler dari sentrifuse dan baca nilai hematokritnya dengan menggunakan reader hematokrit.
Hemaglobin
            Metoda yang dilakukan pada hemoglobin yaitu isikan HCl 0,1 N (± 5 tetes) kedalam tabung sahli sampai angka 10 (garis paling bawah). Hisaplah darah dengan pipet sahli sampai angka 20µl. Bersihkan darah yang menempel pada ujung luar pipet sahli dengan kertas saring/tissue, kemudian masukkan darah tersebut kedalam tabung sahli yang sudah berisi HCl 0,1 N. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. Biarkan beberapa saat sampai warna coklat terbentuk.Tambahkan setetes demi setetes aquades sambil diaduk samapai warna sesuai dengan batang standar.Persamaan warna dengan batang standar harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah darah dan HCl dicampur.Bacalah tinggi permukaan cairan pada tabung sahli. Angka yang terbaca menunnjukkan kadar Hb dari sampel darah tersebut.
Metoda yang dilakukan pada menghitung sel darah merah yaitu pertama hisap darah dengan pipet untuk eritrosit sampai angka 0.5. Bersihkan ujungnya dengan tissue. Lalu segera hisap larutan hayem sampai angga 101 dengan demikian darah diencerkan 200 kali.Kemudian pegang ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu kocok dengan memutar membentuk angka 8 agar cairan dalam pipet tercampur. Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah  merah (2-3tetes). Terakhir isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan penutup. Hitung sel darah pada kamar hitung dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x atau 40x.
            Metoda yang dilakukan pada menghitung sel darah putih yaitu pertama hisap darah dengan pipet untuk eritrosit sampai angka 0.5. Bersihkan ujungnya dengan tissue. Lalu segera hisap larutan Turk untuk mamalia dan larutan BCB untuk unggas sampai angga 11 dengan demikian darah diencerkan 200 kali. Kemudian pegang ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu kocok dengan memutar membentuk angka 8 agar cairan dalam pipet tercampur. Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah  merah (2-3tetes). Terakhir isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan penutup. Hitung sel darah pada kamar hitung dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x atau 40x.
Adapun metode yang digunakan pada praktikum diferensial leukosit (leukogram) yaitu, pada percobaan membuat preparat ulas darah yaitu, cara kerjanya mula-mula siapkan dua buah gelas objek dalam keadaan bersih, pegang ujung sebuah gelas objek dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, atau letakkan saja gelas objek di atas meja yang rata. Letakkan 1 tetes darah pada ujung gelas objek (sebelah kanan) tersebut (no.2). Dengan tangan kanan, pegang gelas objek lainnya. Kemudian letakkan ujung gelas objek tersebut pada gelas objek yang sudah ditetesi darah (no.3) membentuk sudut 30.Gerakkan gelas objek yang ditangan kanan ke belakang sampai menyinggung tetesan darah tadi, sehingga darah menyebar sepanjang sudut antara ke dua gelas objek. Segera setelah darah menyebar, dengan hati-hati (tanpa mengangkat gelas objek dan sudut gelas objek tetap 30) dorong ke depan gelas objek di tangan kanan, maka terbentuk preparat ulas yang tipis. Preparat dikeringkan dan lakukan pewarnaan. Dan adapaun cara kerja mewarnai preparat dengan zat Giemsa yaitu, preparat ulas darah yang sudah dikeringkan di udara difiksasi dengan memasukkannya ke dalam metanol absolut selama 5-10 menit.Angkat dan biarkan kering di udara, kemudian masukkan ke dalam zat warna Giemsa.Biarkan selama 30 menit.Angkat preparat dan bilas (cuci) kelebihan zat warna dengan menggunakan air kran yang mengalir.Keringkan di udara atau menggunakan kertas isap (preparat diletakkan diantara dua lembar kertas isap dan perlahan-lahan ditekan-tekan.Periksa preparat yang sudah diwarnai dengan mikroskop dengan pembesaran 100x, sebelumnya preparat ulas ditetesi minyak emersi. Perhitungan sel leukosit sampai 100 sel dengan menggunakan differensial counter. Preparat yang baik akan menunjukkan warna yang kontras merah, biru keunguan dan biru tua.








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pemeriksaan Hematologi
4.1.1 Preparat natif darah
Preparat natip darah biasanya terlihat bentuk formasi eritrosit yang sailing berlekataan membentuk deretan seperti uang logam yang di deretkan.
Warigan. 2001. Menyatakan bahwa darah darah yang  baik akan megalami pengerutan , seperti uang logam.
Sel darah merah pada unggas (ayam) mengalami pengkerutan (krenasi). Pada pengamatan ini menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x. hal tersebut tidak sesui dengan yang menyatakan bahwa Pada pengamatan sel darah merah pada darah mamamalia terlihat bentuk sel seperti cakram, bikonkaf, sorkular dan tidak berinti. (Arifa:2011)
Sel darah merah pada ruminansia besar (sapi) berbentuk rouleaux. Pada pengamatan ini mengunakan mikroskop dengan perbesaran 4x. hal tersebut sesuai dengan yang menyatakan bahwa Bentuk sel bulat atau bikonkaf (bagian tepi lebih tebal dari pada bagian tengah), tidak berinti sel. Berwarna merah karena mengandung hemoglobin.  Dibentuk di sumsum tulang (di dalam tulang pipih) dan hati, berumur lebih kurang 120 hari. Bila eritrosit sudah tua atau rusak, akan dirombak di dalam limfia. Hemoglobin akan dibawa ke hati dan dibuat menjadi zat empedu (bilirubin). Zat besi dari hemoglobin ini akan digunakan untuk memproduksi sel darah merah baru. Jumlah eritrosit dalam darah kurang lebih 5 juta sel/mm3 darah. (Anonim: 2012)
Tabel 1. Gambar bentuk eritrosit dan leukosit
Jenis Ternak
                          Eritrosit

Mamalia

Unggas



Jenis Hewan
        Leukosit

Mamalia

Unggas








Tabel 2. Preparat natif darah
Kelompok
Hewan
Bentuk Sel
   Krenase
Ada    Tidak
Mikro organism
Ada          Tidak
1-2
Sapi

Cakram,bikonkaf
Tidak berinti
  +
             +
3-4
Kambing

Cakram,tidak berinti
  +
             +
5-6
Ayam

Lonjong, Oval berinti
  +
   +

          

Gambar 1. Preparat natif darah

      Trombosit merupakan fragmen sel yang berdiameter 2-4µ, dibentuk dalam sumsum tulang dan limpa dan mempunyai masa hidup 8-10 hari.Hal ini mengakibatkan cairan eritrosit akan keluar menuju medium luar yang memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, akibatnya eritrosit akan menjadi keriput.Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2013), bahwa trombosit merupakan fragmen sel yang berdiameter 2-4µ, dibentuk dalam sumsum tulang dan limpa dan mempunyai masa hidup 8-10 hari.Hal ini mengakibatkan cairan eritrosit akan keluar menuju medium luar yang memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, akibatnya eritrosit akan menjadi keriput. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2009) yang menyatakan bahwa krenasi merupakan peristiwa mengkerutnya sel darah karena cairan dalam darah keluar menuju cairan eksternal yang konsentrasinya lebih tinggi, dimana pada lingkungan hipertonis (garam> 1%) sehigga sel akan mengkerut dan bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit, akibatnya eritrosit akan keriput.
Krenasi adalah kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan hipertonik karena kehilangan air melalui osmosisHal ini sesuai dengan pendapat Anonima (2010) yang mengataka bahwa  Krenasi adalah kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan hipertonik karena kehilangan air melalui osmosis. Secara etimologi krenasi berasal dari bahasa yunani yakni “Crenatus”.
Percobaan preparat natif darah yang dilakukan menggunakan metode Perendaman yaitu dengan membuat preparat ulas darah yang direndam dalam larutan metanol absolut dan larutan Giemsa.Pada percobaan ini ditemukan bentuk-bentuk sel darah, sel darah merah pada unggas (ayam) berbentuk lonjong, oval dan berinti serta warna yang merah.Inti sel darah putih berwarna ungu tua, granula di dalam sitoplasma granulosit berwarna merah, biru atau netral, trombosit berwarna kebiru-biruan.Di dalam darah juga ditemukan adanya sel-sel darah yang mengalami krenasi/pengkerutan yang berbentuk bulat bergerigi. Hal ini menandakan bahwa di dalam darah terdapat mikroorganisme.Hal ini sesuai dengan pendapat Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusia ataupun hewan terdiri dari dua komponen penting yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan darah).Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel darah merah dan sel darah putih serta keping darah, sedangkan cairan darah terdiri dari cairan darah (Plasma darah).
            Susunan darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah. Pada praktikum ini ditemukan sel darah putih (leukosit), hal ini dikarenakan ciri-ciri dan spesifikasi leukosit yang memiliki inti atau nucleus. Hal ini ditunjang dengan pendapat Syaifuddin (2002), yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik dari sel darah putih yakni memiliki inti atau nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah. Frandson (2000), yang menyatakan bahwa keping-keping darah atau trombosit bentuknya tidak teratur, tidak memiliki inti sel atau nucleus dan sifatnya mudah pecah



4.1.2 Waktu Perdarahan
Nama Praktikan    : Rein Hard

NIM                      : E10014014
Umur                     : 19th 
Jenis kelamin         :  Laki-laki
Status kesehatan   : Baik 
Tabel 3.Waktu Perdarahan
Kelompok
Waktu    Keluar
Waktu   Berhenti
Waktu  Keluar
Waktu Berhenti
       1
5 detik
43 detik
2 detik
30 detik
       2
5 detik
30 detik
3 detik
20 detik
       3
5 detik
30 detik
3 detik
30 detik
       4
5 detik
30 detik
2 detik
30 detik
       5
5 detik
30 detik
3 detik
30 detik
       6
5 detik
30 detik
3 detik
25 detik

            Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendoteldan membentuk agregasi. Disaat darah keluar, darah sempat berheti sebentar namun berlanjut beberapa menit kemudian. Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit. Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit. Hal ini sesuai dengan pendapat (Schmid, 2000). Yang menyatakan bahwaPemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendoteldan membentuk agregasi. Disaat darah keluar, darah sempat berheti sebentar namun berlanjut beberapa menit kemudian. Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi
 Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Metode yang digunakan; teknik yang tidak tepat – bila terjadi luka pungsi yang mungkin lebih dalam daripada yang seharusnya. Bila tetesan darah ditekan paksa pada permukaan kertas dan tidak menunggu tetesan darah benar-benar terisap dengan sendirinya pada kertas penghisap.
 Hal ini dapat merusak partikel fibrin sehingga memperlama perdarahan. Hal inisesuaidenganpendapatPembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk disekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikannya. (Puzzy, 2009) Obat aspirin dan antikoagulan dapat memperlama perdarahan. Perdarahan juga dapat dihentikan dengan cara: Kontraksi dinding pembuluh darah,pembentukan sumbatan eritrosit pada lubang pembuluh,eritrosit melekat pada dinding pada dinding yang rusak pada yang lainnya,pembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk di sekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikan (Puzzy, 2009).
Gambar 2. Waktu Perdarahan
   
Waktu perdarahan pada praktikan Rein Hard normal karena karena waktu perdarahan lebih dari 1 menit dan kurang dari 6 menit. Itu kemungkinan karena suhu praktikan Rein Hard dala keadaan normal dan sehat. Hal ini sesuai dengan pendapat Dsyoghi (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik.
Prinsip pemeriksaan ini adalah menghitung lamanya perdarahan sejak terjadi luka kecil pada permukaan kulit dan dilakukan dalam kondisi yang standard. Ada 2 teknik yang dapat digunakan, yaitu teknik Ivy dan Duke. Kepekaan teknik Ivy lebih baik dengan nilai normal 1-6 menit. Teknik Duke nilai normal 1-8 menit. Teknik Ivy menggunakan lengan bawah untuk insisi merupakan teknik yang paling terkenal. Aspirin dan antiinflamasi dapat memperlama waktu perdarahan. (Syaifuddin, 2002) bahwa Waktu perdarahan (bleeding time, BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan lamanya tubuh menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara laboratoris. Pemeriksaan ini mengukur hemostasis dan koagulasi. Masa perdarahan tergantung atas : ketepatgunaan cairan jaringan dalam memacu koagulasi, fungsi pembuluh darah kapiler dan trombosit. Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendotel dan membentuk agregasi. Disaat darah keluar, darah sempat berheti sebentar namun berlanjut beberapa menit kemudian hal ini juga dikemukakan oleh Pendarahan dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi (Schmid, 2001).
4.1.3 Waktu Beku Darah
1.      Nama Praktikan          : Rein Hard
Umur                           : 19th 
Jenis kelamin               : Laki-laki
Status kesehatan          : Baik 
Waktu beku darah       : 9 menit 27 detik
Pada praktikum waktu beku darah digunakan darah praktikan  Rein Hard dan juga darah hewan sapi, kambing dan ayam. Dari semua sampel darah ada yang  terjadi waktu beku darah dan juga tidak karena tidak terbentuk benang putih (fibrin). Dibuktikan dengan pernyataan Wibowo (2009), yang menyatakan bahwa fibrin sangat berperan penting dalam pembekuan darah.Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah.Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit.
Faktor yang penting dalam menghentikan suatu peredaran yaitu kongulasi atau pembekuan.mekanisme insintik adalah serangkaian  reaksi enzimatik yang di awali apbila darah bersentuh dengan permukaan asing. Semua permukaan selain lapisan endotel pada dindin pembuluh darah adalah asing terhdap protein-protein kogulasi dan sel-sel dalam darah merah. Sekali peruses pembekuan di mulai, serangkaian reaksi akan terjadi dan mencapai puncaknya  dengan terbentuknya terumbin dan benang-benang fibin.
Mekanisme  ekstrik  adalah serangkaian reaksi yang terjadi apabila kerusakan pembuluh darah cukup parrah, sehinga jaringan sekitar terkena dan berakibat keluarnya cairan dan jaringan yang mengandung lipoprotein yang khas, yaitu tromboplastin jaringan yang akan mengaktivkan factor x secara langsung, melanhkahi tahap-tahap awal dari mekanisme intrinsic dan memproduksi pembentukan fibrin lebih cepat dari pada mekanisme intrinsic.
            Waktu beku darah  manusia, di lakukan dengan meletakan darah di atas gelas arloji dengan menyalakan setopwach di mulai dari pengambilan di pembuluh darah sampai dengan dengan catatan waktu : 37,5 menit.
            Waktu beku darah sapi sama seperti pemberlakuan drah manusia dengan catatan waktu 37,14 menit. Menurut     Hamilton 2008. Beda beku darah manusia dengan hewan hanya sedikit.

Penghentian pembentukan bekuan
Setelah pembentukan bekuan, sangat penting untuk melakukan pengakhiran pembekuan darah lebih lanjut untuk menghindari kejadian trombotik yang tidak diinginkan.yang disebabkan oleh pembentukan bekuan sistemik yang berlebihan. Antikoagulan yang terjadi secara alami meliputi antitrombin III (ko-faktor heparin), protein C dan protein S.
 Antitrombin III bersirkulasi secara bebas di dalam plasma dan menghambat sistem prokoagulan, dengan mengikat trombin serta mengaktivasi faktor Xa, IXa, dan XIa, menetralisasi aktivitasnya dan menghambat pembekuan. Protein C, suatu polipeptida, juga merupakan suatu antikoagulan fisiologi yang dihasilkan oleh hati, dan beredar secara bebas dalam bentuk inaktif dan diaktivasi menjadi protein Ca.
 Protein C yang diaktivasi menginaktivasi protrombin dan jalur intrinsik dengan membelah dan menginaktivasi faktor Va dan VIIIa. Protein S mempercepat inaktivasi faktor-faktor itu oleh protein protein C.
Trombomodulin, suatu zat yang dihasilkan oleh dinding pembuluh darah, diperlukan untuk menimbulkan pengaruh netralisasi yang tercatat sebelumnya. Defisiensi protein C dan S menyebabkan spisode trombotik. Individu dengan faktor V Leiden resisten terhadap degradasi oleh protein C yang diaktivasi. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)

Resolusi bekuan
Sistem fibrinolitik merupakan rangkaian yang fibrinnya dipecahkan oleh plasmin (fibrinolisin) menjadi produk-produk degradasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Diperlukan beberapa interaksi untuk mengubah protein plasma spesifik inaktif di dalam sirkulasi menjadi enzim fibrinolitik plasmin aktif. Protein dalam bersirkulasi, yang dikenal sebagai proaktivator plasminogen, dengan adanya enzim-enzim kinase seperti streptokinase, stafilokinase, kinase jaringan, serta faktor XIIa, dikatalisasi menjadi aktivator plasminogen.
Dengan adanya enzim-enzim tambahan seperti urokinase, maka aktivator-aktivator mengubah plasminogen, suatu protein plasma yang sudah bergabung dalam bekuan fibrin, menjadi plasmin. Kemudian plasmin memecahkan fibrin dan fibrinogen menjadi fragmen-fragmen (produk degradasi fibrin-fibrinogen), yang mengganggu aktivitas trombin, fungsi trombosit, dan polimerisasi fibrin, menyebabkan hancurnya bekuan. Makrofag dan neutrofil juga berperan dalam fibrinolisis melalui aktivitas fagositiknya. (Sylvia A.Price &Lloraine M.Wilson.,2003.)
Pada saat pembekuan darah pasti akan terbentuk benang-benang putih itu darah akan sepaerti mengumpal. ada beberapa zat yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah,yaitu Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah.
Atas dasar ini antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya trombus dan emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah di luar tubuh pada pemeriksaan laboratorium atau tranfusi. Antikoagulan oral dan heparin menghambat pembentukan fibrin dan digunakan sebagai pencegahan untuk mengurangi insiden tromboemboli (masuknya udara pada aliran darah) terutama pada vena.
 Kedua macam antikoagulan ini juga bermanfaat untuk pengobatan trombosis arteri karena mempengaruhi pembentukan fibrin yang diperlukan untuk mempertahankan gumpalan trombosit:
Antikoagulan dapat dibagi menjadi 3 kelompok :
  1. Heparin,
  2. Antikoagulan oral, terdiri dari derivat 4 -hidroksikumarin misalnya : dikumoral, warfarin dan derivat indan-1,3-dion misalnya : anisindion;
  3. Antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion kalsium, salah satu faktor
Pada umumnya proses pembekuan darah sangat dipengaruhi oleh kepingan-kepingan darah. Pembekuan darah juga dipengaruhi suatu komponen esensial yakni fibrinogen, pembekuan darah mampu menghentikan semua perdarahan pada pembuluh darah yang rusak.Seperti yang dinyatakan oleh Jhonson, Dkk, 184 bahwa untuk pembentukan benang fibrin sebagai penentu cepatnya pembekuan darah, darah dalam tubuh manusia mengalami proses tromboplastik dalam darah dengan bantuan calcium dan protrombin berubah menjadi trombin, lalu trombin dengan bantuan fibrinogen akan membentuk benang-benang fibrin yang akan menutup luka dan membuat darah menjadi beku.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Metode yang digunakan; teknik yang tidak tepat – bila terjadi luka pungsi yang mungkin lebih dalam daripada yang seharusnya. Bila tetesan darah ditekan paksa pada permukaan kertas dan tidak menunggu tetesan darah benar-benar terisap dengan sendirinya pada kertas penghisap, hal ini dapat merusak partikel fibrin sehingga memperlama perdarahan. Hal inisesuaidenganpendapatPembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk disekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikannya. Obat aspirin dan antikoagulan dapat memperlama perdarahan. Perdarahan juga dapat dihentikan dengan cara: Kontraksi dinding pembuluh darah,pembentukan sumbatan eritrosit pada lubang pembuluh,eritrosit melekat pada dinding pada dinding yang rusak pada yang lainnya,pembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk di sekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikan (Anonim, 2009).





Tabel 4. Waktu Beku Darah Per kelompok
Kelompok
                              Waktu
1
9 menit 27 detik
2
8 menit 30 detik
3
10 menit 9 detik
4
11 menit 9 detik
5
2 menit 37 detik
6
16 menit 13 detik



Tabel  . Waktu beku darah
Jenis Darah
Waktu
Keterangan
Sapi
>6menit
Tidak ada benang putih
Ayam
>6menit
Tidak ada benang putih
Kambing
>6menit
Tidak ada benang putih
Praktikan
1 menit
Ada benang putih

Agar terlihat benang harus dilakukan, agar benaang putih pada sampel darah harus dilakukan, agar anti koagulannya tergabung, hal ini sesuai dengan Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau pecahan desimal (Simmons A, 2009).
Waktu beku hanya dimilki oleh manusia sedangkan ayam, sapi  dan kambing tidak memiliki waktu beku darah, hal ini sesuai dengan bahwa manusia memiliki waktu beku darah sekitar 1-6 menit. Dalam proses koagulasi darah terdapat beberapa faktor yang berperan penting, yaitu fibrinogen, prothombin, thromboplastin, calsium ,proaccealerin labile factor, proconvertin, antihomofilc,Proses yang mengawali pembentukan bekuan fibrin sebagai respons terhadap cedera jaringan dilaksanakan oleh lintasan ekstrinsik. Lintasan intrinsic pengaktifannya berhubungan dengan suatu permukaan yang bermuatan negative. Lintasan intrinsic dan ekstrinsik menyatu dalam sebuah lintasan terkahir yang sama yang melibatkan pengaktifan protrombin menjadi thrombin dan pemecahan fibrinogen yang dikatalis thrombin untuk membentuk fibrin. Pada peristiwa diatas melibatkan macam jenis protein yaitu dapat diklasifikaskan sebagai berikut: Zimogen protease yang bergantung pada serin dan diaktifkan pada proses koagulasi,kofaktor,fibrinogen,transglutaminase yang menstabilkan bekuan fibrin dan protein pengatur,dan sejumlah protein lainnya.
Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam. Dari hasil pengamatan, data koagulasi kelompok masih berada dalam kisaran normal, yaitu antara 15 detik hingga 2 menit dan berakhir dalam waktu 5 menit. Anti bodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein globulin yang merupakan faktor penghambat protein koagulasi darah. Sehingga waktu koagulasi pada tiap sammpel darah sangat bervariasi.
Fase koagulasi
Koagulasi diawali dalam keadaan homeostasis dengan adanya cedera vascular. Vasokonstriksi merupakan respon segera terhadap cedera, yang diikuti dengan adhesi trombosit pada kolagen pada dinding pembuluh yang terpajan dengan cedera. Trombosit yang terjerat di tempat terjadinya luka mengeluarkan suatu zat yang dapat mengumpulkan trombosit-trombosit lain di tempat tersebut. Kemudian ADP dilepas oleh trombosit, menyebabkan agregasi trombosit. Sejumlah kecil trombin juga merangsang agregasi trombosit, bekerja memperkuat reaksi. Trombin adalah protein lain yang membantu pembekuan darah. Zat ini dihasilkan hanya di tempat yang terluka, dan dalam jumlah yang tidak boleh lebih atau kurang dari keperluan. Selain itu, produksi trombin harus dimulai dan berakhir tepat pada saat yang diperlukan. Dalam tubuh terdapat lebih dari dua puluh zat kimia yang disebut enzim yang berperan dalam pembentukan trombin. Enzim ini dapat merangsang ataupun bekerja sebaliknya, yakni menghambat pembentukan trombin. Proses ini terjadi melalui pengawasan yang cukup ketat sehingga trombin hanya terbentuk saat benar-benar terjadi luka pada jaringan tubuh. Factor III trombosit, dari membrane trombosit juga mempercepat pembekuan plasma. Dengan cara ini, terbentuklah sumbatan trombosit, kemudian segera diperkuat oleh protein filamentosa (fibrin). (Srikini, 2000) Produksi fibrin dimulai dengan perubahan factor X menjadi Xa, seiring dengan terbentuknya bentuk aktif suatu factor. Factor X dapat diaktivasi melalui dua rangkaian reaksi. Rangkaian pertama memerlukan factor jaringan, atau tromboplastin jaringan, yang dilepaskan oleh endotel pembuluh darah pada saat cedera.. karena factor jaringan tidak terdapat di dalam darah, maka factor ini merupakan factor ekstrinsik koagulasi, dengan demikian disebut juga jalur ekstrinsik untuk rangkaian ini.

4.1.4 Laju Endap Darah
Laju Endap Darah merupakan suatu pemeriksaan darah yang dapat membentuk penentuan status kesehatan seekor hewan. Hasil yang telah kami dapat yaitu dari sampel darah yang dihisap dengan westar green sampai anka 0 dan ditegakkan pada rak tiap 30 menit catat penurunannya hingga sampai menit ke 40 yaitu 30 menit pertama : 2 mm, 30 menit kedua : 3 mm dan 30 menit ke tiga adalah 5 mm.
Tabel 4 . Laju Endap Darah Kambing
Waktu
Jumlah Penurunan
   Hasil
30
128
62
60
62
42






Gambar 3. Grafik 1 Laju Endap Darah pada Kambing
Tabel 5 . Laju Endap  Darah sapi

Waktu
Jumlah Penurunan
 Hasil
30
98
92
60
130
60
90
147
43


Gambar 5. Grafik 2 Laju Endap Darah pada Sapi


Tabel  6. Laju Endap  Darah Ayam



No.
Waktu
Penurunan darah
 1
30 menit
             3
 2
60 menit
             1
 3
90 menit
             1

Gambar6. Grafik 3 Laju Enda Darah Ayam      
            Grafik di atas adalah contoh dari grafik yang benar, karna pada praktikum yang kelompok saya lakukan LED pada darah ayam tidak mengalami penurunan kemungkinan di karnakan antikoagulan yang berlebih atau kondisi ayam kurang baik/kurang sehat. Dari grafik diatas dapat dijelaskan bahwa penurunan led pada menit pertama terjadi di titik 39mm, dan pada menit ke 60 berada di titik 61mm yang berarti mengalami penurunan sebanyak 22mm dan dimenit ke 90 berada dititik 75mm yang berarti mengalami penurunan sebanyak 14mm.
Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa inggrisnya Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam. Laju endap darah yang kita hasil kan mengalami kenaiakan dan penurunan,itu dikarnakan sel darah merah yang mengaendap.
Hal ini sesuai dengan pendapat ( Rosita,2000) yang menyatakan Makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya. Dari data di atas dapat di lihat bahwa laju endap darah dari masing-masing sampel darah berbeda-beda hal ini di pengaruhui oleh beberapa faktor yaitu Faktor eritrosit, plasma, dan teknik dapat mempengaruhi laju endap darah. Radiopoetra, 2000 yang berpendapat bahwa Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus selama (waktu di tentukan) Makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi laju endap darahnya.
Tinggi rendahnya laju endap darah sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita.Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju Endap Darah (LED) adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlah eritrosit/ul darah yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan Laju Endap Darah (LED) cepat. Walau pun demikian, tidak semua anemia disertai Laju Endap Darah (LED) yang cepat. Pada anemia sel sabit, akantositosis, sferositosis serta poikilositosis berat, laju endap darah tidak cepat, karena pada keadaan-keadaan ini pembentukan rouleaux sukar terjadi. Pada polisitemia dimana jumlah eritrosit/µl darah meningkat, Laju Endap Darah (LED) normal.
Laju Endap Darah (LED) terutama mencerminkan perubahan protein plasma yang terjadi pada infeksi akut maupun kronik, proses degenerasi dan penyakit limfoproliferatif. Peningkatan laju endap darah merupakan respons yang tidak spesifik terhadap kerusakan jaringan dan merupakan petunjuk adanya penyakit. Bila dilakukan secara berulang laju endap darah dapat dipakai untuk menilai perjalanan penyakit seperti tuberkulosis, demam rematik, artritis dan nefritis. Laju Endap Darah (LED) yang cepat menunjukkan suatu lesi yang aktif, peningkatan Laju Endap Darah (LED) dibandingkan sebelumnya menunjukkan proses yang meluas, sedangkan Laju Endap Darah (LED) yang menurun dibandingkan sebelumnya menunjukkan suatu perbaikan.
               Pada darah sapi, jumlah sel darah merahnya kurang dari jumlah sel darah ayam, selain ayam (unggas) merupakan hewan berdarah panas, unggas juga lebih banyak bergerak dan hal ini akan memacu jumlah sel darah merah pada unggas sehingga proses pengendapannya lebih cepat (Morag G. Kerr, 8).
Faktor terpenting pemeriksaan LED adalah tabung harus betul-betul tegak lurus, perubahan dan menyebabkan kesalahan sebesar 30%. Selain itu selama pemeriksaan rak tabung tidak boleh bergetar atau bergerak. Panjang diameter bagian dalam tabung LED juga mempengaruhi hasil pemeriksaan (Bajpai,2009).
Di dalam tubuh, suspensi sel-sel darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. Akan tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi antikoagulan dan dibiarkan 1 jam, sel darah akan mengendap dibagian bawah tabung karena pengaruh gravitasi. Laju endap darah (LED) berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma (mm/jam).

Tiga fase LED meliputi :
·         Fase pengendapan lambat I
Beberapa menit setelah percobaan dimulai, sel darah merah dalam keadaan melayang, sulit mengendap ( 1-30 menit)     
·         Fase pengendapan cepat    
Terjadi setelah darah saling berikatan membentuk rauleaux permukaan relatife kecil , masa menjadi lebih berat (30-60 menit)        
·         Fase pengendapan lambat II        
Terjadi setelah sel darah mengendap, menampak di dasar tabung (60-120 menit)
Dalam keadaan normal nilai LED jarang melebihi 10 mm per jam. LED ditentukan dengan mengukur tinggi cairan plasma yang kelihatan jernih berada di atas sel darah merah yang mengendap pada akhir 1 jam ( 60 menit ).
LED tidak spesifik untuk penyakit/gangguan kesehatan tertentu. Perlu data-data lain untuk menyimpulkan penyebab dari naiknya nilai LED. Baik dari anamnesa meliputi keluhan dan riwayat kesehatan karyawan, pemeriksaan fisik, serta hasil pemeriksaan penunjang lainnya (laboratorium, rontgen, dll). LED tinggi bisa merupakan indikasi adanya gangguan kesehatan dalam tubuh kita. Namun seseorang yang hasil pemeriksaan LEDnya tinggi belum tentu memiliki gangguan kesehatan. Sebaliknya seseorang yang memiliki gangguan kesehatan bisa saja nilai LEDnya normal. (Syaifuddin, 2002)


4.1.5 Hemolisis
Cormack. (2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
Hemolisis adalah pecahnya atau rusaknya membran eritrosit yang mengakibatkan hemoglobin keluar dari sel darah dan bebas didalam medium sekelilingnya. Membran sel darah yang rusak dapat diakibatkan oleh hipotonisnya larutan didalam darah. Apabila larutan hipotonis ditambahkan kedalam darah maka air atau larutan hipotonis tersebut akan masuk kedalam sel darah melalui membran semi permeable, yang mengakibatkan sel darah membengkak dan membran sel meregang dan akhirnya terjadi kerobekan membran dan hemoglobin keluar dari sel.
Penyebab terjadinya hemoglobin juga dapat terjadi karena penurunan tegangan permukaan membran sel. pendapat (Anonima, 2010), yang menyatakan bahwa terjadinya hemolisis disebabkan oleh pecahnya dinding eritrosit sebagai akibat dari menurunnya tekanan osmotik plasma darah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2006), bahwa hemolisis adalah peristiwa keluanya hemoglobin dari sel darah merah yang disebabakan oleh medium/plasma yang hipotonis.
Setelah dilakukan percobaan hemolisis tabung 1-14 diberi larutan NaCl sebanyak 5 ml dan ditambah 3 tetes darah sapi dan ayam, biarkan selama 30 menit. Setelah itu diperiksa / diamati warna dan kekeruhan larutan dalam tabung ternyata diantara 5 tabung ada salah satu tabung yang mengalami hemolisis yaitu tabung yang diisi dengan larutan 0,35% larutan NaCl dan yang lainnya belum terjadinya hemolisis. Untuk itu di lakukan secara mikroskopis. Maka hasilnya pada darah sapi dan ayam sebagai berikut :
Tabel 7.  Hemolisis HCl
Kelompok
Nomor dan Nama Tabung
Makroskopis            (Hemolisis)
Mikroskopis           bentuk       Besar
Konsentrasi
Konsentrasi                 (0,9%)
1.      Ayam
2.      Sapi
3.      Kambing
+                                         -                                                    +
Oval           >                                                       bulat          =           bulat            >                                                                         
3                                                                3                                               3
Konsentrasi                       (0,65%)
1.      Ayam
2.      Sapi
3.      Kambing

Oval                                              bulat                                                               licin
3                                                 3                                    3
Konsentrasi                  (0,45%)
1.      Ayam
2.      Kambing
3.      Sapi
+                                              _                                               +
Berigi          >            berigi         <                   licin            <         
 3                                     3                                             3   
Konsentrasi                     (0,25%)
1.      Ayam
2.      Kambing
3.      Sapi
+                                           +                                        +
Manjang    >                                            pipih           <                                                bulat         <      
3                                                  3                                                                   3
KOnsentrasi                     (3,0%)
1.      Ayam
2.      Kambing
3.      Sapi
_                                           +                                        +
Manjang    >                                                             berigi           <                           bulat            <
 3                                                             3                                                    3

              Pada tabel diatas terlihat bahwa proses hemolisis hanya terjadi pada tabung 0,45%. Dengan pembanding adalah tabung 0,9 %. Hemolisis ini di tunjukkan dari tingkat kejernihan dan beningnya larutan darah dan HCl tersebut,namun tidak hanya cukup dibuktikan dengan itu tp, melalui mikroskopis. Dan dari bentuk besar dan jumlah sangat berbeda satu sama lain
              Semakin besar konsentrasi larutan yang diberikan maka bentuk semakin besar dan dikit.Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma).
              Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.
               Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya.
              Hasil hemolisis sempurna eritrosit pada air suling biasa dianggap larutan standard untuk menentukan tingkat kerapuhan eritrosit (Soewolo, 2000). Hemolisis seperti yang dijelaskan diatas disebut hemolisis osmotic, yaitu hemolisis yang disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotic isi sel dengan mediumnya (cairan disekitarnya).
Hal ini sesuai dengan pendapat Supardi (2010) yang menyatakan bahwa Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).
Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).


Gambar 7.Tabung reaksi yang berisi larutan NaCl dan Darah (sapi,kambing dan ayam)
 

Setelah dibiarkan selama 30 menit, terjadi hemolisis pada tabung 2 dengan konsentrasi 0,25 %, tabung 3 dengan konsentrasi 0,45%, sedangkan pada tabung 1,4, dan 5 tidak terlihat adanya hemolisis.
Dilihat secara makroskopis tabung 1 memiliki warna merah keruh, dilihat secara mikroskopis dengan pembesaran 40x  terlihat bentuk bulat licin,  jumlahnya relative sama banyak. Sedangkan tabung 5 dilihat secara makroskopis berwarna merah keruh, dilihat secara mikroskopis dengan pembesaran yang sama terlihat bentuk bulat licin, besarnya lebih kecil dari control (tabung1) dan jumlahnya relatif sama banyak dengan kontorl (tabung1).

4.1.6 Hematokrit
Hematokrit atau Packed Cell Volume (PCV) merupakan presentase sel-sel darah merah didalam 100 ml darah.Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan dilaboratorium berguna untuk membantu diagnosa berbagai penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), anemia, polisitemia. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Pada cara makro digunakan tabung wintrobe, sedangkan pada cara mikro digunakan pipet kapiler (Wirawan, dkk, 2002).
Hematokrit adalah nilai perbandingan antara jumlah darah dalam bentuk padat
(sel-sel darah) dan bentuk cair (plasma darah). Hematokrit atau packed cell volume (PCV) adalah persentase butir darah merah yang ada dalam darah. Hal ini berarti apabila hewan memiliki nilai hematokrit 40 berarti jumlah butir darah merah pada hewan tersebut adalah 40% dan sisanya adalah plasma darah 60%. Darah yang diberi antikoagulan dan kemudian disentrifugasi akan memisahkan bagian darah berdasarkan bobotnya. Butir-butir darah akan mengendap sedangkan plasma darah akan berada di atasnya. Pada darah normal, butir-butir darah akan menempati 0.45 bagian dari volume keseluruhan yang disebut hematokrit.
Pemeriksaan hematokrit secara automatik menggunakan alatanalisis sel darahautomatik. BC-2600 Auto Hematology Analyzermerupakan suatu penganalisis hematologi multi parameter untukpemeriksaan kuantitatif maksimum 19 parameterdan 3 histogram yangmeliputi WBC (White Blood Cell), Lymphocyte, Mid sized cell, Granulocyte, Limphocyte persentage, Mid-sized cell persentage,granulocyte persentage, RBC (Red Blood Cell), HGB (Hemoglobin), MCV(Mean Cospuscular Volume), MCH (Mean CospuscularHemoglobin), MCHC (Mean Cospuscular Hemoglobin Concentration), RDW-CV (RedBlood Cell Distribution Width Coefficient of Variation), RDW-SD (Red Blood Cell Distribution Width Standard Deviation), HCT (Hematocrit),PLT (Platelet), MPV (Mean Platelet Volume), PDW (Platelet DistributionWidth), PCT (Plateletcrit), WBC Histogram (White Blood CellHistogram), RBC Histogram (RedBlood Cell Histogram), PLT Histogram(Platelet Histogram) (Mindray, 2006).
            Analyzer dalam penghitungan RBC menggunakan unitpenghitungan volumetrik yang terdiri dari tabung pengukuran dengan 2sensor optik yang terpasang diatas tabung yaitu sensor atas dan sensorbawah , penghitungan dimulai saat cairanmelewati miniskus sensor yangtinggi dan berhenti ketika mencapai sensor yang rendah, waktu yangdibutuhkan untuk melewati sensor tinggi ke sensor rendah disebut jumlah waktu RBC. Ini diukur dalam detik, jumlah waktu yang terukur dibandingkan dengan referensi jumlah waktu. Jika hasil waktunya kurangdari atau lebih dari 2 detik maka analyzer akan melaporkan RBC bergelembung atau error.Reagen yang diperlukan dalam pemeriksaan hematokrit cara automatik dengan menggunakan analyzer BC-2600 antara lain diluentsebagai larutan pengencer dan sebagai medium penghantar.
            Jumlah butir darah merah berpengaruh langsung pada nilai hematokrit. Terjadinya perubahan butir darah merah memiliki pola yang sama dengan kandungan hematokrit. Hal ini dapat dipahami karena persentase hematokrit tersebut merupakan kandungan butir darah merah dibandingkan volume darah total. Nilai hematokrit sangat bervariasi bergantung pada aktivitas tubuh, ketinggian tempat, dan anemia. Hematokrit termasuk dalam parameter yang digunakan untuk menilai keadaan anaemia suatu hewan. Meningkatnya persentase hematokrit dapat disebabkan oleh leukosis limfoid (Al-Sadi dan Hussein 2010).
Setelah dilakukan percobaan yaitu mensentrifus darah ayam,kambing dan sapi maka diperoleh nilai hematokritnya yaitu darah ayam 10%,hematokrit darah kambing 9% dan nilai hematokrit pada darah sapi 40 %. Nilai hematokrit pada darah ayam tidak normal yang seharusnya batas normal ayam 22-35 % karena pada saat pengerjaan terjadi kesalahan pipa kapiler yang dimasukkan kesentrifus seharusnya 2500 rpm selama 5 menit ternyata tidak sesuai dengan yang seharusnya.Seperti yang dinyatakan oleh (F. D. Frandson 2004) yaitu nilai hematokrit adalah persentase dari darah yang terdiri dari sel darah merah dan nilai hematokrit yang normal pada sapi adalah 40 %.
              Nilai hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah yang lain.
Adapun hasil pengamatan hematokrit pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :    

Tabel 8. Nilai hematokrit pada sapi, ayam dan kambing
Jenis Hewan
Jumlah Hematokrit
Nilai Hematokrit Normal
1.      sapi
29%
40
2.      kambing
39%
33
3.      ayam
25%
22-35(30)

Darah yang ditambah antikoagulan kemudian disentrifuse dengan kecepatan tinggi ,maka darah terpisah menjadi 3 bagian yaitu :
1.Lapisan teratas : Plasma berwarna kuning
2.Lapisan tengah : Buffy coat yang terdiri dari trombosit (bagian teratas kuning coklat ),Leukosit (bagian tengah berwarna abu-abu kemerahan).
3.Lapisan Terbawah : eritrosit berwarna merah tua,eritrosit terpisah di bagian bawah karena mempunyai BJ terbesar.


                                         Plasma
 

                                       Buffy Coat

           
                                                       Sel darah Merah



                                                   Lilin Penyumbat


                    Gambar. Hematokrit



Gambar.10 Hematokrit pada  sapi.

 


                                         Plasma

                                       Buffy Coat
 

                                                      Sel darah Merah
                                                      
                                                     Lilin Penyumbat


Nilai Hemotokrit : 23 %
Nilai Plasma        : 77 %
Pada percobaan yang kami lakukan ,niai hematokrit pada sapi hanya berkisar 29 % sedangkan pada diktat hematokrit pada sapi itu 40 % sehingga kami dapat menarik kesimpulan bahwa pengamatan yang kami lakukan gagal.hal ini terjadi mungkin darah pada pipa kapiler kurang sehingga nilai hematokrit nya jauh berbeda










Gambar.11  Hematokrit Pada Ayam

 


                                         Plasma

                                      
                                        Buffy Coat
 

                                                     
                                                         Sel darah Merah
                                                   Lilin Penyumbat
                                                   

Nilai Hematokrit : 25 %
Nilai Plasma         : 75 %
Pada pengamatan yang kami lakukan dimana hematokrit pada ayam dapat kami peroleh 20 sehingga hal ini tidak sesuai dengan diktat dan dapat ditarik  kesimpulan percobaan yang kami lakukan gagal.












Gambar.12  Hematokrit pada pengamatan kambing




                                         Plasma

                                      
                                                                                                             
                                                    Buffy Coat                            
                                                      Sel darah merah

 

                                                     Lilin Penyumbat
Nilai Hematokrit : 33 %
Nilai Plasma         : 67 %
Pada pengamatan yang kami lakukan dimana hematokrit pada ayam dapat kami peroleh 34 sehingga hal ini tidak sesuai dengan diktat dan dapat ditarik  kesimpulan percobaan yang kami lakukan gagal.hal ini terjadi karena pada saat pengerjaan terjadi kesalahan pipa kapiler yang dimasukkan kesentrifus seharusnya 2500 rpm selama 5 menit ternyata tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Setelah dilakukan percobaan yaitu mensentrifus darah ayam,kambing dan sapi maka diperoleh nilai hematokritnya yaitu darah ayam 20 %,hematokrit darah kambing 27% dan nilai hematokrit pada darah sapi 29 %. Nilai hematokrit pada darah ayam tidak normal yang seharusnya batas normal ayam 22-35 % karena pada saat pengerjaan terjadi kesalahan pipa kapiler yang dimasukkan kesentrifus seharusnya 2500 rpm selama 5 menit ternyata tidak sesuai dengan yang seharusnya.
            Seperti yang dinyatakan oleh (Hamurwono GB, 2003.) yaitu nilai hematokrit adalah persentase dari darah yang terdiri dari sel darah merah dan nilai hematokrit yang normal pada sapi adalah 40 %.
            Nilai hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah yang lain.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai hematokrit setiap hewan berbeda-beda. Nilai hematokrit ternak tersebut rata-rata tidak normal, karena tidak sesuai dengan nilai normal hematokrit yang ditentukan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa factor yaitu jenis kelamin, usia dan kesehatan. Metode mikrohematokrit mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana. Metode mikrohematokrit proporsi plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat pembaca skala hematokrit.
Metode pemeriksaan secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifuge dalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah dalam keadaan mapat. Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit (Gandasoebrata, 2008).
Nilai hematokrit ialah volum semua eritrosit dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam % volum darah itu. Biasanya nilai itu ditentukan dengan darah kapiler atau darah vena (Gandasoebrata, 2008). Hematokrit merupakan salah satu metode yang paling teliti dan simpel dalam deteksi dan mengukur derajat anemia atau polisitemia. Nilai hematokrit juga digunakan untuk menghitung nilai eritrosit rata-rata.
Pada sapi hematokritnya adalah 43 tidak sesuai dengan nilai normal hematokrit, yang diakibatkan karena pada chrrysta seal di letakkan tidak sesuai, sehingga nilainya tidak sesuai.


Gambar 8.Hemolisis pada sapi
Darah yang ditetesi dengan NaCL 0,25 terjadinya pengkriputan sel darah ( krenasi ). Terjadu hemolisis yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna merah cerah.
Gambar 9. Hemolisis pada kambing
            Ditetesi dengan NaCL 0,25 terjadinya pengkiputan ( krenasi) pada sel darah. Terjadinya hemolisis dengan ditandai terjadinya warna keruh padda sel darah.


Gambar   Hemolisis pada ayam
Darah ditetesi  NaCL 0,25 terjadinya pengkriputan ( krenasi ) pada sel darah. Terjadinya hemolisi karna wana berubah menjadi warna merah cerah.
Anonim (2000) menyatakan juga bahwa Jika phi cairan < phi darah, maka cairan bersifat hipotonik terhadap plasma darah. Hal ini menyebabkan net aliran pelarut air dari cairan ke plasma darah. Akibatnya sel darah merah akan mengembang dan dapat pecah sesuai juga dengan pendapat F. D. Frandson (2000)  Adanya hemoglobin dalam darah menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan hemoglobin tersebut merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah.

4.1.7 Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin (Hb) merupakan pigmen eritrosit yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi yang mengandung besi. Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen (O2) maupun karbondioksida (CO2).Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke sel-sel jaringan yang terdapat didalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi, yang membutuhkan besi dalam bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi tersebut menuju sumsum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna membentuk eritrosit (Frandson, 2002).





Tabel 8 . Kadar Hemoglobin Darah Sapi, Kambing dan Ayam




Kelompok
Sapi
Ayam
Kambing

1
11.6
11,3
11,1%

2
8,8
7%
9,2%

3
11
12%
12%

4
10,8
7,2
19%









Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa kadar hemoglobin ternak berbeda-beda dan waktunya pun berbeda. Kadar hemoglobin jenis ternak semuanya rata-rata normal, karena dapat dilihat dari kadar normal hemoglobin yang telah ditentukan. Kadar hemoglobin pada umumnya diukur dalam gram per 100 ml darah. Karena adanya hemoglobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Smith, 2008).

 
Gambar
 10.Tabung sahli
 
   Gambar 11. Hemometer sahli
              Diatas merupakan alat-alat yang digunakan untuk mengukur hemoglobin,pada darah (sapi dan ayam).
              Pemeriksaan hematologi digunakan untuk mengetahui sel-sel darah dan bagian-bagiannya termasuk fungsi fisiologisnya, antara lain sel darah merah, sel darah putih, trombosis dan lain sebagainya. Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan rutin, digunakan untuk pemeriksaan sceening awal maupun pemeriksaan lanjutan. Pada umumnya sampel darah diperoleh dari darah kapiler dan darah vena. Komposisi darah kapiler sama dengan darah vena.
              Darah kapiler pada umumnya diperoleh dari telinga dan dikeluarkan menggunakan jarum suntik. Jumlah sel darah dapat dihitung dengan menggunakan alat Hemocytometer, alat ini terdiri dari pipet dan kamar hitung, ada dua macam pipet yang digunakan yaitu pipet yang mempunyai inti merah yang digunakan untuk sel darah merah dan inti putih digunakan untuk menghitung sel darah putih.
              Pengamatan pada sel darah sangat dipengaruhi oleh tingkat ketelitian seorang peneliti, karena pengamatan pada sel-sel yang saling bertumpuk lebih sulit untuk dianalisis, namun demikian, sepanjang ciri khas yang tetap masih tampak maka masalah tersebut masih dapat dipecahkan.

4.1.8 Menghitung Jumlah Sel Darah
              Untuk menghitung jumlah sel darah merah dipergunakan larutan pengencer yang dinamakan larutan hayem, hal ini sesuai dengan pernyataan (Vander 2009), yang menyatakan bahwa hitungan sel darah merah total ditentukan dengan mengencerkan suatu jumlah darah dengan menggunakansuatu jenis pengencer. Larutan hayem mempunyai komposisi 1 gram NaCl, 5 gram Na2SO4, 0,5 gram HgCl2, dan 200 liter air. Kecuali berfungsi untuk mengencerkan darah agar sel-sel darah tidak terlalu berdesakan sehingga mempermudahkan dalam perhitungan, larutan hayem juga harus bersifat isotonik terhadap cairan didalam sel darah merah dan harus dapat menghancurkan sel –sel darah lainnya yaitu sel darah putih dan keping darah.
                          
Gambar 12. Kamar hitung untuk menghitung Sel Darah
             
Menghitung Sel Darah Merah
Menghitung jumlah eritrosit yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah karena sel-sel darah merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer dengan bantuan mikroskop. Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung. Penghitungan sel-sel darah merah dihitung di dalam kamar hitung yang bersakala.
Adapun hasil pengamatan menghitung jumlah sel darah merah pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


Tabel 9. Jumlah sel darah merah pada ternak
Kel.
Jenis Ternak
Jumlah Eritrosit (per mm3darah)
   1
Kambing
17.340.100
2
Sapi
11.200.000
3
Ayam
8.200.000
   4
Kambing
4.910.000





Gambar 13. Menghitung jumlah Eritrosit

Perhitungan :
-Pengenceran di dalam pipet eritrosit adalah 200.
-Kedalaman kamar hitung o,1 mm, jadi harus dikalikan 10.
-sel darah merah dihitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm2, jadi untuk menghitung jumlah sel darah dalam 1 mm2  harus dikalikan 5.
-Denagn demikian factor pengalinya : 200x10x5 = 10.000.
-Apabial jumalh sel darah merah yang terhitung E, maka total sel darah mearah per mm3 = E x 10.000
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai jumlah eritrosit setiap ternak berbeda-beda.Cara perhitungan sel darah merah yaitu pengenceran didalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Kedalaman kamar hitung 0,1 mm, jadi harus dikalikan 10. Sel darah merah dihitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm3, jadi untuk menghitung jumlah sel darah dalam 1mm3maka harus dikalikan 5.dengan demikian factor pengalinya adalah 200x10x5.
Prinsip pemeriksaan ini adalah darah diencerkan dalam pipet eritrosit kemudian dimasukkan dalam kamar hitung.Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan faktor konversi jumlah eritrosit per ul darah.Sebagai larutan pengencer digunakan larutan Hayem (Gandasoebrata, 2009). Menurut pendapat Aida (2005) menghitung jumlah sel darah merah menggunakan alat, yaitu hemositometer dan  menggunakan larutan hayem. Larutan hayem digunakan untuk menghitung jumlah sel darah merah, karena larutan ini dapat melisiskan seluruh sel yang ada di darah, kecuali sel darah merah sehingga sel darah merah dapat dihitung.
Menghitung jumlah eritrosit yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah karena sel-sel darah merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer dengan bantuan mikroskop. Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung. Penghitungan sel-sel darah merah dihitung di dalam kamar hitung yang bersakala atau berukuran kecil dengan jumlah 40 buah. Contoh gambar sel-sel darah yang terkandung di dalam kamar hitung.
Namun pada saat dilakaukan percobaan, banyak kendala yang dialami karena keadaan alat yang kurang bagus. Jumlah eritrosit dalam darah domba itu memiliki kisaran normal ±13,5 juta. Akan tetapi jumlah eritrosit yang diperoleh dan dihitung dari percobaan yang telah dilakukan hanya mencapai 9,54 juta. Dalam praktikum yang lalu kami menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x, kami melihat banyak sekali bercak – bercak hitam berkumpul disekitar sel. Selain itu, sel  yang kami amati sangat berdekatan, ditambah lagi penglihatan yang kurang akurat sehingga kami sulit menghitungnya.  
Jumlah Eritrosit dipengaruhi genetik ( spesies, ras, individual ) dan lingkungan  ( pakan, iklim, penyakit, managerial ).
              Hasil data pada sel darah sapi sesuai dengan pendapat Ganong sedangkan pada hasil sel darah merah ayam juga sesuai, karena menurut pendapat Ganong (2001) sel darah merah pada sapi berkisar antara 5 – 10 juta per mm3, dan pada ayam berkisar 2,7 – 3,8 juta per mm3.
              Sel darah merah (RBC) merupakan komponen darah yang terbanyak dalam satu mililiter darah. Setiap orang memiliki jutaan bahkan miliaran sel darah merah dalam tubuhnya
               Sel darah merah berfungsi sebagai pengikat oksigen dan karbondioksida, hal ini sesuai dengan pernyataan Frandson (2003), sel-sel darah merah atau eritrosis merupakan sel-sel yang diameter rata-ratanya sebesar 7.5 dengan spesialisasi untuk pengangkutan oksigen.
Perhitungan sel darah merah digunakan untuk menentukan apakah kadar sel darah merah (anemia) atau tinggi (polisitemia). Pada perhitungan sel darah merah, akan dinilai jumlah dan ukuran dari sel darah merah. Secara umum, volume total darah mamalia umumnya berkisar 7 sampai 8 persen berat badan. Bahan antarsel atau plasma darah, berkisar antara 45 sampai 65% dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya 35 sampai 55% diisi sel darah atau benda darah. Sel darah terdiri dari 3 macam: sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan kepingan darah (trombosit). Darah termasuk cairan intravaskuler yaitu cairan merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Bagian darah yang padat meliputi sel-sel darah merah, sel darah putih, dan keping-keping darah (Frandson,)

Menghitung Sel Darah Putih
Komposisi sel darah putih dengan nilai normalnya yaitu Leukosit pada manusia memiliki nilai normalnya 5000 – 10.000/μL, dimana leukosit terdiri dari granular meliputi netrofil 60 – 70%, eosinofil 2 – 4%, basofil 0.5 – 1%; dan Agranular meliputi limposit 20 – 25% dan monosit 3 – 8% (Azhar, 2009).
Adapun hasil pengamatan menghitung jumlah sel darah putih pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 10. Jumlah sel darah putih pada ternak
Kel.
Jenis Ternak
Jumlah Leukosit (per mm3darah)
5
Kambing
19.200
6
Sapi
28.800
7
Ayam
18.600
8
Kambing
9.150






Gambar 14. Menghitung Jumlah Leukosit


Perhitungan :
-Pengenceran di dalm pipet leukosit adalah 20 kali.
-Kedalaman kamar hitung 1/10 mm.
-Sel darah putih di hitung pada 4 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1mm2.
-Untuk menghitung sel darah putih dalam 1 mm3, mak factor pengalinya adalah : 20x10x1/4 = 50.
-Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L, maka total sel darah putih per mm3 dara = L x 50.
Menurut Frandson (2003), hitungan sel darah putih total dinyatakan dalam jumlah sel dalam milimeter kubik darah, hitungan ini berlaku untuk sel darah merah atau sel darah putih meski teknik dan peralatannya berbeda. Hasil ini Sangat jauh melenceng dari data yang ada, ternyata yang didapat lebih dari data yang telah ditentukan.         
Gambar 15. Kamar hitung eritrosit darah sapi
15



23







2330







37



52

Jumlah eritrosit sapi                = R1+R2+R3+R4 = 15+23+20+37+52 = 147
            Maka didapatkan total sel darah merah per mm3 = E X 10.000
                                                                                          =147 X 10.000
                                                                                          =1470000




Gambar 16. Kamar hitung leukosit darah kambing

49


50


45


39

Jumlah leukosit kambing         = L x 50, L = 49 + 45 + 50 + 39 = 183
                                                = 183 x 50
                                                = 9.150
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai jumlah leukosit setiap ternak rata-rata berbeda.Cara perhitungan sel darah putih (leukosit) yaitu pengenceran didalam pipet leukosit adalah 200 kali.Kedalaman kamar hitung 1/10 mm. Sel darah putih dihitung pada 4 bujur sangkar yang masing-masing berukuran dalam 1 mm3. Untuk menghitung sel darah putih dalam 1 mm3 maka factor pengalinya adalah 20x10x1/4=50. Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L, maka total sel darah putih per mm3 darah = L x 50.
Larutan yang digunakan dalam menghitung jumlah sel darah putih yaitu larutan turk. Larutan turk adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel darah putih sehingga mempermudah dalam perhitungannya, dimana larutan turk ini terdiri dari glacial acetid acid 2 ml, gentian violet 1%, aquades 1 ml dan aquadestilata 100 ml (Azhar, 2009).

4.1.9 Diferensial Leukosit (Leukogram)
Darah dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital yaitu suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup. Sel-sel darah yang hidup dapat mengisap zat-zat warna yang konsentrasinya sesuai dan akan berdifusi ke dalam sel darah tersebut, selanjutnya zat warna akan mewarnai granula pada sel bernukleus polimorf (Anonim, 2012).
Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai unsur sel darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit dan mencari adanya parasit seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain sebagainya. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil yang baik (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Dasar dari pewarnaan Romanowsky adalah penggunaan dua zat warna yang berbeda yaitu Azur B (Trimetiltionion) yang bersifat basa dan eosin y (tetrabromoflurescein) yang bersifat asam. Azur B akan mewarnai komponen sel yang bersifat asam seperti kromatin. DNA dan RNA. Sedangkan eosin y akan mewarnai komponen sel yang bersifat basa seperti granula eosinofil dan hemoglobin. Ikatan eosin y pada Azur B yang bergenerasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal sebagai efek Romanowsky giemsa efek ini sangat nyata pada DNA tetapi tidak pada RNA sehingga menimbulkan kontras antara inti yang berwarna untuk sitoplasma yang berwarna biru (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler  atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat pula digunakan darah EDTA. (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Adapun hasil dari Diferensial Leukosit yang di dapatkan adalah sebagai berikut :









Tabel11 . Jumlah Total Leukosit
No
Spesies darah
                                         % Dari Tabel Leukosit
Neutrofil    Eosinofil  Basofil    Limfosit k      limfosit b     Monosit
1
Sapi
0              7,69             11,53           30                   30,76              11,52
2
Ayam
24,3         5,4                32,4             8,1                  0                     16,21
3
Kambing
22,58        3,22               6,45             0                    10,81               3,22
4
Darah lk lk
43,17        12,5                8,75             6,25              12,5                 6,25
5
Darh wanita
27,66           12,76              14,89           17,02            4,26                  0

Kriteria preparat yang baik :
  1. Lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda sehingga masih ada tempat untuk pemberian label.
  2. Secara granulapenebalannya nampak berangsur-angsur menipis dari kepala ke arah ekor.
  3. Ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek.
  4. Tidak berulang-ulang karena bekas lemak ada di atas kaca benda.
  5. Tidak terputus-putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu.
  6. Tidak terlalu tebal (karena sudut penggeseran yang sangat kecil) atau tidak terlalu tipis (karena sudut penggeseran yang sangat besar).
  7. Pewarnaan yang baik (Imam Budiwiyono 1995).


Jenis Apusan darah:
  1. Sediaan darah tipis
Ciri-ciri sediaan apus darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal, morfologinya lebih jelas, dan perubahan pada eritrosit dapat terlihat jelas.
  1. Ciri-ciri sediaan apus darah tebal yaitu lebih banyak membutuhkan darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tipis, jumlah selnya lebih banyak dalam satu lapang  pandang, dan bentuknya tak sama seperti dalam sediaan apus darah tipis (Imam Budiwiyono 1995).
Diferential Count (Hitung Jenis Leukosit)
      Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/μL.
      Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
      Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit.  Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/μl).
      Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%.
      Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh  eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/µl perlu dikoreksi. Berikut ini merupakan beberapa hasil yang mungkin diperoleh pada hitung jenis leukosit:
Netrofilia
      Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai normal. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif.
      Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
      Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri atau shift to the left.
      Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang kurang.
      Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma
Eosinofilia
      Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai normal. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
Basofilia
      Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai normal. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.
Limfositosis
      Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit melebihi nilai normal.  Limfositosis          dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.
Monositosis
      Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi nilai normal. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur.
      Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.
Netropenia
      Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari nilai normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
      Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
Limfopenia
      Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari nilai normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.
Eosinopenia dan lain-lain
      Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid.
      Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.
 Evaluasi Darah Tepi
Evaluasi darah atau disebut juga sebagai pemeriksaan gambaran darah tepi dapat dilakukan di counting areal setelah melakukan pemeriksaan hitung jenis leukosit, mula-mula dengan pembesaran 100X  kemudian dengan pembesaran 1000 x dengan minyak emersi selanjutnya dilihat masing-masing morfologi selnya. Pemeriksaan hapusan darah tepi terdiri atas (Anonim, 2010)
Pemeriksaan dengan pembesaran kecil (objektif 10x).
  1. Penilaian kwalitet hapusan darah dan penyebaran sel-sel dalam hapusan.
s   Lapisan darah harus cukup tipis sehingga eryhtrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan lainnya.
s   Hapusan tidak boleh mengandung cat.
s   Eryhtrosit, leukosit dan thrombosit harus tercat dengan baik.
s   Leukosit tidak boleh menggerombol pada akhir (ujung) hapusan.
  1. Penafsiran jumlah leukosit dan eryhtrosit, penaksiran penghitungan differential leukosit dan pemeriksaan apakah sel-sel ada yang abnormal. Dilakukan pada daerah area penghitungan dari bagian hapusan tempat eryhtrosit terletak berdampingan, tidak tertumpuk. Bila didapatkan 20-30 leukosit perlapang pandang kira-kira sesuai dengan junlah leukosit 5.000 dan 40-50 perlapang pandang sesuai dengan leukosit 10.000.
Pemeriksaan dengan menggunakan minyak imersi (perbesaran 1000x)
a.Eryhtrosit
Penaksiran jumlahnya dan bagaimana morfologinya. Dillihat adanya eryhtrosit berinti dan dihitung jumlahnya pada 100 leukosit untuk mengkoreksi hitung leukosit cara Turk.
b.Leukosit
Penghitungan Differensial dan dicari kelainan morfologi. Dihitung dalam 100 sel leukosit dan dilihat adanya kelainan selnya.
c.Thrombosit
Dilihat penyebaran, morfologi dan ukuran selnya. Hapusan yang baik thrombosit tidak menggerombol pada bagian akhir hapusan. Bila sukar ditemukan thronbosit berarti jumlahnya sedikit, bila terlihat banyak berarti terjadi peningkatan jumlah. Dilhat juga adanya giant cell yang berukuran 6-8 mikron.
d.   Sel abnormal : Pemeriksaan morfologi. Kelainan-kelainan dan variasi dari leukosit, erythrosit dan thrombosit perlu dicatat. 
Metoda yang digunakan pada praktikum diferensial leukosit adalah siapkan 2 buah object glass, pegang ujung objek glass dengan ibu jari dan teunjuk kiri, letakan 1 tetes darah pada ujung object glass, dengan tangan kanan, pegang object glass lainya. Kemudian letakan object glass tersebut pada ujung object glass yang sudah ditetesi darah membentuk sudut . Kemudian gerkan object glass yang ada di tangan kanan kebelakang sampai menyinggung tetesan darah tadi, sehingga darah meneyabar sepanjang sudut antara kedua object glass. Setelah darah menyebar dengan hati hati dorong kedepan object glass ditangan kanan, maka terbentuklah preparat ulas. Setelah  itu lakukan pewarnaan dengan cara preparat ulas darah yang sudah dikeringkan diudara difiksasi dengan memasukanya kedalam methanol selam 5 smpai 10 menit, angkat dan biarkan kering diudara kemudian masukkan ke dalam larutan zat warna giemsa, biarkan selama 30 menit, angkat preparat dan bilas, kelebihan zat warna dengan menggunakan air karan yang mengalir, kemudian keringkan diudara atau menggunakan kertas isap. Setelah itu periksa preparat yang suah diwarnai di tetesi minyak emersi dan diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 100x.
Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Di dalam darah manusia normal, didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-9sel/mm, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dleukopenia. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putihmempunyai granu (granulosityang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengahsitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi, yang tidak mempunyaigranula, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal.Terdapat dua jenis leukosit agranuler : linfosit sel kecil, sitoplasma sedikit;monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat tiga jenisleukosir granular : Neutrofil, Basofil, dan Asidofil (atau eosinofil) yang dapatdibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral basa dan asam.
Granula dianggap spesifik bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosittertentu dan pada sebagian besar precursor (pra zatnya)..Peningkatan jumlah monosit (disebut monositosis) dapat dijumpai pada : penyakit virus (mononucleosis infeksiosa, parotitis, herpes zoster), penyakit parasitic (demam bintik Rocky Mountain, toksoplasmosis, bruselosis), leukemiamonositik, kanker, anemia (sel sabit, hemolitik), SLE, arthritis rheumatoid, colitisulseratif.Penurunan jumlah monosit dapat dijumpai pada leukemia limfositik, anemiaaplastik.Limfosit berperan penting dalam respons imun sebagai limfosit T danlimfosit B. Dalam keadaan normal, jumlah limfosit berkisar 25-35 % atau 1.7-3.5x10^3/mmk. Jumlah limfosit meningkat (disebut limfositosis) terjadi pada infeksikronis dan virus. Limfositosis berat umumnya disebabkan karena leukemialimfositik kronik. Limfosit mengalami penurunan jumlah (disebut leukopenia)selama terjadi sekresi hormon adenokortikal atau pemberian terapi steroid yang berlebihan.Peningkatan jumlah limfosit dijumpai pada leukemia limfositik, infeksi virus(mononucleosis infeksiosa, hepatitis, parotitis, rubella, pneumonia virus, myelomamultiple, hipofungsi adrenokortikal.
 



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum waktu perdarahan dan waktu beku darah yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa waktu perdarahan pada praktikan ada yang normal dan ada yang tidak normal. Waktu perdarahan ini di pengaruhi oleh kondisi kesehatan dari praktikan. Sedangkan pada waktu beku darah pada praktikan tersebut tidak ada yang normal. Karena tidak terbentuk benang-benang putih (fibrin) pada darah praktikan. Pada proses koagulasi darahtidak didapatkan benang fibrin hingga darah hampir menggumpal. Proses koagulasi darah setiap individu manusia berbeda-beda sesuai dengan golongan darah masing-masing dikarenakan setiap golongan darah meniliki antibodi yang berbeda-beda.  
Dari praktikum laju endap darah dan hemolisis yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan darah setiap 30 menit yang dipengaruhi oleh factor perubahan plasma darah (kekentalan/viskositas plasma), jumlah sel darah merah dan tegangan permukaan. Pada praktikum hemolisis, terjadi hemolisis pada campuran darah sapi dengan NaCL berkonsentrasi 0,25% dan 0,45%. Sedangkan pada preparat natif darah pada darah sapi terdapat leukosit yang ditandai dengan warna ungu, eritrosit dan trombosit yang ditandai dengan warna kebiru-biruan dilihat dengan pembesaran mikroskopi 40x. Sel darah mamalia berbeda dengan sel darah unggas. Sel darah merah mamalia mempunyai bentuk seperti cakram, bikonkaf, sirkular dan tidak berinti. Sedangkan sel darah merah unggas berbentuk lonjong (oval) dan berinti.
Dari praktikum hematokrit yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penentuan nilai hematokrit ada 2 metode, yaitu metode makro hematokrit dan metode mikro hematokrit. Nilai hematokrit setiap ternak berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit yaitu usia, jenis kelamin dan kesehatan. Sedangkan pada praktikum hemoglobin dapat disimpulkan bahwa kadar hematokrit ternak berbeda-beda. Metode yang digunakan yaitu metode sahli yang dengan prinsip yaitu  Hb didalam darah diubah menjadi hematin asam yang berwarna coklat dengan penambahan HCl encer (0,1N).
Dari praktikum menghitung jumlah sel darah dapat disimpulkan bahwa jumlah sel darah pada tiap ternak berbeda. Hal ini dipengaruhi opleh factor spesies, jenis kelamin, kesehatan, dan umur. Larutan pegencer yang digunakan pada tiap ternak juga berbeda-beda, misalnya larutan hayem untuk eritrosit, larutan turk untuk leukosit mamalia dan laritan BCB untuk leukosit unggas.
Dari praktikum diferensial leukosi (leukogram) dapat disimpulkan bahwa bahwa bentuk sel leukosit dibagi menjadi 2, yaitu granulosit dan agranulosit. Dimana pada bentuk sel granulosit terdiri dari neutrofil, eosinofil dan basofil, sedangkan pada sel leukosit agranulosit terdiri dari limfosit kecil, limfosit besar dan monosit. Dan pada praktikum yang praktikan lakukan, sel leukosit yang dilihat pada mikroskop tidak begitu jelas yang dikarenakan terlalu tebal nya lapisan darah yang di tetesi pada object glass, sehingga  bentuk-bentuk sel pada sel leukosit tidak begitu jelas. 

5.2 Saran
Dari kesimpulan diatas sebaiknya praktikan lebih serius dalam pelaksanaan praktikum. Lebih teliti dalam menghitung jumlah sel darah pada kamar hitung. Mendengarkan dengan baik ketika asdos menjelaskan. Harus lebih disiplin dan berhati-hati di dalam melakukan praktikum agar praktikum berjalan dengan lancar dan  hasil yang diperoleh pun memuaskan.













DAFTAR PUSTAKA

Al-Sadi dan Hussein 2010. Dasar-Dasar Histologi. Ed ke-8 Terjemahan Wisnu Gunarso. Erlangga. Jakarta.
Ahmadi, S. A. 2010. Sel Darah Merah (Eritrosit). http://www.syiham.co.cc 

Aida, Yuniarti, 2005, Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi UAJY, Yogyakarta.
Anonim. 2009. Sistem pencernaan. http://dunia2009.blogspot.com. Anonim. 2011. Saluran Pencernaan Kambing. www. bali-baliqu.blogspot.com
Anonim. 2010. Apusan Darah.         http://wulanthestarshine.wordpress.com/2010/05/28/apusan-darah.

         http://wulanthestarshine.wordpress.com/2010/05/28/apusan-darah.
Arifa 2011. Organ Peru-Paru. http://www.news-medical.net
Azhar, M. 2009. Fisiologi III dan IV. http://manusia-planet.blogspot.com
Bajpai. 2009. Kapita Selekta Hematologi, Edisi Empat. EGC : Jakarta.
Budiwiyono, dkk, 2005.Manual Kesehatan Unggas.Kanisius.Yogyakarta.
Buku Ajar Kimia Keperawatan. Banjarbaru: UNLAM, 2009
Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi. edisi 5. jilid 3. Alih Bahasa: Wasman manalu. Erlangga. Jakarta.
Cormack. 2008. Histologi veterinner. UI Press : Jakarta.
Dedy.2009.Fisiologi Jantung & Pembuluh Darah.In www.sidenreng.com
Despopoulos, Agamemnon.2003.Ed. 5. Color Atlas of Physiology.Jerman:
Georg Thieme Verlag.
Dsyoghi,2010.Waktu Koagulasi dan Waktu Pendarahan. \http://dsyoghi.wordpress.com
Ethel Sloane,2004. Anatomi dan Fisiologi Ternak IV. Gadjah Mada Press.Yogyakarta.
Febrinanda, 2008. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Prees. Yogyakarta.
Frandson, R.D. 2000.Anatomi dan Fisiolog Ternak Edisi ke 4. Gadjah Mada          University Press. Yogyakarta
Frandson, R. D. 2002. Anatomi dan Fisiologi ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Frandson, R.D. 2003.Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.
Gandasoebrata R, 2007. Penuntun Laboratorium klinik. Jakarta: Dian Rakyat
Gandasoebrata R. 2009. Penuntun Laboratorium Klinik, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.
Ganong, William F.2002.Ed. 20.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta. EGC.
Guyton, Arthur C. 2005. Fisiologi Manusia dan Mekanismenya terhadap Penyakit. EGC Penerbit Buku kedokteran. Jakarta.

Guyton, Arthur.2006.Ed. 11.Text Book of Medical Physiology.Cina:Elsevier
Saunders.
Harmoko.2010.Makalah Anatomi dan Fisiologi Darah Manusia.In
www.nsharmoko.blogspot.com. 18 Mei 2013
Hendrayani. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press : Jakarta.
Hermanto, Edy.2010. Fisiologi Cardiovascular .inwww.materi-kuliah-akper blogspot.com. 18 Mei 2013
Indah. 2008. Sistem yang Sempurna : Pembekuan Darah
Khairul Osman. 2007. Gangguan Pendarahan. Jakarta: Essential Hematology. 
Kimball.2002. Anatomi dan Fisiologi ternak. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Kimball, John W., 2008. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 2. Alih Bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo dan Nawangsari Sugiri. Erlangga. Jakarta.
Lehninger. 2004. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. . Jakarta:Erlangga.
Miale JB.2002. Laboratory Medicina Hematology. 4th .Ed. St. Louis; The C.V. Mosby Companya, 1972; p 759Moca.2010.Hipertensi.In www.mocacandy.blogspot.com.18 Mei 2013
Nurmila, W. 2008. Laporan Fisiologi Harvard. http://odhemila.blogspot.com. 18 Mei 2013.
Poedjiadi, Anna. 2004. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Praseno, K., Isroli, dan Bambang S. 2003. Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan    Universitas Diponegoro. Semarang.
Puzzy, The Agra. 2009. Pemeriksaan Koagulasi. http://agrapuzzy-perfect.blogspot.com. 
Rabe.T.2003.Ilmu Kebidanan.Hipokreates: Jakarta
Raharjo.2008. Fisiologi Ternak.  Semarang:Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
Sacher,  2004. Tinjauan Klinik Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11, EGC. Jakarta
Sarkar & Devi. 2006. Konsentrasi Sel Darah. EGC : Jakarta. 
Schmid, K. and Friends. 2007. Animal Physiology: Adaptation and Environment. Cambridge University Press. USA.
Shier, David.2004..Edisi 20. Hole'S Human Anatomy &Physiology .New York Srikini. 2000. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Smith. 2008. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan  Hewan Percobaan di   Daerah Tropis . Universitas Indonesia: Jakarta.
Syaifuddin.2009.Ed. 2.Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa
Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika.
Taylor, Sheller E.2003.Health Psychology.Amerika Utara:McGraw-Hill.
Thenawijaya, M. 2005. Uji Biologi. Erlangga: Jakarta
Watson. 2007. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. EGC : Jakarta.
Wibowo, Fredi. 2009. Proses Penggumpalan Darah
Widarto, Heru. 2007. Fakta tubuh . Jakarta: Erlangga.
Wirawan.R,2002. Pemeriksaan : Laboratorium Hematologi Sederhana. Jakarta: FK VI – RSCM

         



 



LAMPIRAN
PEMERIKSAAN HEMATOLOGI
Preparat Natif Darah
      



    Sel Darah Merah Mamalia                         Sel Darah Merah Unggas

    
Gambar sel darah putih mamalia   
  
   Sel Darah Putih Unggas









Waktu Perdarahan
Gambar tangan pada saat di tusuk jarum


Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit



Tabung reaksi yang berisi larutan NaCl dan Darah (sapi,kambing dan ayam)
                                         Hemolisis pada kambing                              

                                          
                                
                        .                   Hemolisis pada ayam
                               
                                           Menghitung jumlah sel darah
                                
                                              Gambar . Menghitung Jumlah Leukosit
Diferensial Leukosit (Leukogram)
           
                          Pembagian Sel Leukosit
 
               Bentuk Neutrofil                              Bentuk Eosinofil
            
          Bentuk Basofil                                      Bentuk monosit

            Bentuk Limfosit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar