BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
kehidupan sehari-hari, selalu saja ada kemungkinan rusak kesinambungan dinding
pembuluh darah. Kecelakaan seperti luka tertusuk benda runcing, tersayat
pisau dan sebagainya, dengan jelas memperlihatkan keluarnya darah sehingga
selalu ada reaksi untuk menghentikannya. Bila tidak diatasi, ada
kemungkinan akan menyebabkan kehilangan darah dan terjadinya
infeksi. Tetapi untuk luka yang kecil yang terkadang bahkan tidak kita
sadari, jarang sekali dilakukan upaya untuk menegndalikan luka
itu. Misalnya pada kasus luka kecil di saluran cerna akibat memakan
sesuatu yang keras dan runcing, misalnya tertelan duri ikan. Bisa saja hal
ini akan menimbulkan infeksi bila tidak ada kesadaran dari individu itu sendiri
untuk mengatasinya. Untunglah di dalam tubuh setiap manusia memiliki suatu
mekanisme penanganan pendarahan atau hemostasis dan pembekuan darah atau
koagulasi.
Darah dalam istilah medis yang berkaitan
dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato yang berrasal dari yunani
haima yag berarti darah. Dimana darah
meupakan suatu caira yang terdapat pada semua jenis makhluk hidup ( kecuali
tumbuhan ) tingkat tinggi dimana darah tersebut berfungsi untuk mengirimkan zat
– zat dan oksigen dibutuhkan oleh jaringan tubuh, untuk mengangkut bahan –
bahan kimia hasil metabolism dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus
atau bakteri.
Dalam
darah terkandung hemoglobin berfungsi
untuk pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertyulang belakang atau
invertebrata berukuran kecil, oksigen langsung meresap dalam plasma darah karan
protein pembawa oksigen terlarut secara habis. Hemoglobin merrupakan protein
pengakut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan bertulang belakang atau
vertebrata. Hemoglobin yang bewarna biru mengandung tembaga dan digunakan oleh
hewan crustaceae.
Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ
pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani haima artinya
darah. Pemeriksaan hematologi digunakan untuk mengetahui sel-sel darah dan
bagia n-bagiannya termasuk fungsi fisiologisnya, antara lain sel darah merah,
sel darah putih, trombosit dan sebagainya. Pemeriksaan hematologi merupakan
pemeriksaan rutin, digunakan untuk pemeriksaan screening awal maupun pemeriksaan
lanjutan.
Lebih dari 75 jenis pemeriksaan hematologi yang terbagi dalam Hematologi
Rutin, Faal Hemostasis dan Hematologi Khusus telah mampu kami kerjakan dengan
menggunakan instrumen berteknologi mutakhir flowcytometry dan Laser photo
detector yang mampu menghitung dan mengidentifikasi sel-sel darah secara otomatis, berkecepatan tinggi, dan hasil analisis
yang sangat akurat. Pada umumnya sampel darah diperoleh dari darah kapiler dan
darah. Darah merupakan jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam
cairan matrik (plasma darah) yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik.
Darah terdiri atas dua komponen utama, yaitu plasma dan sel-sel darah. Plasma
darah merupakan bagian yang cair, terdiri atas serum dan fibrinogen. Sel-sel
darah merupakan bagian darah yang padat, terdiri atas sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit).
Darah
mempunyai fungsi sebagai alat pengangkut yaitu membawa sari-sari makanan
keseluruh tubuh, mengangkut zat-zat sisa metabolisme. Darah juga berfungsi
sebagai alat pertahanan tubuh, yaitu sel-sel darah putih yang berfungsi
membunuh kuman penyakit, dan keping-kepimg darah dapat menutup luka. Selain itu
darah juga berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh.
Pembekuan darah disebut juga koagulasi
darah. Faktor yang diperlukan dalam penggumpalan darah adalah garam kalsium sel
yang luka yang membebaskan trompokinase,trombin dari protombin
dan fibrin yang terbentuk dari fibrinogen.
Mekanisme pembekuan darah adalah sebagai berikut setelah trombosit meninggalkan
pembuluh darah dan pecah, maka trombosit akanmengeluarkantromboplastin.
Bersama-sama dengan ion Ca tromboplastin mengaktifkan protrombin menjadi trombin(Evelyn, 2000).
Trombin adalah enzim yang
mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin
inilah yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal
(Poedjiadi, 2002).Kisaran waktu
terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan
berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi
sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 2003).Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan kalium
sitrat atau natrium sitrat yang menghilangkan garam kalsium (Schmidt, 2007).
Pembuluh darah yang terpotong atau
rusak, maka akan terjadi penyempitan bagian yang terluka. Hal ini terjadi
karena kontraksi miogenik otot polos sebagai suatu plasma
lokal dan karena refleks simpatik yang merangsang serabut adrogenik yang
menginversi otot polos dinding pembuluh lokal. Kontraksi ini membuat darah yang
keluar dari pembuluh darah akan berkurang (Frandson,
2003).
Pendarahan dapat berhenti sendiri
misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit
sampai beberapa jam.Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak
keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme trombosit.Vasa kontraksi timbul
melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot pembuluh darah kemudian anoksia
dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar dari trombosit yang menyebabkan
vasa kontraksi (Schmid, 2007).Kisaran
waktu pendarahan yang normal untuk manusia adalah 15 hingga 120 detik (Guyton, 2005).Trombosit melekat pada
endotel pada tepi-tepi pembuluh yang rusak.Hal ini terjadi sampai elemen-elemen
pembuluh darah yang putus menyempit. Penjedalan darah sangat penting dalam
mekanisme penghentian darah (Guyton,2005).
Pemeriksaan hematologi merupakan
salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan sebagai penunjang atau penegak
diagnosis yang berkaitan dengan terapi dan prognosis (Sarkar&Devi, 2006).
Laju Endap Darah adalah kecepatan
mengendapnya eritrosit dari suatu sampel darah yang diperiksa dalam suatu alat
tertentu yang dinyatakan dalam mm/jam. LED sering juga diistilahkan dalam
bahasa asing BBS (Blood Bezenking Snelheid), BSR (Blood Sedimentation Rate),
ESR (Erytrocyte Sedimentation Rate) dan dalam bahasa indonesianya adalah KPD
(Kecepatan Pengendapan Darah).(Sacher,
2004).
Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahappembentukan
rouleaux, tahap pengendapan dan tahap pemadatan. Dilaboratorium cara untuk
memeriksa Laju Endap Darah (LED) yang seringdipakai adalah cara Wintrobe dan
cara Weetergren. Pada cara Wintrobe nilairujukan untuk wanita 0 — 20 mm/jam dan
untuk pria 0 — 10 mm/jam, sedangpada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita
0 — 15 mm/jam dan untukpria 0 — 10 mm/jam. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi Laju EndapDarah (LED) adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan
faktor teknik. Jumlaheritrosit/ul darah yang kurang dari normal, ukuran
eritrosit yang lebih besardari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi
akan menyebabkan LajuEndap Darah (LED) cepat.
Hemolisis
adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam
medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh
antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan
tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan
pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di
sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis)
medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui
membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung.
Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit
itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam
medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis,
maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma),
akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan
dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit
(plasma).
Pemeriksaan hematologi
merupakan sekelompok pemeriksaan laboratorium yang terdiri atas beberapa macam
pemeriksaan.Pemeriksaan darah rutin meliputi hemoglobin, jumlah lekosit, hitung
jenis lekosit, Laju Endap Darah (LED).Pemeriksaan darah khusus meliputi
gambaran darah tepi, jumlah eritrosit, hematokrit, indeks eritrosit, jumlah
retikulosit dan jumlah trombosit (Budiwiyono,
dkk, 2005).
Hematokrit
adalah persentase volume seluruh eritrosit yang ada didalam darah yang diambil
dalam volume tertentu atau volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan
cara memutarnya didalam tabung khusus dalam waktu dan kecepatan tertentu yang
nilainya dinyatakan dalam persen (%).Penetapan nilai hematokrit merupakan salah
satu pemeriksaan hematologi untuk mengetahui volume eritrosit dalam 100 ml
darah, yang dinyatakan dalam persen (%) (Wirawan.R,2002)
Pigmen merah pembawa
oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul
globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mnegandung suatu
gugusan heme yang dikonjungsi kesuatu peptida. Heme adalah suatu turunan
porifirin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein
globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino.Fungsi hemoglobin dalam
eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida.
Hemoglobin darah dapat
mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air
pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan
oksigen udara yang terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang
tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut
dilepaskan ke sel-sel jaringan tubuh.Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100
ml darah atau dalam gram persen.
Darah adalah suatu jaringan yang bersifat
cair.Darah terdiri dari sel-sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang
bersifat seperti air, ialah plasma.Sel-sel dan fragmen-fragmen sel merupakan
unsur darah yang disebut unsur “jadi”.Sel-sel ini cukup besar sehingga dapat
diamati dengan mikroskop biasa.Ada 3 tipe unsur “jadi” ialah sel-sel darah
merah atau eritrosit, sel-sel darah putih atau leokosit dan keping-keping darah
atau trombosit (Kimball, 2002).
Tes laboratorium yang
paling umum adalah hitung darah lengkap (HDL) atau complete blood
count (CBC). Tes ini, yang juga sering disebut sebagai ‘hematologi’,
memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih
dan trombosit (platelet). Hasil tes menyebutkan jumlah masing-masing
dalam darah (misalnya jumlah sel per milimeter kubik) atau persentasenya.Semua
sel darah dibuat di sumsum tulang.Beberapa obat atau penyakit dapat
merusak sumsum tulang sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah
dan putih.
Sel darah merah, yang
juga disebut sebagai eritrosit, bertugas mengangkut oksigen dari paru ke
semua sel di seluruh tubuh.Fungsi ini dapat diukur melalui tiga macam
tes. Hitung Sel Darah Merah (red blood cell count/RBC) yang
menghitung jumlah total sel darah merah.Hemoglobin (Hb)
yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen
dari paru ke bagian tubuh lain. Hematokrit (Ht atau HCT) mengukur
persentase sel darah merah dalam seluruh volume darah.Pigmen merah pembawa
oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin.
Sel darah putih
(disebut juga leukosit) membantu melawan infeksi dalam tubuh kita.Hitung
Sel Darah Putih (white blood cell count/WBC) adalah jumlah total
leukosit.Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) umumnya berarti
tubuh kita sedang melawan infeksi.Leukosit rendah artinya ada masalah dengan
sumsum tulang.Leukosit rendah, yang disebutleukopenia atau sitopenia,
berarti tubuh kita kurang mampu melawan infeksi.
Jantung (bahasa latin, cor) adalah sebuah rongga, organ
berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang.
Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani cardia untuk
jantung.Ukuran jantung manusia kurang lebih sebesar kepalan tangan seorang
laki-laki dewasa.Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan
endothelium.Jantung terletak di dalam rongga thoracic, dibalik tulang dada atau
sternum. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit kearah kiri(Harmoko.2010)
Dalam
proses perkembangannya, makhluk hidup sangat tergantung pada berfungsinya
system kardiovaskuler secara optimal, dan kelainan yang terjadi pada system ini
akan menyebabkan konsekkwensi klinik serius. Jantung sangat berperang penting
bagi kehiudan manusia karena jantung memiliki fungsi vital yaitu untuk
memompakan darah ke seluruh tubuh atau jaringan tubuh.Darah yang dipompa
menghantarkan nutrisi dan o2 ke jaringan untuk kelangsungan hidupnya, sehingga
jaringan dapat hidup dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.
Denyut nadi dan
tekanan darah merupakan hal yang amat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya
dan khususnya di bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah
merupakan faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai
sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan darah adalah
gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah
(arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan daya
dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan
beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang
ditimbulkan di arteri sewaktu darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama
kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastol adalah tekanan terendah yang
terjadi di arteri sewaktu darah mengalir keluar pembuluh-pembuluh hilir
tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan arteri ini akan berubah
tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya regang dinding pembuluh
darah.
Pengukuran tekanan
darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah arteri dan
dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini tidak lazim
digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak langsung dengan
menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah dilakukan setiap
saat.
Denyut nadi dan
tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah
perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik. Dengan mengamati serta mempelajari
hasil pengaruh perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik terhadap denyut nadi
dan tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian gambaran mengenai sistem
kardiovaskuler seseorang.
Denyut nadi dan tekanan
darah merupakan hal yang sangat penting dalam bidang kesehatan pada umumnya dan
khususnya di bidang Kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan darah
merupakan faktor-faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai
sistem kardiovaskuler seseorang.
Tekanan
darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding
pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi
untuk menghasilkan daya dorong terhadap darah dan tidak bisa terlalu tinggi
yang dapat menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol
adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri saat darah dipompa kedalam
pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan tekanan diastole
adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri saat darah mengalir keluar
pembuluh-pembuluh hilir tersebut sewaktu relaksasi ventrikel. Tekanan
arteri ini akan berubah tergantung pada volume darah dalam pembuluh dan daya
regang dinding pembuluh darah (Despopoulos,
Agamemnon.2003)
Pengukuran tekanan
darah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung dengan memasukkan kanula kedalam pembuluh darah
arteri dan dimonitor dengan alat pendeteksi tekanan darahnya. Cara ini
tidak lazim digunakan karena tidak mudah pelaksanaannya. Cara tidak
langsung dengan menggunakan alat sphygmomanometer, yang lebih nyaman dan mudah
dilakukan setiap saat.
Detak jantung atau juga
dikenal dengan denyut nadi adalah tanda penting dalam bidang medis yang
bermanfaat untuk mengevaluasi dengan cepat kesehatan. Setiap orang bisa
mengukur denyut jantungnya sendiri tanpa perlu menggunakan
stetoskop. Untuk mengukur denyut jantung di rumah bisa dengan cara
memeriksa denyut nadi. Tempatkan jari telunjuk dan jari tengah pada
pergelangan tangan atau tiga jari pada sisi leher. Saat merasakan denyut
nadi, lihatlah jam untuk mneghitung jumlah denyut selama 15 detik. Hasil
yang didapatkan di kalikan empat, maka didapatkan jumlah denyut jantung Anda
permenit.
Denyut
nadi dan tekanan darah seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya
adalah perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik.
Dengan mengamati dan
mempelajari hasil pengaruh perubahan posisi tubuh dan aktivitas fisik terhadap
denyut nadi dan tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian gambaran tentang
sistem kardiovaskuler seseorang.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum preparat natif
darah adalah untuk unntuk mengamati, memperhatikan bentuk sel darah (eritrosit
dan leukosit) mamalia dan unggas, mengamati ada tidaknya sel yang mengalami
pengkerutan (krenasi), dan bentuk rouleaux,
dan mengamati ada tidaknya mikroorganisme didalam tubuh.
Sedangkan manfaat dari praktikum preparat natif darah adalah
kita dapat melihat langsung bentuk sel darah merah (eritrosit dan leukosit)
dari hewan mamalia dan unggas melalui mikroskop, dan dapat memahami serta
melihat bentuk sel yang mengalami pengkerutan (krenasi) dan bentuk sel yang rouleaux
Tujuan dari praktikum waktu
perdarahan adalah untuk mengetahui waktu perdarahan dengan metode duke.
Sedangkan tujuan dari waktu beku darah adalah untuk menentukan waktu beku darah
(waktu koagulasi darah) ternak atau manusia.
Manfaat dari praktikum waktu
perdarahan dan waktu beku darah yaitu kita bisa mengetahui waktu perdarahan
yang normal, dan sebab mengapa waktu perdarahan yang tidak normal dapat
terjadi. Dan juga, kita bisa mengetahui proses terjadinya waktu beku darah.
Tujuan dari praktikum laju endap
darah ini adalah untuk menentukan laju endap darah dengan menggunakan tabung
wastergreen, sedangkan tujuan dari praktikum hemolisis adalah untuk mengamati hemolisis
darah dan keriput pada membrane peritrosit (krenasi) akibat perubahan laruta
medium darah dan untuk menentukan batas konsentrasi NaCL dari medium dimana
eritrosit mulai lisis (minimum resistence) dan hemolisis total (maximum
resistence).
Manfaat dari praktikum laju endap
darah dan hemolisis adalah mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara
pengambilan sampel yang representatif dan benar dan bagaimana cara menghitung
kadar air dan berat bahan kering.
Tujuan dari praktikum hematokrit
adalah untuk menentukan nilai hematokrit (% volume eritrosit didalam darah)
dengan metode mikrohematokrit. Tujuan dari hemoglobin adalah untuk menentukan
kadar hemoglobin didalam darah menurut metode sahli.
Manfaat dari praktikum hematokrit
dan hemoglobin adalah mahasiswa dapat mengetahui nilai hematokrit dan kadar
hemoglobin pada hewan dan nilai normal hematokrit dan kadar normal hemoglobin.
Tujuan dari praktikum menghitung
jumlah sel darah adalah untuk mengetahui jumlah sel darah merah dan jumlah sel
darah putih sapid an ayam per mm3 darah.
Manfaat dari praktikum menghitung
jumlah sel darah adalah untukmengetahui bagaimana cara menghitung jumlah sel
darahmerah dan putih pada sapi , ayam dan kambing.
Tujuan dari praktikum pemeriksaan
tekanan darah yaitu mempelajari cara pengukuran tekanan darah secara tidak
langsung. Tujuan pada praktikum bunyi jantung yaitu untuk mendengarkan bunyi
jantung, dan tujuan pada praktikum test kemampuan fisik adalah untuk menentukan
kemampuan fisik (kesehatan) seseorang dengan menilai kesanggupan jantung dan
paru-parunya melalui frekuensi denyut nadi setelah melakkan suatu
latihan/kegiatan.
Manfaat
dari praktikum pemeriksaan tekanan darah adalah kita mengetahui bagai mana cara
pengukuran tekanan darah secara tidak langsung. Tujuan pada praktikum bunyi
jantung yaitu untuk mendengarkan bunyi jantung, dan tujuan pada praktikum test
kemampuan fisik adalah untuk menentukan kemampuan fisik (kesehatan) seseorang
dengan menilai kesanggupan jantung dan paru-parunya melalui frekuensi denyut
nadi setelah melakkan suatu latihan/kegiatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah adalah cairan yang terdapat pada
semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan
zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut
bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai
pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah
diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani
haima yang berarti darah. (Al-Sadi dan Hussein 2010)
Darah manusia
adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di
seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut
zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh
dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah. Darah
manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah
tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. (Hoffbrand, A.V & Petti, J.E 2007)
Darah memiliki dua komponen penyusun yaitu plasma dan sel
darah. Plasma darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna
kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60% dari volume darah, sedangkan sel
darah adalah komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (Leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Darah merupakan
jaringan yang berbentuk cairan yang mengalir ke seluruh tubuh melalui vena dan
arteri yang memasok oksigen, dan bahan makanan ke seluruh jaringan tubuh serta
mengambil karbondioksida dan sisa metabolisme dari jaringan (Anonim, 2009).
Waktu pendarahan adalah interval
waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh darah yang luka sampai darah
berhenti mengalir keluar dari pembuluh darah.Penghentian pembuluh darah ini
disebabkan terbentuknya agregat yang menutupi celah pembuluh darah yang rusak.(Dsyoghi, 2010)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu
pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur,
besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu
pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik.(Dsyoghi, 2010)
Perdarahan yang hebat
dapat terjadi karena kegagalan dalam mekanisme pembekuan darah normal. Bekuan
mulai terbentuk dalam 15 sampai 20 detik bila trauma pembuluh sangat hebat, dan
dalam 1 sampai 2 menit bila traumanya kecil. (Puzzy, 2009)
Perdarahan yang spontan
juga dapat terjadi karena kegagalan untuk membentuk sumbatan
eritrosit.Perdarahan kemudian dapat terjadi karena pergerakan otot biasa atau
trauma minimal.(Indah, 2008)
Perdarahan dapat
dihentikan dengan cara pembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk disekitar
sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikannya. (Puzzy, 2009)
Tabung
kapiler dengan anti koagulan dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan
seperti darah kapiler, sedangkan tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai
bila menggunakan darah dengan anti koagulan seperti darah vena (Khairul,2007)
Menurut
Campbell (2003), proses penggumpalan darah dimulai
ketika endothelium pembuluh MisaK akibat adanya luka dan jaringan ikat pada
dinding terpapar ke darah. Trombosit menempel ke wa'. Kolagen dalam jaringan
ikat tersebut dan mengeluarkan fibrinogen yang membuat trombosit riaur-a
berdekatan dan menjadi lengket, Trombosit selanjutnya membentuk sumbat yang
memberikan reriindungan darurat sehingga tidak terjadi kehilangan
darah.Penutupan ini diperkuat oleh gumpalan.
Waktu beku darah biasa
disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi
penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit (Wibowo, 2009)
Cormack.
(2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan
darah akibat lepasnya hoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis
dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam
empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari
stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili Elapidae.
Faktor terpenting pemeriksaan LED adalah tabung harus betulbetul tegak
lurus, perubahan dan menyebabkan kesalahan sebesar 30%. Selain itu selama
pemeriksaan rak tabung tidak boleh bergetar atau bergerak. Panjang diameter
bagian dalam tabung LED juga mempengaruhi hasil pemeriksaan.(Bajpai,2009).
Pembacaan metode westergren dilihat
dengan panjangnya kolomplasma di atas tiang eritrosit dengan memperhatikan
beberapa hal yaituwarna plasma di atas eritrosit, kejernihan plasma misalnya
menjadi keruholeh karena hiperlipemia, lapisan leukosit pada kolom eritrosit
akanmeningkat oleh leukositosa dan leukimia, tajamnya batas antara darah
danplasma yang menjadi tidak tajam oleh anisositosa (Wagener, 2002).Penting sekali untuk menaruh pipet atau tabung LED
dalam sikap tegaklurus, selisih kecil dari garis vertikal sudah dapat
berpengaruh banyakterhadap hasil LED. (Hendrayani,2007)
Cormack. (2008)
mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya
hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat
disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam
empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari
stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili
Elapidae.
Sarkar & Devi
(2006) menyatakan bahwa hemolisis secara langsung tidak
dibutuhkan penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak langsung kehadiran
lesitin pada sel darah merah atau penambahan dari luar sangat diperlukan.Secara
umum, mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap. Tahap pertama lesitin dalam
sel darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah menjadi lisolesitin oleh
lesithinase A. Lisolesitin merupakan bentuk lesitin
yang memiliki aktivitas hemolitik. Selanjutnya, lisolesitin
menyebabkan sel darah merah lisis dengan menyerap material lemak dinding
sel sehingga merusak keutuhan struktur sel darah.
Hemolisis adalah
peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan
disekelilingnya, keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran
sel darah merah.Membran sel darah termasuk membran yang permeabel selektif.
Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+,
PO4, HCO3-, Cl-, dan substansi seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam
urat. Sebaliknya sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+,
fosfat organik, hemoglobin dan protein plasma (Watson, 2007).
Ada dua macam hemolisis yaitu
hemolisis osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara
tekanan osmosa cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada
disekeliling sel darah merah. Tekanan osmosa sel darah merah adalah sama dengan
osmosa larutan NaCl 0, 9 %, bila sel darah merah dimasukkan kedalam larutan
NaCl 0, 8 % belum terlihat adanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang
dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 4 % hanya sebagian saja dari sel darah merah
yang mengalami hemolisis dan sebagian lagi sel darah merahnya masih utuh.
Perbedaan ini desebabkan karena umur sel darah merah yang sudah tua, membran
sel mudah pecah, sedangkan se darah merah yang muda, membran selnya masih kuat.
Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0, 3 %, semua sel darh
merah akan mengalami hemolisa sempurna. Yang kedua, hemolisis kimiawi membran
sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform,
aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking,
dan garam empedu. (Wulangi, 2009)
Sel darah merah yang
berada di luar cairannya dapat mempertahankan bentuknya apabila dimasukkan
dalam cairan yang isotonis dengan sitoplasmanya. Apabila sel darah merah berada
di dalam cairan yang hipertonis maka sel darah merah akan mengalami pengerutan
(krenasi), apabila sel darah merah berada dalam cairan yang bersifat hipotonis
maka sel akan pecah dan hemoglobin akan ke luar (hemolisis) (Srikini,2000).
Frandson
(2000) menyatakan bahwa keping-keping darah atau trombosit bentuknya tidak
teratur, tidak memiliki inti sel atau nucleus dan sifatnya mudah pecah.
Alat yang dipakai untuk pemeriksaan
hematokrit sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung tersebut dibuat khusus
untuk mikro hematokrit dengan panjangnya 75 mm dan diameter dalamnya 1,2 sampai
1,5 mm. Ada pula tabung yang sudah dilapisi heparin, tabung tersebut dapat
dipakai untuk darah kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin yang
dipergunakan untuk darah oxalat atau darah EDTA dari vena (Gandasoebrata, 2007).
Metode pemeriksaan
secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifugedalam
jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah
dalam keadaan mapat.Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume
darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit (Gandasoebrata, 2007).
Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang
mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan
sebagai persen atau pecahan desimal (Simmons
A, 2001). Penetapan nilai hematokrit cara manual dapat dilakukan dengan
metode makrohematokrit atau metode mikrohetokrit. Pada cara makrohematokrit
digunakan tabung Wintrobe yang mempunyai diameter dalam 2,5 – 3 mm,panjang 110
mm dengan skala interval 1 mm sepanjang 100 mm dan volumenya ialah 1 ml. pada
cara mikrohematokrit digunakan tabung kapiler yang panjangnya 75 mm dan
diameter dalam 1 mm, tabung ini ada dua jenis, ada yang dilapisi antikoagulan
Na2EDTA atau heparin dibagian dalamnya dan ada yang tanpa koagulan. Tabung
kapiler dengan anti koagulan dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan
seperti darah kapiler, sedangkan tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai
bila menggunakan darah dengan anti koagulan seperti darah vena (Wirawan,dkk 2002). Metode mikrohematokrit
mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana.Metode mikrohematokrit proporsi
plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat pembaca skala hematokrit.
Pemeriksaan hematokrit
merupakan salah satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan
dilaboratorium berguna untuk membantu diagnosa berbagai penyakit diantaranya
Demam Berdarah Dengue (DBD), anemia, polisitemia. Penetapan nilai hematokrit
dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Pada cara makro digunakan
tabung wintrobe, sedangkan pada cara mikro digunakan pipet kapiler (Wirawan, dkk, 2002).
Eritrosit
merupakan sarana transportasi gas oksigen dan karbondioksida.Hal ini disebabkan
karena eritrosit memiliki pigmen hemoglobin.Hemoglobin mampu mengikat O2dan
CO2 (Praseno et al, 2003).
Hemoglobin merupakan
zat padat dalam eritrosit yang menyebabkan warna merah.Dibandingkan dengan
sel-sel lain dalam jaringan, eritrosit kurang mengandung air. Tekanan osmosis
dalam sel sama dengan tekanan osmosis pada plasma. Bila terjadi perubahan tekanan
osmosis pada larutan di luar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besar
sel. Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk ke dalam sel dan sel akn
bertambah besar kemudian pecah dan hemoglobin akan keluar dari sel. Proses ini
disebut hemolisis. Proses ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti adanya
pelarut lemak misalnya eter dan kloroform (Poejiadi,
2004).
Hemoglobin
berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen (O2) maupun karbondioksida
(CO2).Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke sel-sel jaringan yang terdapat
didalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi, yang membutuhkan besi dalam
bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi tersebut menuju sumsum tulang
sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna membentuk eritrosit (Frandson, 2002).
Kadar hemoglobin pada
umumnya diukur dalam gram per 100 ml darah. Karena adanya hemoglobin, darah
dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan
dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama(Smith, 2008).
Pada dasarnya sel-sel darah dapat dibagi atas
tiga unsur erytrosit, leukosit dan trombosit.Diantara tipe tersebut, sel-sel
darah merah merupakan yang paling banyak jumlahnya (Raharjo, 2008).
Fungsi utama dari
sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit, adalah mengangkut
hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan.
Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga mempunyai fungsi lain.
Contohnya, ia mengandung banyak sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis
reaksi antara karbon dioksida dan air, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi
bolak-balik ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam
darah bereaksi dengan banyak sekali karbon dioksida, dan dengan demikian
mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonakt
(HCO3-) (Lehninger. 2004)
Prinsip pemeriksaan ini
adalah darah diencerkan dalam pipet eritrosit kemudian dimasukkan dalam kamar
hitung.Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan
faktor konversi jumlah eritrosit per ul darah.Sebagai larutan pengencer
digunakan larutan Hayem (Gandasoebrata,
2009).
Eritrosit dapat
dihitung di laboratorium dengan menggunakan alat, yaitu hemositometer dan
menggunakan larutan hayem. Larutan hayem digunakan untuk menghitung jumlah sel
darah merah, karena larutan ini dapat melisiskan seluruh sel yang ada di darah,
kecuali sel darah merah sehingga sel darah merah dapat dihitung (Aida, 2005).
Komposisi
sel darah putih dengan nilai normalnya yaitu Leukosit pada manusia memiliki
nilai normalnya 5000 – 10.000/μL, dimana leukosit terdiri dari granular
meliputi netrofil 60 – 70%, eosinofil 2 – 4%, basofil 0.5 – 1%; dan Agranular
meliputi limposit 20 – 25% dan monosit 3 – 8% (Azhar, 2009).
Jumlah leukosit
dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan
lain-lain . Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar
10.000—30.000/μl.Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara
13.000 — 38.000 /μl.Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada
umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 — 11.000/μl.Pada keadaan
basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 —
10.0004/μ1.’Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang
sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/μl4 (Miale, 2002).
Larutan
yang digunakan dalam menghitung jumlah sel darah putih yaitu larutan turk.
Larutan turk adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel darah
putih sehingga mempermudah dalam perhitungannya, dimana larutan turk ini
terdiri dari glacial acetid acid 2 ml, gentian violet 1%, aquades 1 ml dan
aquadestilata 100 ml (Azhar, 2009).
Sel-sel darah merah
berbentuk cakram dengan diameter 75 nm, ketebalan di tepi 2 nm dan ketebalan di
tengah 1 nm.Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang.Sel-sel pembentuk
sel darah merah ini disebut eritroblast, tetapi pada embrio (bayi), sel-sel
darah merah dibentuk di dalam hati dan limpa (Ahmadi, 2010).
Sistem
kardiovaskuler terdiri dari jantung dan dua sistem veaskuler, sirkulasi
sistemik dan sirkulasi pulmonalis. Jantung selanjutnya memompa darah ke
kedua sistem vastikuler - sirkulasi tekanan pulmonalis lambat dimana disini
terjadi pertukaran gas, dan kemudian sirkulasi sistemik, dimana darah dialirkan
ke setiap organ, sesuai suplai dari permintaan metabolisme.Tekanan darah dan
aliran darah berperan penting untuk mengontrol melalui nervus otonom
sistem. Dan juga berpengaruh pada pembedahan dan anatesi obat.pengetahuan
yang baik tentang fisiologi kardiovaskuler merupakan kebutuhan untuk anastesi
praktis yang baik (benar) (Guyton and
Hall,2006).
Bunyi jantung secara tradisional
digambarkan sebagai lup-dup dan dapat didengar melalui stetoskop. “Lup” mengacu
pada saat katup A-V menutup dan “dup” mengacu pada saat katup semilunar menutupHitung jenis leukosit dilakukan pada
counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran
1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang
akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga
eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak
boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Tekanan darah adalah
tekanan yang diberikan oleh darah setiap satuan luas pada pembuluh darah.
Tekanan darah terdiri atas tekanan
sistol dan diastol. Tekanan dipengaruhi oleh curah jantung dengan resistensi
perifer.Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh tiap – tiap
ventrikel per menit.Dua faktor penentu curah jantung adalah kecepatan denyut
jantung dan volume sekuncup.Semakin teregang jantung, semakin meningkat panjang
serat otot awal sebelum kontraksi. Peningkatan panjang menghasilkan gaya yang
lebih kuat pada kontraksi jantung berikutnya dan dengan demikian dihasilkan
volume sekuncup yang lebih besar. Hubungan intrinsik antara volume diastolik
akhir dan volume sekuncup ini dikenal sebagai hukum Frank – Starling pada jantung ( Febrinanda, 2008 ).
Tekanan
darah adalah gaya yang darah berikan terhadap dinding pembuluh darah. Selama sistol, gaya pada dinding
pembuluh darah yang terbesar; sewaktu diastole, jatuh ke titik terendah. Pengukuran tekanan darah adalah rasio
dari kedua tekanan (Pearce, Evelyn.2008).
Tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang pertama
adalah curah jantung.Tekanan terhadap dinding arteri lebih besar sehingga
volume aliran darah meningkat. Faktor kedua yang mempengaruhi tekanan darah resistensi
perifer, atau resistensi terhadap aliran darah dalam arteri kecil dari tubuh
(arteriol). Resistensi perifer dipengaruhi oleh visikositas (ketebalan)
dari sel-sel darah dan jumlah plasma darah. Visikositas darah yang sangat tinggi menghasilkan tekanan
darah tinggi.Selain itu, tekanan darah dipengaruhi oleh struktur dinding
arteri. Jika dinding telah rusak, jika tersumbat oleh endapan limbah, atau jika
telah kehilangan elastisitas, tekanan darah akan lebih tinggi. Tekanan darah tinggi, disebut hipertensi, yaitu akibat curah
jantung terlalu tinggi atau resistensi perifer terlalu tinggi(Taylor,
Sheller E.2003).
Tekanan darah dalam arteri brakialis pada orang muda dewasa
pada posisi duduk istirahat duduk atau berbaring menedekati 120/70 mm Hg. Cukup
kelihatan lebih rendah pada malam hari dan pada perempuan lebih rendah
dibanding laki-laki. Karena tekanan arteri adalah hasil curah jantung dan
tekanan perifer, dipengaruhi oleh kondisi yang mempengaruhi salah satu atau
kedua faktor tersebut.Emosi misalnya meningkatkan curah jantung, dan mungkin sulit
menentukan tekanan darah istirahat sebenarnya pada orang yang gelisah atau
tegang. Secara umum, peningkatan curah jantung meningkatkan tekanan sistolik,
sedangkan peningkatan tahanan perifer meningkatkan tekanan diastolic (Dedy.2009)
Berbagai penelitian membuktikan bahwa daya tahan
kardiorespirasi adalah salah satu indikator obyektif dalam mengukur aktivitas
fisik seseorang dan merupakan komponen terpenting dalam meningkatkan kebugaran
jasmani seseorang. Olahraga menyebabkan perubahan besar dalam sistem sirkulasi
dan pernapasan, dimana keduanya berlangsung bersamaan sebagai bagian dari
respon homeostatik. Respon tubuh terhadap olahraga yang melibatkan kontraksi
otot dapat berupa peningkatan kecepatan denyut jantung (Necel, 2009).
. Bunyi ketiga atau keempat disebabkan vibrasi yang
terjadi pada dinding jantung saat darah mengalir dengan cepat ke dalam
ventrikel, dan dapat didengar jika bunyi jantung diperkuat melalui mikrofon.
Murmur adalah kelainan bunyi jantung atau bunyi jantung tidak wajar yang
berkaitan dengan turbulensi aliran darah. Bunyi ini muncul karena defek pada
katup seperti penyempitan (stenosis) yang menghambat aliran darah ke depan,
atau katup yang tidak sesuai yang memungkinkan aliran balik darah (Sloane, 2004).
Laskowski
(2010) menambahkan ada banyak faktor yang dapat
mempengaruhi jumlah denyut jantung seseorang, yaitu aktivitas fisik atau
tingkat kebugaran seseorang, suhu udara disekitar, posisi tubuh (berbaring atau
berdiri), tingkat emosi, ukuran tubuh serta obat yang sedang dikonsumsi. Denyut
jantung seseorang juga dipengaruhi oleh usia dan aktivitasnya. Olahraga atau
aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah denyut jantung, namun jika jumlahnya
terlalu berlebihan atau di luar batas sehat dapat menimbulkan bahaya.
Ventrikel kembali menjadi rongga tertutup dalam
periode relaksasi isovolumetrik karena katup masuk dan katup keluar menutup.
Jika tekanan dalam ventrikel menurun tajam 100 mmHg sampai mendekati nol, jauh
di bawah tekanan atrium, katup A-V membuka dan siklus jantung dimulai kembali. (Ethel Sloane,2004)
Pada
Harvard Step Test menggunakan parameter waktu lama kerja dan frekuensidenyut
nadi, Denyut nadi dapat diketahui dengan menghitung denyut arteri radialis,
suaradetak jantung, atau dengan bantuan eleftrokardiogram. Dengan memakai kedua
factor tersebut dapat dihitung indeks kesanggupan badan, yang dibedakan
antara kesanggupan kurang sampai
kesanggupan amat baik ( Sherwood, L. 2001).
Osmoregulasi adalah
kemampuan organisme untuk mempertahankan keseimbangan kadar dalam tubuh,
didalam zat yang kadar garamnya berbeda. (Kashiko.2000:389)
Secara sederhana hewan dapat diumpamakan sabagai suatu larutan yang terdapat di dalam suatu kantung membran atau kantung permukaan tubuh.
Secara sederhana hewan dapat diumpamakan sabagai suatu larutan yang terdapat di dalam suatu kantung membran atau kantung permukaan tubuh.
Penyebab
penting dari peningkatan tekanan sistolik adalah penurunan distensibilitas
arteri; pada tingkat yang sama dengan curah jantng, tekanan sistolik lebih
tinggi pada orang tua dibandingkan orang muda karena peningkatan volume dari
sistem arteri selama sistolik lebih sedikit untuk mengakomodasi jumlah darah
yang sama(Ganong, William F.2002).
Faktor-faktor yang mempertahankan Tekanan Darah
:a) Kekuatan memompa jantung.b) Banyaknya darah yg
beredar.c) Viskositas darah.d) Elastisitas dinding pembuluh
darah.e) Tahanan tepi.Faktor yang mempengaruhi denyut nadi :a) Posisi
: lebih cepat jika berdiri dibanding tiduran.b) Umur : anak lebih cepat
dari pada dewasa.c) Jenis kelamin : pria lebih cepat dari pada
wanita.d) Exercise : exercise akan meningkatkan.e) Emosi : emosi kuat
akan meningkatkan pulse(Syaifuddin.2009)
Keseluruhan
sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri, arteriola,
kapiler, venula dan vena.Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung
dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi.Kelenturannya membantu mempertahankan
tekanan darah di antara denyut jantung.Arteri yang lebih kecil dan arteriola
memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau
menurunkan aliran darah ke daerah tertentu(Moca.2010).
Jantung adalah organ
vital terpenting yang berfungi memompa darah ke seluruh tubuh yang
membentuk sistem sirkulasi darah dalam tubuh bersama pembuluh daraharteri dan
pembuluhdarah vena.Selain organ-organ yang telah disebutkan di atas masih ada
lagi organ vital yangmembentuk sistem di dalam tubuh yang memiliki fungsi
penting untuk kelangsungan hidup manusia. Dalam praktikum anatomi
fisiologi manusia, mahasiswa dikenalkan mengenai organ-organ dalam melalui alat
peraga (Shier, David.2004)
Dalam keadaan normal terdengar dua
bunyi jantung melalui sebuah stetoskop selama setiap siklus jantung, suara
pertama berbunyi "lub" yang bernada rendah dan sedikit memanjang dan
disebabkan oleh getaran yang ditimbulkan oleh penutupan mendadak katup mitralis
dan trikuspidalis pada awal sistolik ventrikel.Suara kedua adalah
"dup". Yang lebih singkat dan bernada tinggi yang disebabkan
oleh getaran pada penutupan katup aorta dan pulmonaris tepat setelah akhir
sistolik ventrikel.Pada orang dewasa muda, terdengar bunyi ketiga yang lembut
dan bernada rendah pada sekitar sepertiga jalan menuju diastolik. Suara
ini bersamaan dengan periode pengisian cepat ventrikel dan mungkin disebabkan
oleh getaran yang ditimbulkan oleh aliran darah masuk.Kadang-kadang terdengar bunyi
keempat sesaat sebelum bunyi pertama saat tekanan atrium tinggi atau ventrikel
kaku dalam keadaan seperti hipertrofi ventrikel. Bunyi ini disebabkan oleh
pengisian ventrikel dan jarang terdengar pada orang dewasa normal (Hermanto,
Edy.2010).
Tes
Harvard merupakan tes ketahanan terhadap kardiovaskuler.Tes ini menghitung
kemampuan untuk berolahraga secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama
tanpa lelah. Subjek (orang yang meelakukan tes) melangkah naik dan turun pada
papan setinggi 45 cm. jumlah langkah yaitu 30 langkah permenit dalam 5 menit
atau sampai subjek kelelahan. Kelelahan adalah ketikaa saat subjek tidak mampu
lagi mempertahankan langkahnya dalam 15 detik. Subjek didudukkan dan merupakan
akhir dari tes, dan denyut jantungnya kemudian dihitung dalam 1 sampai 1,5, 2
sampai 2,5, dan 3 sampai 3,5 menit (Nurmila,
2008).
BAB III
MATERI DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat Pratikum Anatomi dan Fisiologi Ternak mengenai Preparanatif
darah, waktu perdarahan, Waktu beku darah, Laju endap darah, Hemolisis dan
Ketahanan Osmotik Eritrosit, hematokrit, Hemoglobin, Menghitung Jumlah Sel
Darah, Diferensial leukosit, dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 Maret – 25
April 2015, pukul 07.30 WIB Sd s/d selesai. Bertempat di Laboratorium Anatomi
dan Fisiologi Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Jambi.
3.2 Materi
Preparat Natif Darah
Alat
dan bahan yang digunakan dalam praktikum preparat natif darah adalah alcohol
70%, larutan garam faali (NaCl fisiologis/NaCl 0.9%), darah sapi, kambing dan
ayam yang sudah dibari antikoagulan, jarum penusuk pembuluh darah, kapas,
kertas tisuue, kaca benda (object glass, kaca penutup (cover glass), dan
mikroskop.
Waktu Perdarahan
Alat dan
bahan yang digunakan
dalam praktikum waktu perdarahan dan
waktu beku darah yaitu lanset steril, kapas atau tissue, alcohol 70%, alat
pencatat waktu (stopwatch), jarum pentul, gelas arloji berlapis parafin, pipa
kapiler tanpa heparin, ujung jari praktikan, darah sapi, kambing dan ayam.
Waktu Beku Darah
Alat dan bahan yang digunakan pada waktu beku darah adalah
alcohol 70 %, lanset steril, Jarum Pentul, gelas arloji berlapis parafin, pipa
kapiler tanpa heparin , kapas, alat pencatat waktu ( stopwatch).
Laju Endap Darah
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum laju endap darah dan hemolisis yaitu darah sapi, kambing dan
ayam yang sudah diberi anti koagulan, tabung wastergreen dengan raknya, larutan
NaCL dengan konsentrasi 0,9%, 0,65%, 0,45%, 0,25%, dan 3,0%, darah sapi,
kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, tabung reaksi (5buah), object
glass, pipet pasteur dan mikroskop.
Hemolisis dan Ketahanan
Osmotik
Adapun alat dan bahan yang di gunakan pada hemolisis adalah
larutan nacl dengan konsentrasi 0,9%, 0,65%, 0,45%, 0,25%, dan 3,0%, larutan 1%
urea dalam aquades, larutan 1% saponin dalam NaCl 0,9%, Darah Sapid an Ayamyang
sudah diberi anti koagulan. Tabung raksi 10 buah, objek glass, cover glass,
pipet pastur dan mikroskop.
Adapun
pada ketahanan osmotic adalah Larutan
Nacl 1% dan Aquadestilata, 20 tabung reaksi besrta raknya ,pipet, glass object,
kaca penutup dan mikroskop.
Hematokrit
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum hematokrit pipet kapiler, darah ayam , sapi, dan kambing,
lilin penyumbat dan sentrifus.
Hemoglobin
Alat dan
bahan yang
digunakan dalam praktikum hemoglobin adalah
darah sapi , ayam kambing ,yang telah diberi anti koagualan, Hcl 0,1 N, dan
Aquades, Kertas saring, Pipet pastur, pengukur waktu. Hemometer SAhli terdiri
dari tabung sahli, pipet sahli, standar warna pengaduk.
Menghitung Jumlah sel
Darah
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum meghitung jumlah sel darah yaitu darah sapi, kambing dan ayam
yang sudah diberi antikoagulan, larutan pengencer (larutan Hayem untuk eritrosit,
larutan Turk untuk leukosit mamalia dan larutan BCB (Briliant Cresyl Blue) untuk unggas), Hemocytometer, pipet pengencer
untuk eritrosit berskala 0-0.5-1-101, pipet pengencer untuk leukosit berskala
0-0.5-1-11, tissue/kertas saring, mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x.
Diferensial Leukosit (
Leukogram)
Alat
dan bahan yang digunakan dalam praktikum diferensial leukosit (leukogram)
yaitu, darah sapi, kambing dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, methanol
absolute, larutan Giemsa, aquadest, minyak emersi, object glass, bak celup
untuk fiksasi dan bak celup untuk pewarnaan, differensial counter, dan
mikroskop.
3.3 Metoda
Preparat Natif Darah
Metoda
yang dilakukan pada preparat natif darah yaitu, pertama-tama bersihkan
alat-alat yang akan digunakan, kemudian bersihkan ujung jari praktikan atau
lokasi pengambilan darah pada ternak dengan alcohol 70%. Teteskan 1-2 tetes larutan fisiologis (NaCl
0.9%) pada object glass, setelah itu ambil darah sapi kemudian teteskan darah
pada object glass yang sudah diberi antikoagulan. Campur dengan hati-hati dan
tutup dengan cover glass. Amatilah dengan mrenggunakan mikroskop dengan
pembesaran 10x dan 40x, kemudian lakukan hal yang sama dengan menggunakan darah kambing dan ayam
yang sudah diberi antikoagulan. Gambarkan lah hasil pengamatan saudara yang
dilihat pada mikroskop.
Waktu Perdarahan
Metoda yang
dilakukan pada waktu perdarahan yaitu, pertama-tama bersihkan ujung jari
praktikan dengan alcohol 70% kemudian bersihkan dengan kapas atau tissue
bersih, lalu tusuk ujung jari praktikan menggunakan lanset steril hingga mengeluarkan
darah. Catat waktu dari saat darah mulai keluar sampai perdarahan berhenti dan
usaplah darah tersebut dengan kapas/tissue. Kemudian biarkan darah keluar
lagi,.Lakukan kegiatan tersebut sampai 30 detik sampai darah tidak keluar atau
terhenti, dan catat waktu perdarahan (waktu satu) sampai perdarahan berhenti
(waktu dua).
Waktu Beku Darah
Metoda yang dilakukan pada waktu beku darah yaitu pertama
bersihkan ujung jari praktikan atau alokasi pengambilan darah pada ternak,
kemudian tusuk dengan lanset steril pada ujung jari dan catat waktu pada saat
darah keluar.Letakkan 1-2 tetes darah ke gelas arloji yang berlapis
parafin.Dengan menggunakan jarum pentul, tusuklah kedalam darah dan angkat.
Lakukan hal tersebut setiap 0,5 menit sampai terlihat benang putih (fibrin) dan
catat waktunya. Waktu mulai darah keluar dari pembuluh darah sampai terbentuk
benang putih disebut waktu beku darah.
Laju Endap Darah
Metoda
yang dilakukan pada laju endap darah (LED) yaitu sampel darah dihisap dengan
tabung wastergreen sampai angka 0.Kemudian tegakkan pada rak.Tiap 30 menit
catat penurunan dari sel-sel darahnya, lalu buatlah grafik LED dari 0-90 menit.
Hemolisis
Metoda yang dilakukan pada hemolisis yaitu pertama beri
nomor /kode pada setiap tabung (1-5). Isi setiap tabung tersebut masing-masing
5ml, tambahkan 3 tetes darah kedalam setiap tabung dan biarkan selama 30 menit.
Periksa/amati warna dan kekeruhan larutan didalam tabung. Warna merah cerah
menunjukkan adanya hemolisis. Untuk memastikan adanya hemolisis dilakukan secara
mikroskopis. Catat hasil pengamatan pada tabel. Tanda (+) bila terlihat jelas
adanya hemolisis, tanda (-) bila belum terlihatnya hemolisis. Tulis tanda (=)
apabila jumlah relatif sama banyak dengan control, tanda (>) apabila relatif
lebih banyak dan tanda (<) apabila relatif lebih dikit.
Hematokrit
Metoda yang dilakukan pada hematokrit yaitu hisap darah
dengan hawkslay sampai jarak 1 cm dari ujung bagian atas. Sumbat ujung pipa
kapiler dengan menggunakan chrysta seal, lilin atau sabun. Tempatkan pipa kapiler
kedalam sentrifuse mikro hematokrit dengan ujung pipa kapiler yang terbuka
menghadap ketengah.Sentrifuse selama 5 menit dengan kecepatan
12.000rpm.keluarkan pipa kapiler dari sentrifuse dan baca nilai hematokritnya
dengan menggunakan reader hematokrit.
Hemaglobin
Metoda yang dilakukan pada hemoglobin yaitu isikan HCl
0,1 N (± 5 tetes) kedalam tabung sahli sampai angka 10 (garis paling bawah).
Hisaplah darah dengan pipet sahli sampai angka 20µl. Bersihkan darah yang
menempel pada ujung luar pipet sahli dengan kertas saring/tissue, kemudian
masukkan darah tersebut kedalam tabung sahli yang sudah berisi HCl 0,1 N.
Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. Biarkan beberapa saat sampai
warna coklat terbentuk.Tambahkan setetes demi setetes aquades sambil diaduk
samapai warna sesuai dengan batang standar.Persamaan warna dengan batang
standar harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah darah dan HCl
dicampur.Bacalah tinggi permukaan cairan pada tabung sahli. Angka yang terbaca
menunnjukkan kadar Hb dari sampel darah tersebut.
Metoda
yang dilakukan pada menghitung sel darah merah yaitu pertama hisap darah dengan
pipet untuk eritrosit sampai angka 0.5. Bersihkan ujungnya dengan tissue. Lalu
segera hisap larutan hayem sampai angga 101 dengan demikian darah diencerkan
200 kali.Kemudian pegang ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu
kocok dengan memutar membentuk angka 8 agar cairan dalam pipet tercampur.
Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah
merah (2-3tetes). Terakhir isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada
kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan
penutup. Hitung sel darah pada kamar hitung dengan menggunakan mikroskop dengan
pembesaran 10x atau 40x.
Metoda yang dilakukan pada menghitung sel darah putih
yaitu pertama hisap darah dengan pipet untuk eritrosit sampai angka 0.5.
Bersihkan ujungnya dengan tissue. Lalu segera hisap larutan Turk untuk mamalia
dan larutan BCB untuk unggas sampai angga 11 dengan demikian darah diencerkan
200 kali. Kemudian pegang ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu
kocok dengan memutar membentuk angka 8 agar cairan dalam pipet tercampur.
Buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah
merah (2-3tetes). Terakhir isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada
kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan
penutup. Hitung sel darah pada kamar hitung dengan menggunakan mikroskop dengan
pembesaran 10x atau 40x.
Adapun metode yang
digunakan pada praktikum diferensial leukosit (leukogram) yaitu, pada percobaan
membuat preparat ulas darah yaitu, cara kerjanya mula-mula siapkan dua buah
gelas objek dalam keadaan bersih, pegang ujung sebuah gelas objek dengan ibu
jari dan telunjuk tangan kiri, atau letakkan saja gelas objek di atas meja yang
rata. Letakkan 1 tetes darah pada ujung gelas objek (sebelah kanan) tersebut
(no.2). Dengan tangan kanan, pegang gelas objek lainnya. Kemudian letakkan
ujung gelas objek tersebut pada gelas objek yang sudah ditetesi darah (no.3)
membentuk sudut 30⁰.Gerakkan gelas objek
yang ditangan kanan ke belakang sampai menyinggung tetesan darah tadi, sehingga
darah menyebar sepanjang sudut antara ke dua gelas objek. Segera setelah darah
menyebar, dengan hati-hati (tanpa mengangkat gelas objek dan sudut gelas objek
tetap 30⁰)
dorong ke depan gelas objek di tangan kanan, maka terbentuk preparat ulas yang
tipis. Preparat dikeringkan dan lakukan pewarnaan. Dan adapaun cara kerja
mewarnai preparat dengan zat Giemsa yaitu, preparat ulas darah yang sudah
dikeringkan di udara difiksasi dengan memasukkannya ke dalam metanol absolut
selama 5-10 menit.Angkat dan biarkan kering di udara, kemudian masukkan ke
dalam zat warna Giemsa.Biarkan selama 30 menit.Angkat preparat dan bilas (cuci)
kelebihan zat warna dengan menggunakan air kran yang mengalir.Keringkan di
udara atau menggunakan kertas isap (preparat diletakkan diantara dua lembar
kertas isap dan perlahan-lahan ditekan-tekan.Periksa preparat yang sudah
diwarnai dengan mikroskop dengan pembesaran 100x, sebelumnya preparat ulas
ditetesi minyak emersi. Perhitungan sel leukosit sampai 100 sel dengan
menggunakan differensial counter. Preparat yang baik akan menunjukkan warna
yang kontras merah, biru keunguan dan biru tua.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 Pemeriksaan Hematologi
4.1.1 Preparat
natif darah
Preparat natip darah
biasanya terlihat bentuk formasi eritrosit yang sailing berlekataan membentuk
deretan seperti uang logam yang di deretkan.
Warigan.
2001.
Menyatakan bahwa darah darah yang baik
akan megalami pengerutan , seperti uang logam.
Sel
darah merah pada unggas (ayam) mengalami pengkerutan (krenasi). Pada pengamatan
ini menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x. hal tersebut tidak sesui
dengan yang menyatakan bahwa Pada pengamatan sel darah merah pada darah mamamalia
terlihat bentuk sel seperti cakram, bikonkaf, sorkular dan tidak berinti. (Arifa:2011)
Sel
darah merah pada ruminansia besar (sapi) berbentuk rouleaux. Pada pengamatan
ini mengunakan mikroskop dengan perbesaran 4x. hal tersebut sesuai dengan yang
menyatakan bahwa Bentuk sel
bulat atau bikonkaf (bagian tepi lebih tebal dari pada bagian tengah), tidak
berinti sel. Berwarna merah karena mengandung hemoglobin. Dibentuk di sumsum tulang (di dalam tulang
pipih) dan hati, berumur lebih kurang 120 hari. Bila eritrosit sudah tua atau
rusak, akan dirombak di dalam limfia. Hemoglobin akan dibawa ke hati dan dibuat
menjadi zat empedu (bilirubin). Zat besi dari hemoglobin ini akan digunakan
untuk memproduksi sel darah merah baru. Jumlah eritrosit dalam darah kurang
lebih 5 juta sel/mm3 darah. (Anonim:
2012)
Tabel 1. Gambar bentuk eritrosit dan leukosit
|
Jenis Ternak
|
Eritrosit
|
|
Mamalia
|
|
|
Unggas
|
|
|
Jenis Hewan
|
Leukosit
|
|
Mamalia
|
|
|
Unggas
|
|
Tabel 2. Preparat natif darah
|
Kelompok
|
Hewan
|
Bentuk Sel
|
Krenase
Ada Tidak
|
Mikro organism
Ada
Tidak
|
|
1-2
|
Sapi
|
Cakram,bikonkaf
Tidak berinti
|
+
|
+
|
|
3-4
|
Kambing
|
Cakram,tidak berinti
|
+
|
+
|
|
5-6
|
Ayam
|
Lonjong, Oval berinti
|
+
|
+
|
Gambar 1. Preparat natif darah
Trombosit
merupakan fragmen sel yang berdiameter 2-4µ, dibentuk dalam sumsum tulang dan
limpa dan mempunyai masa hidup 8-10 hari.Hal ini mengakibatkan cairan eritrosit akan keluar menuju medium luar yang
memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, akibatnya eritrosit akan menjadi
keriput.Hal
ini sesuai dengan pendapat Sonjaya
(2013), bahwa trombosit merupakan fragmen sel yang berdiameter 2-4µ,
dibentuk dalam sumsum tulang dan limpa dan mempunyai masa hidup 8-10 hari.Hal ini mengakibatkan cairan eritrosit akan keluar menuju
medium luar yang memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, akibatnya eritrosit
akan menjadi keriput. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2009) yang menyatakan bahwa krenasi merupakan peristiwa
mengkerutnya sel darah karena cairan dalam darah keluar menuju cairan eksternal
yang konsentrasinya lebih tinggi, dimana pada lingkungan hipertonis (garam>
1%) sehigga sel akan mengkerut dan bila eritrosit berada pada medium yang
hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit,
akibatnya eritrosit akan keriput.
Krenasi adalah
kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah
dimasukkan ke dalam larutan hipertonik karena kehilangan air melalui osmosisHal
ini sesuai dengan pendapat Anonima
(2010) yang mengataka bahwa Krenasi adalah kontraksi atau pembentukan
nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan
hipertonik karena kehilangan air melalui osmosis. Secara etimologi krenasi
berasal dari bahasa yunani yakni “Crenatus”.
Percobaan
preparat natif darah yang dilakukan menggunakan metode Perendaman yaitu dengan
membuat preparat ulas darah yang direndam dalam larutan metanol absolut dan
larutan Giemsa.Pada percobaan ini ditemukan bentuk-bentuk sel darah, sel darah
merah pada unggas (ayam) berbentuk lonjong, oval dan berinti serta warna yang
merah.Inti sel darah putih berwarna ungu tua, granula di dalam sitoplasma
granulosit berwarna merah, biru atau netral, trombosit berwarna
kebiru-biruan.Di dalam darah juga ditemukan adanya sel-sel darah yang mengalami
krenasi/pengkerutan yang berbentuk bulat bergerigi. Hal ini menandakan bahwa di
dalam darah terdapat mikroorganisme.Hal ini sesuai dengan pendapat Mikrajuddin (2004), yang menyatakan
bahwa darah manusia ataupun hewan terdiri dari dua komponen penting yaitu
sel-sel darah dan plasma darah (cairan darah).Dimana sel-sel darah itu sendiri
terdiri dari sel darah merah dan sel darah putih serta keping darah, sedangkan
cairan darah terdiri dari cairan darah (Plasma darah).
Susunan darah terdiri dari sel darah
merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), keeping-keping darah
(trombosit), dan plasma darah. Pada praktikum ini ditemukan sel darah putih
(leukosit), hal ini dikarenakan ciri-ciri dan spesifikasi leukosit yang
memiliki inti atau nucleus. Hal ini ditunjang dengan pendapat Syaifuddin (2002), yang menyatakan
bahwa salah satu karakteristik dari sel darah putih yakni memiliki inti atau
nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah. Frandson (2000), yang menyatakan bahwa keping-keping darah atau
trombosit bentuknya tidak teratur, tidak memiliki inti sel atau nucleus dan
sifatnya mudah pecah
4.1.2 Waktu Perdarahan
Nama Praktikan : Rein Hard
NIM : E10014014
Umur :
19th
Jenis kelamin : Laki-laki
Status kesehatan : Baik
Tabel 3.Waktu Perdarahan
|
Kelompok
|
Waktu Keluar
|
Waktu Berhenti
|
Waktu Keluar
|
Waktu Berhenti
|
|
1
|
5 detik
|
43 detik
|
2 detik
|
30 detik
|
|
2
|
5 detik
|
30 detik
|
3 detik
|
20 detik
|
|
3
|
5 detik
|
30 detik
|
3 detik
|
30 detik
|
|
4
|
5 detik
|
30 detik
|
2 detik
|
30 detik
|
|
5
|
5 detik
|
30 detik
|
3 detik
|
30 detik
|
|
6
|
5 detik
|
30 detik
|
3 detik
|
25 detik
|
Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu
jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendoteldan membentuk
agregasi. Disaat darah keluar, darah sempat berheti sebentar namun berlanjut
beberapa menit kemudian. Pendarahan dapat berhenti sendiri
misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang terjadi beberapa menit.
Apabila pembuluh darah mengalami dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah
dicegah oleh mekanisme trombosit. Hal ini sesuai dengan pendapat (Schmid, 2000). Yang
menyatakan bahwaPemeriksaan ini
terutama mengenai trombosit, yaitu jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada
jaringan subendoteldan membentuk agregasi. Disaat darah keluar, darah sempat
berheti sebentar namun berlanjut beberapa menit kemudian. Pendarahan
dapat berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang
terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami
dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme
trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot
pembuluh darah kemudian anoksia dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar
dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Metode yang digunakan;
teknik yang tidak tepat – bila terjadi luka pungsi yang mungkin lebih dalam
daripada yang seharusnya. Bila tetesan darah ditekan paksa pada permukaan
kertas dan tidak menunggu tetesan darah benar-benar terisap dengan sendirinya
pada kertas penghisap.
Hal
ini dapat merusak partikel fibrin sehingga memperlama perdarahan. Hal
inisesuaidenganpendapatPembentukan
gumpalan fibrin yang terbentuk disekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya
menggantikannya. (Puzzy, 2009) Obat aspirin dan antikoagulan dapat memperlama
perdarahan. Perdarahan
juga dapat dihentikan dengan cara: Kontraksi
dinding pembuluh darah,pembentukan sumbatan eritrosit pada lubang
pembuluh,eritrosit melekat pada dinding pada dinding yang rusak pada yang
lainnya,pembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk di sekitar sumbatan
eritrosit dan akhirnya menggantikan (Puzzy,
2009).
Gambar 2. Waktu Perdarahan
|
|
|
|
Waktu perdarahan pada praktikan Rein
Hard normal karena karena waktu perdarahan lebih dari 1 menit dan kurang dari 6
menit. Itu kemungkinan karena suhu praktikan Rein Hard dala keadaan normal dan
sehat. Hal ini sesuai dengan pendapat Dsyoghi
(2010), faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah
yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan
aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal
adalah 15 hingga 120 detik.
Prinsip pemeriksaan ini adalah menghitung
lamanya perdarahan sejak terjadi luka kecil pada permukaan kulit dan dilakukan
dalam kondisi yang standard. Ada 2 teknik yang dapat digunakan, yaitu teknik
Ivy dan Duke. Kepekaan teknik Ivy lebih baik dengan nilai normal 1-6 menit.
Teknik Duke nilai normal 1-8 menit. Teknik Ivy menggunakan lengan bawah untuk
insisi merupakan teknik yang paling terkenal. Aspirin dan antiinflamasi dapat
memperlama waktu perdarahan. (Syaifuddin,
2002) bahwa Waktu perdarahan (bleeding
time, BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan lamanya tubuh
menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara laboratoris.
Pemeriksaan ini mengukur hemostasis dan koagulasi. Masa perdarahan tergantung
atas : ketepatgunaan cairan jaringan dalam memacu koagulasi, fungsi pembuluh
darah kapiler dan trombosit. Pemeriksaan ini terutama mengenai trombosit, yaitu
jumlah dan kemampuan untuk adhesi pada jaringan subendotel dan membentuk
agregasi. Disaat darah keluar, darah sempat berheti sebentar namun berlanjut
beberapa menit kemudian hal ini juga dikemukakan oleh Pendarahan dapat
berhenti sendiri misalnya dengan kontraksi vasa ditempat pendarahan yang
terjadi beberapa menit sampai beberapa jam. Apabila pembuluh darah mengalami
dilatasi, darah tidak keluar lagi karena sudah dicegah oleh mekanisme
trombosit. Vasa kontraksi timbul melalui beberapa jalan kontraksi langsung otot
pembuluh darah kemudian anoksia dan reflek lalu adanya serotonis yang keluar
dari trombosit yang menyebabkan vasa kontraksi (Schmid, 2001).
4.1.3 Waktu Beku Darah
1. Nama Praktikan :
Rein Hard
Umur :
19th
Jenis kelamin :
Laki-laki
Status kesehatan : Baik
Waktu beku darah : 9 menit 27 detik
Pada praktikum waktu beku darah digunakan darah praktikan Rein Hard dan juga darah hewan sapi, kambing
dan ayam. Dari semua sampel darah ada yang terjadi waktu beku darah dan juga tidak karena
tidak terbentuk benang putih (fibrin). Dibuktikan dengan pernyataan Wibowo (2009), yang menyatakan bahwa fibrin sangat berperan penting dalam
pembekuan darah.Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi
darah.Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi
rata-rata 4 – 5 menit.
Faktor yang penting
dalam menghentikan suatu peredaran yaitu kongulasi atau pembekuan.mekanisme
insintik adalah serangkaian reaksi
enzimatik yang di awali apbila darah bersentuh dengan permukaan asing. Semua
permukaan selain lapisan endotel pada dindin pembuluh darah adalah asing
terhdap protein-protein kogulasi dan sel-sel dalam darah merah. Sekali peruses
pembekuan di mulai, serangkaian reaksi akan terjadi dan mencapai puncaknya dengan terbentuknya terumbin dan benang-benang
fibin.
Mekanisme ekstrik
adalah serangkaian reaksi yang terjadi apabila kerusakan pembuluh darah
cukup parrah, sehinga jaringan sekitar terkena dan berakibat keluarnya cairan
dan jaringan yang mengandung lipoprotein yang khas, yaitu tromboplastin jaringan
yang akan mengaktivkan factor x secara langsung, melanhkahi tahap-tahap awal
dari mekanisme intrinsic dan memproduksi pembentukan fibrin lebih cepat dari
pada mekanisme intrinsic.
Waktu
beku darah manusia, di lakukan dengan
meletakan darah di atas gelas arloji dengan menyalakan setopwach di mulai dari
pengambilan di pembuluh darah sampai dengan dengan catatan waktu : 37,5 menit.
Waktu
beku darah sapi sama seperti pemberlakuan drah manusia dengan catatan waktu
37,14 menit. Menurut Hamilton 2008.
Beda beku darah manusia dengan hewan hanya sedikit.
Penghentian pembentukan bekuan
Setelah
pembentukan bekuan, sangat penting untuk melakukan pengakhiran pembekuan darah
lebih lanjut untuk menghindari kejadian trombotik yang tidak diinginkan.yang disebabkan
oleh pembentukan bekuan sistemik yang berlebihan. Antikoagulan yang terjadi
secara alami meliputi antitrombin III (ko-faktor heparin), protein C dan
protein S.
Antitrombin III bersirkulasi secara bebas di
dalam plasma dan menghambat sistem prokoagulan, dengan mengikat trombin serta
mengaktivasi faktor Xa, IXa, dan XIa, menetralisasi aktivitasnya dan menghambat
pembekuan. Protein C, suatu polipeptida, juga merupakan suatu antikoagulan
fisiologi yang dihasilkan oleh hati, dan beredar secara bebas dalam bentuk
inaktif dan diaktivasi menjadi protein Ca.
Protein C yang diaktivasi menginaktivasi
protrombin dan jalur intrinsik dengan membelah dan menginaktivasi faktor Va dan
VIIIa. Protein S mempercepat inaktivasi faktor-faktor itu oleh protein protein
C.
Trombomodulin,
suatu zat yang dihasilkan oleh dinding pembuluh darah, diperlukan untuk
menimbulkan pengaruh netralisasi yang tercatat sebelumnya. Defisiensi protein C
dan S menyebabkan spisode trombotik. Individu dengan faktor V Leiden resisten
terhadap degradasi oleh protein C yang diaktivasi. (Sylvia A.Price
&Lloraine M.Wilson.,2003.)
Resolusi bekuan
Sistem
fibrinolitik merupakan rangkaian yang fibrinnya dipecahkan oleh plasmin
(fibrinolisin) menjadi produk-produk degradasi fibrin, menyebabkan hancurnya
bekuan. Diperlukan beberapa interaksi untuk mengubah protein plasma spesifik
inaktif di dalam sirkulasi menjadi enzim fibrinolitik plasmin aktif. Protein
dalam bersirkulasi, yang dikenal sebagai proaktivator plasminogen, dengan
adanya enzim-enzim kinase seperti streptokinase, stafilokinase, kinase
jaringan, serta faktor XIIa, dikatalisasi menjadi aktivator plasminogen.
Dengan adanya
enzim-enzim tambahan seperti urokinase, maka aktivator-aktivator mengubah
plasminogen, suatu protein plasma yang sudah bergabung dalam bekuan fibrin,
menjadi plasmin. Kemudian plasmin memecahkan fibrin dan fibrinogen menjadi
fragmen-fragmen (produk degradasi fibrin-fibrinogen), yang mengganggu aktivitas
trombin, fungsi trombosit, dan polimerisasi fibrin, menyebabkan hancurnya
bekuan. Makrofag dan neutrofil juga berperan dalam fibrinolisis melalui
aktivitas fagositiknya. (Sylvia A.Price
&Lloraine M.Wilson.,2003.)
Pada saat pembekuan darah pasti akan
terbentuk benang-benang putih itu darah akan sepaerti mengumpal. ada beberapa zat yang digunakan untuk
mencegah pembekuan darah,yaitu Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat
pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah.
Atas
dasar ini antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya
trombus dan emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah di luar tubuh pada
pemeriksaan laboratorium atau tranfusi. Antikoagulan
oral dan heparin menghambat pembentukan fibrin dan digunakan sebagai
pencegahan untuk mengurangi insiden tromboemboli (masuknya udara pada
aliran darah) terutama pada vena.
Kedua
macam antikoagulan ini juga bermanfaat untuk pengobatan trombosis arteri karena
mempengaruhi pembentukan fibrin yang diperlukan untuk mempertahankan gumpalan
trombosit:
Antikoagulan
dapat dibagi menjadi 3 kelompok :
- Heparin,
- Antikoagulan oral, terdiri dari derivat 4 -hidroksikumarin misalnya : dikumoral, warfarin dan derivat indan-1,3-dion misalnya : anisindion;
- Antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion kalsium, salah satu faktor
Pada
umumnya proses pembekuan darah sangat dipengaruhi oleh kepingan-kepingan darah.
Pembekuan darah juga dipengaruhi suatu komponen esensial yakni fibrinogen,
pembekuan darah mampu menghentikan semua perdarahan pada pembuluh darah yang
rusak.Seperti yang dinyatakan oleh Jhonson,
Dkk, 184 bahwa untuk pembentukan benang fibrin sebagai penentu cepatnya
pembekuan darah, darah dalam tubuh manusia mengalami proses tromboplastik dalam
darah dengan bantuan calcium dan protrombin berubah menjadi trombin, lalu trombin
dengan bantuan fibrinogen akan membentuk benang-benang fibrin yang akan menutup
luka dan membuat darah menjadi beku.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Metode yang digunakan;
teknik yang tidak tepat – bila terjadi luka pungsi yang mungkin lebih dalam
daripada yang seharusnya. Bila tetesan darah ditekan paksa pada permukaan
kertas dan tidak menunggu tetesan darah benar-benar terisap dengan sendirinya
pada kertas penghisap, hal ini dapat merusak partikel fibrin sehingga
memperlama perdarahan. Hal inisesuaidenganpendapatPembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk
disekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikannya. Obat aspirin dan antikoagulan dapat memperlama
perdarahan. Perdarahan juga dapat dihentikan dengan cara: Kontraksi dinding pembuluh darah,pembentukan
sumbatan eritrosit pada lubang pembuluh,eritrosit melekat pada dinding pada
dinding yang rusak pada yang lainnya,pembentukan gumpalan fibrin yang terbentuk
di sekitar sumbatan eritrosit dan akhirnya menggantikan (Anonim, 2009).
Tabel 4. Waktu
Beku Darah Per kelompok
|
Kelompok
|
Waktu
|
|
1
|
9 menit 27 detik
|
|
2
|
8 menit 30 detik
|
|
3
|
10 menit 9 detik
|
|
4
|
11 menit 9 detik
|
|
5
|
2 menit 37 detik
|
|
6
|
16 menit 13 detik
|
Tabel . Waktu beku darah
|
Jenis
Darah
|
Waktu
|
Keterangan
|
|
Sapi
|
>6menit
|
Tidak ada benang putih
|
|
Ayam
|
>6menit
|
Tidak ada
benang putih
|
|
Kambing
|
>6menit
|
Tidak ada
benang putih
|
|
Praktikan
|
1 menit
|
Ada benang
putih
|
Agar terlihat benang harus
dilakukan, agar benaang putih pada sampel darah harus dilakukan, agar anti
koagulannya tergabung, hal ini sesuai dengan Prinsip pemeriksaan hematokrit
cara manual yaitu darah yang mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel
darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau pecahan desimal (Simmons A, 2009).
Waktu beku hanya dimilki oleh
manusia sedangkan ayam, sapi dan kambing
tidak memiliki waktu beku darah, hal ini sesuai dengan bahwa manusia memiliki
waktu beku darah sekitar 1-6 menit. Dalam proses
koagulasi darah terdapat beberapa faktor yang berperan penting, yaitu
fibrinogen, prothombin, thromboplastin, calsium ,proaccealerin labile factor,
proconvertin, antihomofilc,Proses yang
mengawali pembentukan bekuan fibrin sebagai respons terhadap cedera jaringan
dilaksanakan oleh lintasan ekstrinsik. Lintasan intrinsic pengaktifannya
berhubungan dengan suatu permukaan yang bermuatan negative. Lintasan intrinsic
dan ekstrinsik menyatu dalam sebuah lintasan terkahir yang sama yang melibatkan
pengaktifan protrombin menjadi thrombin dan pemecahan fibrinogen yang dikatalis
thrombin untuk membentuk fibrin. Pada peristiwa diatas melibatkan macam jenis
protein yaitu dapat diklasifikaskan sebagai berikut: Zimogen protease yang
bergantung pada serin dan diaktifkan pada proses
koagulasi,kofaktor,fibrinogen,transglutaminase yang menstabilkan bekuan fibrin
dan protein pengatur,dan sejumlah protein lainnya.
Kisaran waktu
terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan
berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan
darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu
24 jam. Dari hasil pengamatan, data koagulasi kelompok masih berada dalam
kisaran normal, yaitu antara 15 detik hingga 2 menit dan berakhir dalam waktu 5
menit. Anti bodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein
globulin yang merupakan faktor penghambat
protein koagulasi darah. Sehingga waktu koagulasi pada tiap sammpel darah
sangat bervariasi.
Fase koagulasi
Koagulasi diawali
dalam keadaan homeostasis dengan adanya cedera vascular. Vasokonstriksi
merupakan respon segera terhadap cedera, yang diikuti dengan adhesi trombosit
pada kolagen pada dinding pembuluh yang terpajan dengan cedera. Trombosit yang
terjerat di tempat terjadinya luka mengeluarkan suatu zat yang dapat
mengumpulkan trombosit-trombosit lain di tempat tersebut. Kemudian ADP dilepas
oleh trombosit, menyebabkan agregasi trombosit. Sejumlah kecil trombin juga
merangsang agregasi trombosit, bekerja memperkuat reaksi. Trombin adalah
protein lain yang membantu pembekuan darah. Zat ini dihasilkan hanya di tempat
yang terluka, dan dalam jumlah yang tidak boleh lebih atau kurang dari
keperluan. Selain itu, produksi trombin harus dimulai dan berakhir tepat pada
saat yang diperlukan. Dalam tubuh terdapat lebih dari dua puluh zat kimia yang
disebut enzim yang berperan dalam pembentukan trombin. Enzim ini dapat
merangsang ataupun bekerja sebaliknya, yakni menghambat pembentukan trombin.
Proses ini terjadi melalui pengawasan yang cukup ketat sehingga trombin hanya
terbentuk saat benar-benar terjadi luka pada jaringan tubuh. Factor III
trombosit, dari membrane trombosit juga mempercepat pembekuan plasma. Dengan
cara ini, terbentuklah sumbatan trombosit, kemudian segera diperkuat oleh
protein filamentosa (fibrin). (Srikini,
2000) Produksi fibrin dimulai
dengan perubahan factor X menjadi Xa, seiring dengan terbentuknya bentuk aktif
suatu factor. Factor X dapat diaktivasi melalui dua rangkaian reaksi. Rangkaian
pertama memerlukan factor jaringan, atau tromboplastin jaringan, yang
dilepaskan oleh endotel pembuluh darah pada saat cedera.. karena factor
jaringan tidak terdapat di dalam darah, maka factor ini merupakan factor
ekstrinsik koagulasi, dengan demikian disebut juga jalur ekstrinsik untuk
rangkaian ini.
4.1.4 Laju Endap Darah
Laju Endap Darah merupakan
suatu pemeriksaan darah yang dapat membentuk penentuan status kesehatan seekor
hewan. Hasil yang telah kami dapat yaitu dari sampel
darah yang dihisap dengan westar green sampai anka 0 dan ditegakkan pada rak
tiap 30 menit catat penurunannya hingga sampai menit ke 40 yaitu 30 menit
pertama : 2 mm, 30 menit kedua : 3 mm dan 30 menit ke tiga adalah 5 mm.
Tabel 4 . Laju Endap Darah Kambing
|
Waktu
|
Jumlah Penurunan
|
Hasil
|
|
30
|
128
|
62
|
|
60
|
62
|
42
|
Gambar
3. Grafik
1 Laju Endap Darah pada Kambing
|
Tabel 5 . Laju Endap Darah sapi
|
|
Waktu
|
Jumlah Penurunan
|
Hasil
|
|
30
|
98
|
92
|
|
60
|
130
|
60
|
|
90
|
147
|
43
|
Gambar
5. Grafik
2 Laju Endap Darah pada Sapi
|
Tabel
6. Laju Endap Darah Ayam
|
||
|
|
|
|
|
No.
|
Waktu
|
Penurunan darah
|
|
1
|
30 menit
|
3
|
|
2
|
60 menit
|
1
|
|
3
|
90 menit
|
1
|
Gambar6. Grafik 3 Laju
Enda Darah Ayam
Grafik di atas adalah contoh dari grafik yang benar,
karna pada praktikum yang kelompok saya lakukan LED pada darah ayam tidak
mengalami penurunan kemungkinan di karnakan antikoagulan yang berlebih atau
kondisi ayam kurang baik/kurang sehat. Dari grafik diatas dapat dijelaskan
bahwa penurunan led pada menit pertama terjadi di titik 39mm, dan pada menit ke
60 berada di titik 61mm yang berarti mengalami penurunan sebanyak 22mm dan
dimenit ke 90 berada dititik 75mm yang berarti mengalami penurunan sebanyak
14mm.
Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa inggrisnya Erythrocyte
Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah.
Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan
darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam. Laju endap darah yang kita
hasil kan mengalami kenaiakan dan penurunan,itu dikarnakan sel darah merah yang
mengaendap.
Hal ini sesuai dengan pendapat ( Rosita,2000) yang menyatakan Makin banyak sel darah merah yang
mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya. Dari data di atas dapat
di lihat bahwa laju endap darah dari masing-masing sampel darah berbeda-beda
hal ini di pengaruhui oleh beberapa faktor yaitu Faktor eritrosit, plasma, dan
teknik dapat mempengaruhi laju endap darah. Radiopoetra, 2000 yang berpendapat bahwa Proses pemeriksaan
sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke
dalam tabung khusus selama (waktu di tentukan) Makin banyak sel darah merah
yang mengendap maka makin tinggi laju endap darahnya.
Tinggi rendahnya laju endap darah sangat dipengaruhi oleh
keadaan tubuh kita.Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju Endap Darah (LED)
adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlah eritrosit/ul
darah yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal
dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan Laju Endap Darah (LED)
cepat. Walau pun demikian, tidak semua anemia disertai Laju Endap Darah (LED)
yang cepat. Pada anemia sel sabit, akantositosis, sferositosis serta
poikilositosis berat, laju endap darah tidak cepat, karena pada keadaan-keadaan
ini pembentukan rouleaux sukar terjadi. Pada polisitemia dimana jumlah
eritrosit/µl darah meningkat, Laju Endap Darah (LED) normal.
Laju Endap Darah (LED) terutama mencerminkan perubahan
protein plasma yang terjadi pada infeksi akut maupun kronik, proses degenerasi
dan penyakit limfoproliferatif. Peningkatan laju endap darah merupakan respons
yang tidak spesifik terhadap
kerusakan jaringan dan merupakan petunjuk adanya penyakit. Bila dilakukan
secara berulang laju endap darah dapat dipakai untuk menilai perjalanan
penyakit seperti tuberkulosis, demam rematik, artritis dan nefritis. Laju Endap
Darah (LED) yang cepat menunjukkan suatu lesi yang aktif, peningkatan Laju
Endap Darah (LED) dibandingkan sebelumnya menunjukkan proses yang meluas,
sedangkan Laju Endap Darah (LED) yang menurun dibandingkan sebelumnya
menunjukkan suatu perbaikan.
Pada
darah sapi, jumlah sel darah merahnya kurang dari jumlah sel darah ayam, selain
ayam (unggas) merupakan hewan berdarah panas, unggas juga lebih banyak bergerak
dan hal ini akan memacu jumlah sel darah merah pada unggas sehingga proses
pengendapannya lebih cepat (Morag G.
Kerr, 8).
Faktor terpenting pemeriksaan LED
adalah tabung harus betul-betul tegak lurus, perubahan dan menyebabkan
kesalahan sebesar 30%. Selain itu selama pemeriksaan rak tabung tidak boleh
bergetar atau bergerak. Panjang diameter bagian dalam tabung LED juga
mempengaruhi hasil pemeriksaan
(Bajpai,2009).
Di dalam tubuh, suspensi sel-sel
darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. Akan
tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi
antikoagulan dan dibiarkan 1 jam, sel darah akan mengendap dibagian bawah
tabung karena pengaruh gravitasi. Laju endap darah (LED) berfungsi untuk
mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma (mm/jam).
Tiga fase LED meliputi :
·
Fase pengendapan lambat I
Beberapa menit setelah percobaan
dimulai, sel darah merah dalam keadaan melayang, sulit mengendap ( 1-30
menit)
·
Fase pengendapan cepat
Terjadi setelah darah saling
berikatan membentuk rauleaux permukaan relatife kecil , masa menjadi lebih
berat (30-60 menit)
·
Fase pengendapan lambat
II
Terjadi setelah sel darah mengendap, menampak di dasar
tabung (60-120 menit)
Dalam
keadaan normal nilai LED jarang melebihi 10 mm per jam. LED ditentukan dengan
mengukur tinggi cairan plasma yang kelihatan jernih berada di atas sel darah
merah yang mengendap pada akhir 1 jam ( 60 menit ).
LED tidak spesifik untuk penyakit/gangguan
kesehatan tertentu. Perlu data-data lain untuk menyimpulkan penyebab
dari naiknya nilai LED. Baik
dari anamnesa meliputi keluhan dan riwayat kesehatan karyawan, pemeriksaan
fisik, serta hasil pemeriksaan penunjang lainnya (laboratorium, rontgen,
dll). LED tinggi bisa
merupakan indikasi adanya gangguan
kesehatan dalam tubuh kita. Namun seseorang yang hasil pemeriksaan LEDnya tinggi belum tentu memiliki gangguan kesehatan. Sebaliknya
seseorang yang memiliki gangguan
kesehatan bisa saja nilai LEDnya
normal. (Syaifuddin, 2002)
4.1.5 Hemolisis
Cormack. (2008)
mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya
hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat
disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam
empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari
stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili
Elapidae.
Hemolisis adalah pecahnya atau rusaknya membran eritrosit
yang mengakibatkan hemoglobin keluar dari sel darah dan bebas didalam medium
sekelilingnya. Membran sel darah yang rusak dapat diakibatkan oleh hipotonisnya
larutan didalam darah. Apabila larutan hipotonis ditambahkan kedalam darah maka
air atau larutan hipotonis tersebut akan masuk kedalam sel darah melalui
membran semi permeable, yang mengakibatkan sel darah membengkak dan membran sel
meregang dan akhirnya terjadi kerobekan membran dan hemoglobin keluar dari sel.
Penyebab
terjadinya hemoglobin juga dapat terjadi karena penurunan tegangan permukaan
membran sel. pendapat (Anonima, 2010),
yang menyatakan bahwa terjadinya hemolisis disebabkan oleh pecahnya
dinding eritrosit sebagai akibat dari menurunnya tekanan osmotik plasma darah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya
(2006), bahwa hemolisis adalah peristiwa keluanya hemoglobin dari sel darah
merah yang disebabakan oleh medium/plasma yang hipotonis.
Setelah dilakukan percobaan
hemolisis tabung 1-14 diberi larutan NaCl sebanyak 5 ml dan ditambah 3 tetes
darah sapi dan ayam, biarkan selama 30 menit. Setelah itu diperiksa / diamati
warna dan kekeruhan larutan dalam tabung ternyata diantara 5 tabung ada salah
satu tabung yang mengalami hemolisis yaitu tabung yang diisi dengan larutan
0,35% larutan NaCl dan yang lainnya belum terjadinya hemolisis. Untuk itu di
lakukan secara mikroskopis. Maka hasilnya pada darah sapi dan ayam sebagai
berikut :
Tabel 7. Hemolisis HCl
|
Kelompok
|
Nomor dan Nama
Tabung
|
Makroskopis (Hemolisis)
|
Mikroskopis bentuk Besar
|
Konsentrasi
|
|
Konsentrasi (0,9%)
|
1.
Ayam
2.
Sapi
3.
Kambing
|
+
-
+
|
Oval >
bulat = bulat >
|
3
3
3
|
|
Konsentrasi (0,65%)
|
1.
Ayam
2.
Sapi
3.
Kambing
|
|
Oval
bulat
licin
|
3
3
3
|
|
Konsentrasi (0,45%)
|
1.
Ayam
2.
Kambing
3.
Sapi
|
+
_
+
|
Berigi > berigi < licin <
|
3 3
3
|
|
Konsentrasi (0,25%)
|
1.
Ayam
2.
Kambing
3.
Sapi
|
+
+ +
|
Manjang >
pipih <
bulat <
|
3
3
3
|
|
KOnsentrasi (3,0%)
|
1.
Ayam
2.
Kambing
3.
Sapi
|
_
+ +
|
Manjang >
berigi < bulat <
|
3
3
3
|
Pada tabel diatas terlihat bahwa proses hemolisis hanya
terjadi pada tabung 0,45%. Dengan pembanding adalah tabung 0,9 %. Hemolisis ini di
tunjukkan dari tingkat kejernihan dan beningnya larutan darah dan HCl
tersebut,namun tidak hanya cukup dibuktikan dengan itu tp, melalui mikroskopis.
Dan dari bentuk besar dan jumlah sangat berbeda satu sama lain
Semakin besar konsentrasi larutan yang diberikan maka
bentuk semakin besar dan dikit.Hemolisis
adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium
sekelilingnya (plasma).
Kerusakan
membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan
hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran
eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena
ketuaan dalam sirkulasi darah dll.
Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi
hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma
dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat
semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak
kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel
akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya.
Hasil
hemolisis sempurna eritrosit pada air suling biasa dianggap larutan standard
untuk menentukan tingkat kerapuhan eritrosit (Soewolo, 2000). Hemolisis seperti yang dijelaskan diatas disebut
hemolisis osmotic, yaitu hemolisis yang disebabkan oleh perbedaan tekanan
osmotic isi sel dengan mediumnya (cairan disekitarnya).
Hal ini sesuai dengan pendapat Supardi
(2010) yang menyatakan bahwa Hemolisis
adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium
sekelilingnya (plasma).
Setelah dibiarkan selama 30 menit, terjadi hemolisis pada
tabung 2 dengan konsentrasi 0,25 %, tabung 3 dengan konsentrasi 0,45%, sedangkan
pada tabung 1,4, dan 5 tidak terlihat adanya hemolisis.
Dilihat secara makroskopis tabung 1 memiliki warna merah
keruh, dilihat secara mikroskopis dengan pembesaran 40x terlihat bentuk bulat licin, jumlahnya relative sama banyak. Sedangkan
tabung 5 dilihat secara makroskopis berwarna merah keruh, dilihat secara
mikroskopis dengan pembesaran yang sama terlihat bentuk bulat licin, besarnya
lebih kecil dari control (tabung1) dan jumlahnya relatif sama banyak dengan
kontorl (tabung1).
4.1.6 Hematokrit
Hematokrit atau Packed Cell Volume (PCV) merupakan
presentase sel-sel darah merah didalam 100 ml darah.Pemeriksaan hematokrit
merupakan salah satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan
dilaboratorium berguna untuk membantu diagnosa berbagai penyakit diantaranya
Demam Berdarah Dengue (DBD), anemia, polisitemia. Penetapan nilai hematokrit
dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Pada cara makro digunakan
tabung wintrobe, sedangkan pada cara mikro digunakan pipet kapiler (Wirawan, dkk, 2002).
Hematokrit adalah nilai perbandingan antara jumlah
darah dalam bentuk padat
(sel-sel
darah) dan bentuk cair (plasma darah). Hematokrit atau ‘packed cell volume (PCV)
adalah persentase butir darah merah yang ada dalam darah. Hal ini berarti apabila
hewan memiliki nilai hematokrit 40 berarti jumlah butir darah merah pada hewan
tersebut adalah 40% dan sisanya adalah plasma darah 60%. Darah yang diberi
antikoagulan dan kemudian disentrifugasi akan memisahkan bagian darah berdasarkan
bobotnya. Butir-butir darah akan mengendap sedangkan plasma darah akan berada
di atasnya. Pada darah normal, butir-butir darah akan menempati 0.45 bagian
dari volume keseluruhan yang disebut hematokrit.
Pemeriksaan hematokrit secara automatik menggunakan
alatanalisis sel darahautomatik. BC-2600 Auto Hematology Analyzermerupakan
suatu penganalisis hematologi multi parameter untukpemeriksaan kuantitatif
maksimum 19 parameterdan 3 histogram yangmeliputi WBC (White Blood Cell),
Lymphocyte, Mid sized cell, Granulocyte, Limphocyte persentage, Mid-sized cell
persentage,granulocyte persentage, RBC (Red Blood Cell), HGB (Hemoglobin),
MCV(Mean Cospuscular Volume), MCH (Mean CospuscularHemoglobin),
MCHC (Mean Cospuscular Hemoglobin Concentration), RDW-CV (RedBlood
Cell Distribution Width Coefficient of Variation), RDW-SD (Red Blood Cell
Distribution Width Standard Deviation), HCT (Hematocrit),PLT (Platelet),
MPV (Mean Platelet Volume), PDW (Platelet DistributionWidth), PCT
(Plateletcrit), WBC Histogram (White Blood CellHistogram), RBC
Histogram (RedBlood Cell Histogram), PLT Histogram(Platelet Histogram)
(Mindray, 2006).
Analyzer dalam penghitungan RBC
menggunakan unitpenghitungan volumetrik yang terdiri dari tabung pengukuran
dengan 2sensor optik yang terpasang diatas tabung yaitu sensor atas dan
sensorbawah , penghitungan dimulai saat cairanmelewati miniskus sensor
yangtinggi dan berhenti ketika mencapai sensor yang rendah, waktu
yangdibutuhkan untuk melewati sensor tinggi ke sensor rendah disebut jumlah
waktu RBC. Ini diukur dalam detik, jumlah waktu yang terukur dibandingkan
dengan referensi jumlah waktu. Jika hasil waktunya kurangdari atau lebih dari 2
detik maka analyzer akan melaporkan RBC bergelembung atau error.Reagen yang
diperlukan dalam pemeriksaan hematokrit cara automatik dengan menggunakan
analyzer BC-2600 antara lain diluentsebagai larutan pengencer dan sebagai
medium penghantar.
Jumlah butir darah merah berpengaruh
langsung pada nilai hematokrit. Terjadinya perubahan butir darah merah memiliki
pola yang sama dengan kandungan hematokrit. Hal ini dapat dipahami karena
persentase hematokrit tersebut merupakan kandungan butir darah merah
dibandingkan volume darah total. Nilai hematokrit sangat bervariasi bergantung
pada aktivitas tubuh, ketinggian tempat, dan anemia. Hematokrit termasuk dalam
parameter yang digunakan untuk menilai keadaan anaemia suatu hewan.
Meningkatnya persentase hematokrit dapat disebabkan oleh leukosis limfoid (Al-Sadi dan Hussein 2010).
Nilai
hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah
jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit sejatinya
merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam
satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah
dengan komponen darah yang lain.
Adapun hasil pengamatan
hematokrit pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 8. Nilai hematokrit pada sapi, ayam dan kambing
|
Jenis
Hewan
|
Jumlah
Hematokrit
|
Nilai
Hematokrit Normal
|
|
1. sapi
|
29%
|
40
|
|
2. kambing
|
39%
|
33
|
|
3. ayam
|
25%
|
22-35(30)
|
Darah yang
ditambah antikoagulan kemudian disentrifuse dengan kecepatan tinggi ,maka darah
terpisah menjadi 3 bagian yaitu :
1.Lapisan teratas : Plasma berwarna
kuning
2.Lapisan
tengah : Buffy coat yang terdiri dari trombosit (bagian teratas kuning coklat
),Leukosit (bagian tengah berwarna abu-abu kemerahan).
3.Lapisan
Terbawah : eritrosit berwarna merah tua,eritrosit terpisah di bagian bawah
karena mempunyai BJ terbesar.
Plasma
Buffy
Coat
Sel darah Merah
Lilin Penyumbat
Gambar. Hematokrit
Gambar.10
Hematokrit pada sapi.
Plasma
Buffy
Coat
Sel
darah Merah
Lilin Penyumbat
Nilai Hemotokrit : 23 %
Nilai Plasma : 77
%
Pada percobaan yang kami lakukan ,niai
hematokrit pada sapi hanya berkisar 29 % sedangkan pada diktat hematokrit pada
sapi itu 40 % sehingga kami dapat menarik kesimpulan bahwa pengamatan yang kami
lakukan gagal.hal ini terjadi mungkin darah pada pipa kapiler kurang sehingga
nilai hematokrit nya jauh berbeda
Gambar.11
Hematokrit
Pada Ayam
Plasma
Buffy Coat
Sel darah Merah
Lilin Penyumbat
Nilai Hematokrit : 25 %
Nilai Plasma : 75 %
Pada pengamatan yang kami lakukan dimana
hematokrit pada ayam dapat kami peroleh 20 sehingga hal ini tidak sesuai dengan
diktat dan dapat ditarik kesimpulan
percobaan yang kami lakukan gagal.
Gambar.12
Hematokrit pada pengamatan kambing
Plasma
Buffy Coat
Sel darah merah
Lilin Penyumbat
Nilai Hematokrit : 33 %
Nilai Plasma : 67 %
Pada pengamatan yang
kami lakukan dimana hematokrit pada ayam dapat kami peroleh 34 sehingga hal ini
tidak sesuai dengan diktat dan dapat ditarik
kesimpulan percobaan yang kami lakukan gagal.hal ini terjadi karena pada saat pengerjaan terjadi kesalahan pipa
kapiler yang dimasukkan kesentrifus seharusnya 2500 rpm selama 5 menit ternyata
tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Setelah dilakukan percobaan yaitu mensentrifus darah ayam,kambing dan sapi maka diperoleh nilai hematokritnya yaitu darah
ayam 20
%,hematokrit darah kambing 27% dan nilai hematokrit pada darah sapi 29 %. Nilai hematokrit pada darah ayam tidak normal yang
seharusnya batas normal ayam 22-35 % karena pada saat pengerjaan terjadi
kesalahan pipa kapiler yang dimasukkan kesentrifus seharusnya 2500 rpm selama 5
menit ternyata tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Seperti yang dinyatakan oleh (Hamurwono
GB, 2003.) yaitu nilai
hematokrit adalah persentase dari darah yang terdiri dari sel darah merah dan
nilai hematokrit yang normal pada sapi adalah 40 %.
Nilai
hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah
jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit
sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah
merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel
darah merah dengan komponen darah yang lain.
Dari tabel diatas dapat
dilihat bahwa nilai hematokrit setiap hewan berbeda-beda. Nilai hematokrit
ternak tersebut rata-rata tidak normal, karena tidak sesuai dengan nilai normal
hematokrit yang ditentukan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa factor
yaitu jenis kelamin, usia dan kesehatan. Metode
mikrohematokrit mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana. Metode
mikrohematokrit proporsi plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat
pembaca skala hematokrit.
Metode pemeriksaan
secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan
dicentrifuge dalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah
dan plasmanya terpisah dalam keadaan mapat. Prosentase volum kepadatan sel
darah merah terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan
hematokrit (Gandasoebrata, 2008).
Nilai hematokrit ialah
volum semua eritrosit dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam % volum darah
itu. Biasanya nilai itu ditentukan dengan darah kapiler atau darah vena (Gandasoebrata, 2008). Hematokrit
merupakan salah satu metode yang paling teliti dan simpel dalam deteksi dan
mengukur derajat anemia atau polisitemia. Nilai hematokrit juga digunakan untuk
menghitung nilai eritrosit rata-rata.
Pada sapi hematokritnya
adalah 43 tidak sesuai dengan nilai normal hematokrit, yang diakibatkan karena
pada chrrysta seal di letakkan tidak sesuai, sehingga nilainya tidak sesuai.
Gambar 8.Hemolisis pada sapi
Darah
yang ditetesi dengan NaCL 0,25 terjadinya pengkriputan sel darah ( krenasi ).
Terjadu hemolisis yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna merah cerah.
Gambar 9. Hemolisis pada kambing
Ditetesi
dengan NaCL 0,25 terjadinya pengkiputan ( krenasi) pada sel darah. Terjadinya
hemolisis dengan ditandai terjadinya warna keruh padda sel darah.
Gambar Hemolisis pada ayam
Darah
ditetesi NaCL 0,25 terjadinya
pengkriputan ( krenasi ) pada sel darah. Terjadinya hemolisi karna wana berubah
menjadi warna merah cerah.
Anonim (2000)
menyatakan juga bahwa Jika phi cairan < phi darah, maka cairan bersifat
hipotonik terhadap plasma darah. Hal ini menyebabkan net aliran pelarut air
dari cairan ke plasma darah. Akibatnya sel darah merah akan mengembang dan
dapat pecah sesuai juga dengan pendapat F. D. Frandson (2000) Adanya hemoglobin dalam darah
menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan hemoglobin tersebut merupakan
suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin
merah.
4.1.7 Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin
(Hb) merupakan pigmen eritrosit yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi
yang mengandung besi. Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen
(O2) maupun karbondioksida (CO2).Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke
sel-sel jaringan yang terdapat didalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi,
yang membutuhkan besi dalam bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi
tersebut menuju sumsum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna
membentuk eritrosit (Frandson, 2002).
Tabel 8 . Kadar
Hemoglobin Darah Sapi, Kambing dan Ayam
|
|
|
|
|
||||
|
Kelompok
|
Sapi
|
Ayam
|
Kambing
|
||||
|
1
|
11.6
|
11,3
|
11,1%
|
||||
|
2
|
8,8
|
7%
|
9,2%
|
||||
|
3
|
11
|
12%
|
12%
|
||||
|
4
|
10,8
|
7,2
|
19%
|
||||
Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa kadar hemoglobin ternak
berbeda-beda dan waktunya pun berbeda. Kadar hemoglobin jenis ternak semuanya
rata-rata normal, karena dapat dilihat dari kadar normal hemoglobin yang telah
ditentukan. Kadar hemoglobin pada umumnya diukur dalam gram per 100 ml darah.
Karena adanya hemoglobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih
banyak apabila dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Smith, 2008).
Gambar 10.Tabung sahli
Gambar
11. Hemometer
sahli
Diatas
merupakan alat-alat yang digunakan untuk mengukur hemoglobin,pada darah (sapi
dan ayam).
Pemeriksaan
hematologi digunakan untuk mengetahui sel-sel darah dan bagian-bagiannya
termasuk fungsi fisiologisnya, antara lain sel darah merah, sel darah putih,
trombosis dan lain sebagainya. Pemeriksaan
hematologi merupakan pemeriksaan rutin, digunakan untuk pemeriksaan sceening
awal maupun pemeriksaan lanjutan. Pada umumnya sampel darah diperoleh dari
darah kapiler dan darah vena. Komposisi darah kapiler sama dengan darah vena.
Darah kapiler pada umumnya diperoleh dari telinga dan
dikeluarkan menggunakan jarum suntik. Jumlah sel darah dapat dihitung dengan
menggunakan alat Hemocytometer, alat ini terdiri dari pipet dan kamar hitung,
ada dua macam pipet yang digunakan yaitu pipet yang mempunyai inti merah yang
digunakan untuk sel darah merah dan inti putih digunakan untuk menghitung sel
darah putih.
Pengamatan pada sel darah sangat dipengaruhi oleh tingkat
ketelitian seorang peneliti, karena pengamatan pada sel-sel yang saling
bertumpuk lebih sulit untuk dianalisis, namun demikian, sepanjang ciri khas yang
tetap masih tampak maka masalah tersebut masih dapat dipecahkan.
4.1.8 Menghitung Jumlah Sel Darah
Untuk menghitung jumlah sel darah merah dipergunakan
larutan pengencer yang dinamakan larutan hayem, hal ini sesuai dengan
pernyataan (Vander 2009),
yang menyatakan bahwa hitungan sel darah merah total ditentukan dengan
mengencerkan suatu jumlah darah dengan menggunakansuatu jenis pengencer. Larutan hayem
mempunyai komposisi 1 gram NaCl, 5 gram Na2SO4, 0,5 gram
HgCl2, dan 200 liter air. Kecuali berfungsi untuk mengencerkan darah
agar sel-sel darah tidak terlalu berdesakan sehingga mempermudahkan dalam
perhitungan, larutan hayem juga harus bersifat isotonik terhadap cairan didalam
sel darah merah dan harus dapat menghancurkan sel –sel darah lainnya yaitu sel
darah putih dan keping darah.
Gambar
12. Kamar hitung untuk menghitung Sel Darah
Menghitung Sel
Darah Merah
Menghitung
jumlah eritrosit yang terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah
karena sel-sel darah merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil
sehingga dibutuhkan seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer
dengan bantuan mikroskop. Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah
dibutuhkan juga ketelitian dan konsisten dalam cara menghitung. Penghitungan
sel-sel darah merah dihitung di dalam kamar hitung yang bersakala.
Adapun
hasil pengamatan menghitung jumlah sel darah merah pada praktikum ini dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 9. Jumlah sel darah merah pada ternak
|
Kel.
|
Jenis Ternak
|
Jumlah Eritrosit (per mm3darah)
|
|
1
|
Kambing
|
17.340.100
|
|
2
|
Sapi
|
11.200.000
|
|
3
|
Ayam
|
8.200.000
|
|
4
|
Kambing
|
4.910.000
|
|
|
|
|
Gambar 13. Menghitung jumlah Eritrosit
Perhitungan
:
-Pengenceran
di dalam pipet eritrosit adalah 200.
-Kedalaman kamar hitung o,1 mm, jadi harus dikalikan 10.
-sel darah merah dihitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm2, jadi untuk menghitung jumlah sel darah dalam 1 mm2 harus dikalikan 5.
-Denagn demikian factor pengalinya : 200x10x5 = 10.000.
-Apabial jumalh sel darah merah yang terhitung E, maka total sel darah mearah per mm3 = E x 10.000
-Kedalaman kamar hitung o,1 mm, jadi harus dikalikan 10.
-sel darah merah dihitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm2, jadi untuk menghitung jumlah sel darah dalam 1 mm2 harus dikalikan 5.
-Denagn demikian factor pengalinya : 200x10x5 = 10.000.
-Apabial jumalh sel darah merah yang terhitung E, maka total sel darah mearah per mm3 = E x 10.000
Dari tabel diatas dapat
dilihat bahwa nilai jumlah eritrosit setiap ternak berbeda-beda.Cara
perhitungan sel darah merah yaitu pengenceran didalam pipet eritrosit adalah
200 kali. Kedalaman kamar hitung 0,1 mm, jadi harus dikalikan 10. Sel darah
merah dihitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25 mm3,
jadi untuk menghitung jumlah sel darah dalam 1mm3maka harus
dikalikan 5.dengan demikian factor pengalinya adalah 200x10x5.
Prinsip
pemeriksaan ini adalah darah diencerkan dalam pipet eritrosit kemudian
dimasukkan dalam kamar hitung.Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu
dengan menggunakan faktor konversi jumlah eritrosit per ul darah.Sebagai
larutan pengencer digunakan larutan Hayem (Gandasoebrata,
2009). Menurut pendapat Aida (2005) menghitung
jumlah sel darah merah menggunakan alat, yaitu hemositometer dan
menggunakan larutan hayem. Larutan hayem digunakan untuk menghitung jumlah sel
darah merah, karena larutan ini dapat melisiskan seluruh sel yang ada di darah,
kecuali sel darah merah sehingga sel darah merah dapat dihitung.
Menghitung jumlah eritrosit yang
terkandung dalam darah memang bukan suatu hal yang mudah karena sel-sel darah
merah yang terkandung dalam darah berukuran sangat kecil sehingga dibutuhkan
seperangkat alat yang dinamakan dengan Haemocytometer dengan bantuan mikroskop.
Dalam proses penghitungan sel-sel darah merah dibutuhkan juga ketelitian dan
konsisten dalam cara menghitung. Penghitungan sel-sel darah merah dihitung di
dalam kamar hitung yang bersakala atau berukuran kecil dengan jumlah 40 buah. Contoh
gambar sel-sel darah yang terkandung di dalam kamar hitung.
Namun pada saat dilakaukan percobaan, banyak kendala yang
dialami karena keadaan alat yang kurang bagus. Jumlah eritrosit dalam darah
domba itu memiliki kisaran normal ±13,5 juta. Akan tetapi jumlah eritrosit yang
diperoleh dan dihitung dari percobaan yang telah dilakukan hanya mencapai 9,54
juta. Dalam praktikum yang lalu kami menggunakan mikroskop dengan perbesaran
10x, kami melihat banyak sekali bercak – bercak hitam berkumpul disekitar sel.
Selain itu, sel yang kami amati sangat berdekatan, ditambah lagi
penglihatan yang kurang akurat sehingga kami sulit menghitungnya.
Jumlah Eritrosit dipengaruhi genetik ( spesies, ras,
individual ) dan lingkungan ( pakan, iklim, penyakit, managerial ).
Hasil
data pada sel darah sapi sesuai dengan pendapat Ganong sedangkan pada hasil sel
darah merah ayam juga sesuai, karena menurut pendapat Ganong (2001)
sel darah merah pada sapi berkisar antara 5 – 10 juta per mm3, dan
pada ayam berkisar 2,7 – 3,8 juta per mm3.
Sel darah merah (RBC) merupakan komponen darah yang
terbanyak dalam satu mililiter darah. Setiap orang memiliki jutaan bahkan
miliaran sel darah merah dalam tubuhnya
Sel darah merah
berfungsi sebagai pengikat oksigen dan karbondioksida, hal ini sesuai dengan
pernyataan Frandson (2003), sel-sel darah merah atau eritrosis merupakan sel-sel
yang diameter rata-ratanya sebesar 7.5 dengan spesialisasi untuk pengangkutan
oksigen.
Perhitungan sel darah merah digunakan untuk menentukan
apakah kadar sel darah merah (anemia) atau tinggi (polisitemia). Pada
perhitungan sel darah merah, akan dinilai jumlah dan ukuran dari sel darah
merah. Secara umum, volume total darah mamalia umumnya berkisar 7 sampai 8
persen berat badan. Bahan antarsel atau plasma darah, berkisar antara 45 sampai
65% dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya 35 sampai 55% diisi sel darah
atau benda darah. Sel darah terdiri dari 3 macam: sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (leukosit) dan kepingan darah (trombosit). Darah termasuk
cairan intravaskuler yaitu cairan
merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Bagian darah yang padat meliputi
sel-sel darah merah, sel darah putih, dan keping-keping darah (Frandson,)
Menghitung Sel Darah Putih
Komposisi sel darah
putih dengan nilai normalnya yaitu Leukosit pada manusia memiliki nilai
normalnya 5000 – 10.000/μL, dimana leukosit terdiri dari granular meliputi
netrofil 60 – 70%, eosinofil 2 – 4%, basofil 0.5 – 1%; dan Agranular meliputi
limposit 20 – 25% dan monosit 3 – 8%
(Azhar, 2009).
Adapun hasil pengamatan menghitung jumlah sel darah putih
pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 10. Jumlah sel darah putih pada ternak
|
Kel.
|
Jenis Ternak
|
Jumlah Leukosit (per
mm3darah)
|
|
5
|
Kambing
|
19.200
|
|
6
|
Sapi
|
28.800
|
|
7
|
Ayam
|
18.600
|
|
8
|
Kambing
|
9.150
|
|
|
|
|
Gambar 14. Menghitung Jumlah Leukosit
Perhitungan
:
-Pengenceran
di dalm pipet leukosit adalah 20 kali.
-Kedalaman kamar hitung 1/10 mm.
-Sel darah putih di hitung pada 4 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1mm2.
-Untuk menghitung sel darah putih dalam 1 mm3, mak factor pengalinya adalah : 20x10x1/4 = 50.
-Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L, maka total sel darah putih per mm3 dara = L x 50.
-Kedalaman kamar hitung 1/10 mm.
-Sel darah putih di hitung pada 4 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1mm2.
-Untuk menghitung sel darah putih dalam 1 mm3, mak factor pengalinya adalah : 20x10x1/4 = 50.
-Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L, maka total sel darah putih per mm3 dara = L x 50.
Gambar 15. Kamar hitung eritrosit
darah sapi
|
15
|
|
|
|
23
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2330
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
37
|
|
|
|
52
|
Jumlah eritrosit sapi = R1+R2+R3+R4 = 15+23+20+37+52 =
147
Maka didapatkan total sel darah
merah per mm3 = E X 10.000
=147 X 10.000
=1470000
Gambar 16. Kamar hitung leukosit
darah kambing
|
49
|
|
50
|
|
|
||
|
45
|
|
39
|
Jumlah
leukosit kambing = L x 50, L = 49
+ 45 + 50 + 39 = 183
= 183 x 50
= 9.150
= 183 x 50
= 9.150
Dari tabel diatas dapat
dilihat bahwa nilai jumlah leukosit setiap ternak rata-rata berbeda.Cara
perhitungan sel darah putih (leukosit) yaitu pengenceran didalam pipet leukosit
adalah 200 kali.Kedalaman kamar hitung 1/10 mm. Sel darah putih dihitung pada 4
bujur sangkar yang masing-masing berukuran dalam 1 mm3. Untuk
menghitung sel darah putih dalam 1 mm3 maka factor pengalinya adalah
20x10x1/4=50. Apabila jumlah sel darah putih yang dihitung pada 4 bujur sangkar
adalah L, maka total sel darah putih per mm3 darah = L x 50.
Larutan yang digunakan
dalam menghitung jumlah sel darah putih yaitu larutan turk. Larutan turk adalah
larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel darah putih sehingga
mempermudah dalam perhitungannya, dimana larutan turk ini terdiri dari glacial
acetid acid 2 ml, gentian violet 1%, aquades 1 ml dan aquadestilata 100 ml (Azhar, 2009).
4.1.9
Diferensial Leukosit (Leukogram)
Darah dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital
yaitu suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup.
Sel-sel darah yang hidup dapat mengisap zat-zat warna yang konsentrasinya
sesuai dan akan berdifusi ke dalam sel darah tersebut, selanjutnya zat warna
akan mewarnai granula pada sel bernukleus polimorf (Anonim, 2012).
Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain
menilai berbagai unsur sel darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit
dan mencari adanya parasit seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain
sebagainya. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat
mutlak untuk mendapatkan hasil yang baik (Arjatmo
Tjokronegoro, 1996).
Dasar dari pewarnaan Romanowsky adalah penggunaan dua zat
warna yang berbeda yaitu Azur B (Trimetiltionion) yang bersifat basa dan eosin
y (tetrabromoflurescein) yang bersifat asam. Azur B akan mewarnai komponen sel
yang bersifat asam seperti kromatin. DNA dan RNA. Sedangkan eosin y akan
mewarnai komponen sel yang bersifat basa seperti granula eosinofil dan
hemoglobin. Ikatan eosin y pada Azur B yang bergenerasi dapat menimbulkan warna
ungu, dan keadaan ini dikenal sebagai efek Romanowsky giemsa efek ini sangat
nyata pada DNA tetapi tidak pada RNA sehingga menimbulkan kontras antara inti
yang berwarna untuk sitoplasma yang berwarna biru (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang
berasal dari kapiler atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada
keadaan tertentu dapat pula digunakan darah EDTA. (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).
Adapun hasil dari Diferensial Leukosit yang di dapatkan
adalah sebagai berikut :
Tabel11 . Jumlah Total Leukosit
|
No
|
Spesies darah
|
% Dari
Tabel Leukosit
Neutrofil Eosinofil Basofil
Limfosit k limfosit b Monosit
|
|
1
|
Sapi
|
0 7,69 11,53 30 30,76 11,52
|
|
2
|
Ayam
|
24,3 5,4 32,4 8,1 0 16,21
|
|
3
|
Kambing
|
22,58 3,22 6,45 0 10,81 3,22
|
|
4
|
Darah lk lk
|
43,17 12,5 8,75 6,25 12,5 6,25
|
|
5
|
Darh wanita
|
27,66 12,76 14,89 17,02 4,26 0
|
Kriteria
preparat yang baik :
- Lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda sehingga masih ada tempat untuk pemberian label.
- Secara granulapenebalannya nampak berangsur-angsur menipis dari kepala ke arah ekor.
- Ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek.
- Tidak berulang-ulang karena bekas lemak ada di atas kaca benda.
- Tidak terputus-putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu.
- Tidak terlalu tebal (karena sudut penggeseran yang sangat kecil) atau tidak terlalu tipis (karena sudut penggeseran yang sangat besar).
- Pewarnaan yang baik (Imam Budiwiyono 1995).
Jenis
Apusan darah:
- Sediaan darah tipis
Ciri-ciri
sediaan apus darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk
pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal, morfologinya lebih
jelas, dan perubahan pada eritrosit dapat terlihat jelas.
- Ciri-ciri sediaan apus darah tebal yaitu lebih banyak membutuhkan darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tipis, jumlah selnya lebih banyak dalam satu lapang pandang, dan bentuknya tak sama seperti dalam sediaan apus darah tipis (Imam Budiwiyono 1995).
Diferential Count (Hitung Jenis Leukosit)
Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang
diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah
mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis
sel darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan
mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam
sel/μL.
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran
100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis
leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan
darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu
dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak
boleh bergerombol (Ripani,2010).
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis
leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi
yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit,
monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan
informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit.
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis
sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai
relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/μl).
Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak
dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis
leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu
lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%.
Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari
10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/µl perlu dikoreksi. Berikut ini
merupakan beberapa hasil yang mungkin diperoleh pada hitung jenis leukosit:
Netrofilia
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai normal.
Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam
berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah
dan kelainan mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti
penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan
pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan
Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh
Salmonella typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia.
Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada
penderita yang lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak
disertai netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang
meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance
sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada
bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada
orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada penderita infeksi berat
tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya
granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri
atau shift to the left.
Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia
ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat
dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa
netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan
infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang
sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang
disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan
vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma
Eosinofilia
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai normal.
Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan
pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik
eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi
dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan
leukemia granulositik kronik.
Basofilia
Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai normal.
Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik
kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan
kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi
basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.
Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit
melebihi nilai normal.
Limfositosis dapat
disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa;
infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan
limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia
primer.
Monositosis
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi nilai normal.
Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik
akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus
eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit
infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur.
Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada
tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara
jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada
tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.
Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari nilai
normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu
meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil
dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena
drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan
merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat
terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid
dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak
diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa
dan rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
Limfopenia
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari nilai
normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada
penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat
disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan
kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan protein
losing enteropathy.
Eosinopenia dan lain-lain
Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal ini
dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan
infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan
dengan kortikosteroid.
Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil,
sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah
basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam
klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak
dijumlah basofil maupun eosinofil.
Evaluasi Darah Tepi
Evaluasi
darah atau disebut juga sebagai pemeriksaan gambaran darah tepi dapat dilakukan
di counting areal setelah melakukan pemeriksaan hitung jenis leukosit,
mula-mula dengan pembesaran 100X kemudian dengan pembesaran 1000 x dengan
minyak emersi selanjutnya dilihat masing-masing morfologi selnya. Pemeriksaan
hapusan darah tepi terdiri atas (Anonim,
2010)
Pemeriksaan dengan pembesaran kecil (objektif 10x).
- Penilaian kwalitet hapusan darah dan penyebaran sel-sel dalam hapusan.
s
Lapisan darah harus cukup tipis sehingga eryhtrosit dan leukosit jelas terpisah
satu dengan lainnya.
s
Hapusan tidak boleh mengandung cat.
s
Eryhtrosit, leukosit dan thrombosit harus tercat dengan baik.
s
Leukosit tidak boleh menggerombol pada akhir (ujung) hapusan.
- Penafsiran jumlah leukosit dan eryhtrosit, penaksiran penghitungan differential leukosit dan pemeriksaan apakah sel-sel ada yang abnormal. Dilakukan pada daerah area penghitungan dari bagian hapusan tempat eryhtrosit terletak berdampingan, tidak tertumpuk. Bila didapatkan 20-30 leukosit perlapang pandang kira-kira sesuai dengan junlah leukosit 5.000 dan 40-50 perlapang pandang sesuai dengan leukosit 10.000.
Pemeriksaan dengan menggunakan minyak imersi
(perbesaran 1000x)
a.Eryhtrosit
Penaksiran jumlahnya dan bagaimana morfologinya. Dillihat adanya eryhtrosit berinti dan dihitung jumlahnya pada 100 leukosit untuk mengkoreksi hitung leukosit cara Turk.
Penaksiran jumlahnya dan bagaimana morfologinya. Dillihat adanya eryhtrosit berinti dan dihitung jumlahnya pada 100 leukosit untuk mengkoreksi hitung leukosit cara Turk.
b.Leukosit
Penghitungan Differensial dan dicari kelainan morfologi. Dihitung dalam 100 sel leukosit dan dilihat adanya kelainan selnya.
Penghitungan Differensial dan dicari kelainan morfologi. Dihitung dalam 100 sel leukosit dan dilihat adanya kelainan selnya.
c.Thrombosit
Dilihat penyebaran, morfologi dan ukuran selnya. Hapusan yang baik thrombosit tidak menggerombol pada bagian akhir hapusan. Bila sukar ditemukan thronbosit berarti jumlahnya sedikit, bila terlihat banyak berarti terjadi peningkatan jumlah. Dilhat juga adanya giant cell yang berukuran 6-8 mikron.
Dilihat penyebaran, morfologi dan ukuran selnya. Hapusan yang baik thrombosit tidak menggerombol pada bagian akhir hapusan. Bila sukar ditemukan thronbosit berarti jumlahnya sedikit, bila terlihat banyak berarti terjadi peningkatan jumlah. Dilhat juga adanya giant cell yang berukuran 6-8 mikron.
d. Sel abnormal : Pemeriksaan morfologi. Kelainan-kelainan
dan variasi dari leukosit, erythrosit dan thrombosit perlu dicatat.
Metoda yang digunakan pada praktikum diferensial leukosit
adalah siapkan 2 buah object glass, pegang ujung objek glass dengan ibu jari
dan teunjuk kiri, letakan 1 tetes darah pada ujung object glass, dengan tangan
kanan, pegang object glass lainya. Kemudian letakan object glass tersebut pada
ujung object glass yang sudah ditetesi darah membentuk sudut .
Kemudian gerkan object glass yang ada di tangan kanan kebelakang sampai menyinggung
tetesan darah tadi, sehingga darah meneyabar sepanjang sudut antara kedua
object glass. Setelah darah menyebar dengan hati hati dorong kedepan object
glass ditangan kanan, maka terbentuklah preparat ulas. Setelah itu lakukan pewarnaan dengan cara preparat
ulas darah yang sudah dikeringkan diudara difiksasi dengan memasukanya kedalam
methanol selam 5 smpai 10 menit, angkat dan biarkan kering diudara kemudian
masukkan ke dalam larutan zat warna giemsa, biarkan selama 30 menit, angkat
preparat dan bilas, kelebihan zat warna dengan menggunakan air karan yang
mengalir, kemudian keringkan diudara atau menggunakan kertas isap. Setelah itu
periksa preparat yang suah diwarnai di tetesi minyak emersi dan diamati dengan
mikroskop dengan perbesaran 100x.
Leukosit
adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Di
dalam darah manusia normal, didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-9sel/mm,
bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang
dleukopenia. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putihmempunyai granu
(granulosityang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengahsitoplasmanya dan
mempunyai bentuk inti yang bervariasi, yang tidak mempunyaigranula,
sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal.Terdapat dua
jenis leukosit agranuler : linfosit sel kecil, sitoplasma sedikit;monosit sel
agak besar mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat tiga jenisleukosir
granular : Neutrofil, Basofil, dan Asidofil (atau eosinofil) yang dapatdibedakan
dengan afinitas granula terhadap zat warna netral basa dan asam.
Granula
dianggap spesifik bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosittertentu
dan pada sebagian besar precursor (pra zatnya)..Peningkatan jumlah monosit
(disebut monositosis) dapat dijumpai pada : penyakit virus (mononucleosis
infeksiosa, parotitis, herpes zoster), penyakit parasitic (demam bintik
Rocky Mountain, toksoplasmosis, bruselosis), leukemiamonositik, kanker, anemia
(sel sabit, hemolitik), SLE, arthritis rheumatoid, colitisulseratif.Penurunan
jumlah monosit dapat dijumpai pada leukemia limfositik, anemiaaplastik.Limfosit
berperan penting dalam respons imun sebagai limfosit T danlimfosit B. Dalam
keadaan normal, jumlah limfosit berkisar 25-35 % atau 1.7-3.5x10^3/mmk. Jumlah
limfosit meningkat (disebut limfositosis) terjadi pada infeksikronis dan virus.
Limfositosis berat umumnya disebabkan karena leukemialimfositik kronik.
Limfosit mengalami penurunan jumlah (disebut leukopenia)selama terjadi sekresi
hormon adenokortikal atau pemberian terapi steroid
yang berlebihan.Peningkatan jumlah limfosit dijumpai pada leukemia
limfositik, infeksi virus(mononucleosis infeksiosa, hepatitis, parotitis,
rubella, pneumonia virus, myelomamultiple, hipofungsi adrenokortikal.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari praktikum waktu
perdarahan dan waktu beku darah yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa
waktu perdarahan pada praktikan ada yang normal dan ada yang tidak normal.
Waktu perdarahan ini di pengaruhi oleh kondisi kesehatan dari praktikan.
Sedangkan pada waktu beku darah pada praktikan tersebut tidak ada yang normal.
Karena tidak terbentuk benang-benang putih (fibrin) pada darah praktikan. Pada proses
koagulasi darahtidak didapatkan benang fibrin hingga darah hampir menggumpal.
Proses koagulasi darah setiap individu manusia berbeda-beda sesuai dengan
golongan darah masing-masing dikarenakan setiap golongan darah meniliki
antibodi yang berbeda-beda.
Dari praktikum laju
endap darah dan hemolisis yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa
terjadi penurunan darah setiap 30 menit yang dipengaruhi oleh factor perubahan
plasma darah (kekentalan/viskositas plasma), jumlah sel darah merah dan
tegangan permukaan. Pada praktikum hemolisis, terjadi hemolisis pada campuran
darah sapi dengan NaCL berkonsentrasi 0,25% dan 0,45%. Sedangkan pada preparat
natif darah pada darah sapi terdapat leukosit yang ditandai dengan warna ungu,
eritrosit dan trombosit yang ditandai dengan warna kebiru-biruan dilihat dengan
pembesaran mikroskopi 40x. Sel darah mamalia berbeda dengan sel darah unggas.
Sel darah merah mamalia mempunyai bentuk seperti cakram, bikonkaf, sirkular dan
tidak berinti. Sedangkan sel darah merah unggas berbentuk lonjong (oval) dan
berinti.
Dari praktikum
hematokrit yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penentuan nilai
hematokrit ada 2 metode, yaitu metode makro hematokrit dan metode mikro
hematokrit. Nilai hematokrit setiap ternak berbeda-beda. Faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai hematokrit yaitu usia, jenis kelamin dan kesehatan.
Sedangkan pada praktikum hemoglobin dapat disimpulkan bahwa kadar hematokrit
ternak berbeda-beda. Metode yang digunakan yaitu metode sahli yang dengan
prinsip yaitu Hb didalam darah diubah
menjadi hematin asam yang berwarna coklat dengan penambahan HCl encer (0,1N).
Dari praktikum
menghitung jumlah sel darah dapat disimpulkan bahwa jumlah sel darah pada tiap
ternak berbeda. Hal ini dipengaruhi opleh factor spesies, jenis kelamin,
kesehatan, dan umur. Larutan pegencer yang digunakan pada tiap ternak juga
berbeda-beda, misalnya larutan hayem untuk eritrosit, larutan turk untuk
leukosit mamalia dan laritan BCB untuk leukosit unggas.
Dari
praktikum diferensial leukosi (leukogram) dapat disimpulkan bahwa bahwa bentuk
sel leukosit dibagi menjadi 2, yaitu granulosit dan agranulosit. Dimana pada
bentuk sel granulosit terdiri dari neutrofil, eosinofil dan basofil, sedangkan
pada sel leukosit agranulosit terdiri dari limfosit kecil, limfosit besar dan
monosit. Dan pada praktikum yang praktikan lakukan, sel leukosit yang dilihat
pada mikroskop tidak begitu jelas yang dikarenakan terlalu tebal nya lapisan
darah yang di tetesi pada object glass, sehingga bentuk-bentuk sel pada sel leukosit tidak
begitu jelas.
5.2 Saran
Dari kesimpulan
diatas sebaiknya praktikan lebih serius dalam pelaksanaan praktikum. Lebih
teliti dalam menghitung jumlah sel darah pada kamar hitung. Mendengarkan dengan
baik ketika asdos menjelaskan. Harus lebih disiplin dan berhati-hati di dalam melakukan
praktikum agar praktikum berjalan dengan lancar dan hasil yang diperoleh pun memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Sadi dan Hussein 2010. Dasar-Dasar
Histologi. Ed ke-8 Terjemahan Wisnu Gunarso. Erlangga. Jakarta.
Ahmadi,
S. A. 2010. Sel Darah Merah (Eritrosit). http://www.syiham.co.cc
Aida,
Yuniarti, 2005, Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi UAJY, Yogyakarta.
Anonim. 2009. Sistem pencernaan. http://dunia2009.blogspot.com. Anonim. 2011. Saluran Pencernaan
Kambing. www. bali-baliqu.blogspot.com
Anonim. 2010. Apusan Darah. http://wulanthestarshine.wordpress.com/2010/05/28/apusan-darah.
http://wulanthestarshine.wordpress.com/2010/05/28/apusan-darah.
Azhar,
M. 2009. Fisiologi III dan IV. http://manusia-planet.blogspot.com
Bajpai.
2009. Kapita Selekta Hematologi, Edisi Empat. EGC : Jakarta.
Budiwiyono,
dkk, 2005.Manual Kesehatan Unggas.Kanisius.Yogyakarta.
Buku Ajar
Kimia Keperawatan. Banjarbaru: UNLAM, 2009
Campbell,
N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi. edisi 5. jilid 3.
Alih Bahasa: Wasman manalu. Erlangga. Jakarta.
Cormack.
2008. Histologi veterinner. UI Press : Jakarta.
Dedy.2009.Fisiologi
Jantung & Pembuluh Darah.In www.sidenreng.com
Despopoulos,
Agamemnon.2003.Ed. 5. Color Atlas
of Physiology.Jerman:
Georg Thieme
Verlag.
Dsyoghi,2010.Waktu
Koagulasi dan Waktu Pendarahan. \http://dsyoghi.wordpress.com
Ethel
Sloane,2004. Anatomi dan
Fisiologi Ternak IV. Gadjah Mada Press.Yogyakarta.
Febrinanda,
2008. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Prees. Yogyakarta.
Frandson, R.D. 2000.Anatomi dan Fisiolog Ternak Edisi ke 4.
Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Frandson, R. D. 2002. Anatomi dan
Fisiologi ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Frandson,
R.D. 2003.Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4.Gadjah Mada University
Press.Yogyakarta.
Gandasoebrata R, 2007. Penuntun
Laboratorium klinik. Jakarta: Dian Rakyat
Gandasoebrata
R. 2009. Penuntun Laboratorium Klinik, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.
Ganong,
William F.2002.Ed. 20.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta. EGC.
Guyton,
Arthur C. 2005. Fisiologi Manusia dan Mekanismenya terhadap Penyakit. EGC
Penerbit Buku kedokteran. Jakarta.
Guyton,
Arthur.2006.Ed. 11.Text Book of Medical Physiology.Cina:Elsevier
Saunders.
Harmoko.2010.Makalah
Anatomi dan Fisiologi Darah Manusia.In
www.nsharmoko.blogspot.com.
18 Mei 2013
Hendrayani.
2007. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press : Jakarta.
Hermanto,
Edy.2010. Fisiologi Cardiovascular .inwww.materi-kuliah-akper
blogspot.com. 18 Mei 2013
Indah.
2008. Sistem yang Sempurna : Pembekuan Darah
Khairul
Osman. 2007. Gangguan Pendarahan. Jakarta: Essential Hematology.
Kimball.2002. Anatomi dan Fisiologi
ternak. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Kimball,
John W., 2008. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 2. Alih Bahasa: Siti Soetarmi
Tjitrosomo dan Nawangsari Sugiri. Erlangga. Jakarta.
Lehninger. 2004. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. .
Jakarta:Erlangga.
Miale
JB.2002. Laboratory Medicina Hematology. 4th .Ed. St. Louis; The C.V.
Mosby Companya, 1972; p 759Moca.2010.Hipertensi.In www.mocacandy.blogspot.com.18
Mei 2013
Nurmila, W. 2008. Laporan Fisiologi
Harvard. http://odhemila.blogspot.com. 18 Mei 2013.
Poedjiadi, Anna. 2004. Dasar-dasar
Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Praseno, K., Isroli, dan Bambang S.
2003. Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan Universitas
Diponegoro. Semarang.
Puzzy, The Agra. 2009. Pemeriksaan
Koagulasi. http://agrapuzzy-perfect.blogspot.com.
Rabe.T.2003.Ilmu
Kebidanan.Hipokreates: Jakarta
Raharjo.2008. Fisiologi Ternak. Semarang:Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro.
Sacher, 2004. Tinjauan Klinik Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Edisi 11, EGC. Jakarta
Sarkar & Devi.
2006. Konsentrasi Sel Darah. EGC : Jakarta.
Schmid,
K. and Friends. 2007. Animal Physiology: Adaptation and Environment. Cambridge
University Press. USA.
Shier, David.2004..Edisi 20. Hole'S
Human Anatomy &Physiology .New York Srikini. 2000. Anatomi dan
Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Smith. 2008. Pemeliharaan, Pembiakan,
dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis . Universitas
Indonesia: Jakarta.
Syaifuddin.2009.Ed.
2.Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa
Keperawatan.Jakarta:Salemba
Medika.
Taylor,
Sheller E.2003.Health Psychology.Amerika Utara:McGraw-Hill.
Thenawijaya, M. 2005. Uji Biologi. Erlangga: Jakarta
Watson.
2007. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. EGC : Jakarta.
Wibowo, Fredi.
2009. Proses Penggumpalan Darah
Widarto,
Heru. 2007. Fakta tubuh . Jakarta: Erlangga.
Wirawan.R,2002. Pemeriksaan :
Laboratorium Hematologi Sederhana. Jakarta: FK VI – RSCM
LAMPIRAN
PEMERIKSAAN
HEMATOLOGI
Preparat
Natif Darah
Sel Darah Merah Mamalia Sel Darah Merah Unggas
Gambar sel darah putih mamalia
Sel Darah Putih
Unggas
Waktu Perdarahan
Gambar tangan pada saat di tusuk jarum
Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritrosit
Tabung reaksi yang berisi larutan NaCl dan Darah (sapi,kambing dan ayam)
Hemolisis pada kambing
. Hemolisis pada ayam
Menghitung
jumlah sel darah
Gambar . Menghitung Jumlah Leukosit
Diferensial Leukosit (Leukogram)
Pembagian Sel Leukosit
Bentuk Neutrofil Bentuk Eosinofil
Bentuk Basofil Bentuk monosit
Bentuk Limfosit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar